Berbakti kepada Orang Tua: Jalan Menuju Surga

Berbakti kepada Orang Tua: Jalan Menuju Surga
*) Oleh : Dr. Muhammad Nasri Dini
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Klaten
www.majelistabligh.id -

Berbakti kepada orang tua atau birrul walidain merupakan salah satu amal saleh yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah untuk hanya menyembah-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا ۗ
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”(QS. Al-Isra’: 23)

Ayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua dalam Islam. Terlebih ketika mereka telah lanjut usia dan membutuhkan perhatian, kasih sayang, serta bantuan dari anak-anaknya.

Selama orang tua masih hidup, sebenarnya seorang anak memiliki kesempatan besar untuk meraih pahala. Merawat mereka, memenuhi kebutuhannya, berbicara dengan lembut, menghormati, dan membantu ketika mereka membutuhkan merupakan bagian dari birrul walidain.

Berbakti kepada Orang Tua adalah Jalan Menuju Surga
Salah satu keutamaan terbesar berbakti kepada orang tua adalah menjadi sebab seseorang mendapatkan surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ
“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.”

Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab:
مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Orang yang mendapati kedua orang tuanya ketika telah lanjut usia, salah satu dari keduanya atau keduanya, kemudian ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan besarnya kesempatan seorang anak ketika masih memiliki orang tua, terutama ketika mereka sudah lanjut usia.

Merawat orang tua mungkin membutuhkan kesabaran dan pengorbanan. Namun, bagi seorang Muslim, kesempatan tersebut merupakan ladang amal yang sangat berharga. Jangan sampai seseorang justru menganggap orang tua yang sudah tua sebagai beban.

Berbakti kepada Orang Tua dan Keberkahan Rezeki
Berbakti kepada orang tua juga termasuk amal yang dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjalin silaturahim dengan kerabatnya.” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya memberikan manfaat kepada mereka. Birrul walidain juga merupakan salah satu amal yang dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan seorang anak.

Karena itu, ketika mendapatkan rezeki, jangan lupa orang tua. Ketika memiliki kemampuan, bantulah mereka. Ketika mereka membutuhkan perhatian, luangkan waktu untuk menemani.

Berbakti kepada Orang Tua sebagai Jalan Kebaikan dan Taubat
Berbuat baik kepada orang tua juga menunjukkan luasnya pintu kebaikan yang Allah ﷻ berikan kepada seorang hamba.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengaku telah melakukan dosa besar. Ia bertanya apakah masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Nabi ﷺ kemudian bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau bertanya apakah ia masih memiliki kedua orang tua. Orang tersebut menjawab bahwa keduanya telah meninggal.

Nabi ﷺ kemudian bertanya apakah ia memiliki bibi dari pihak ibu. Setelah dijawab bahwa ia masih memiliki bibi, beliau ﷺ bersabda:

فَبِرَّهَا
“Kalau begitu, berbaktilah kepadanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban; dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini menunjukkan bahwa pintu kebaikan tetap terbuka. Ketika seseorang sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, ia masih dapat berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan dekat dengan mereka.

Maka, jangan hanya berbakti kepada orang tua ketika mereka masih hidup. Setelah mereka meninggal pun, seorang anak dapat terus berbuat baik, di antaranya dengan mendoakan mereka dan menjaga hubungan baik dengan kerabat mereka.

Kisah Berbakti kepada Orang Tua yang Menjadi Sebab Pertolongan Allah
Salah satu kisah yang sangat terkenal dalam hadis adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua.

Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa tiga orang dari umat sebelum kita melakukan perjalanan. Ketika malam tiba, mereka masuk ke sebuah gua untuk berlindung. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dan menutup pintu gua sehingga mereka tidak dapat keluar.

Mereka kemudian sepakat untuk berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebut amal saleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas.

Salah seorang di antara mereka menyebutkan amalnya dalam berbakti kepada kedua orang tua.

Ia memiliki kedua orang tua yang telah lanjut usia. Setiap kali membawa minuman, ia selalu mendahulukan kedua orang tuanya sebelum keluarga dan orang lain yang berada di bawah tanggungannya.

Suatu malam, ia pulang terlambat setelah mencari kayu. Kedua orang tuanya ternyata telah tertidur. Ia pun memerah susu untuk mereka. Karena tidak ingin mendahulukan siapa pun daripada kedua orang tuanya, ia menunggu sambil memegang gelas susu tersebut sampai mereka terbangun.

Setelah keduanya bangun, ia memberikan susu tersebut kepada mereka.

Kemudian ia berdoa kepada Allah ﷻ:

“Ya Allah, jika aku melakukan semua itu semata-mata karena mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesulitan yang sedang kami hadapi.”

Setelah itu, batu yang menutup gua bergeser sedikit. Namun mereka belum dapat keluar. Kisah ini kemudian berlanjut hingga akhirnya mereka mendapatkan pertolongan Allah.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa amal berbakti kepada orang tua merupakan amal yang sangat besar nilainya apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah ﷻ.

Harta Anak dan Hak Orang Tua
Dalam pembahasan tentang hubungan anak dan orang tua, terdapat hadis Rasulullah ﷺ:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ
“Engkau dan hartamu milik orang tuamu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini tidak berarti bahwa orang tua bebas mengambil seluruh harta anak tanpa batas. Para ulama menjelaskan adanya ketentuan dan batasan dalam pemanfaatan harta anak.

Di antaranya, orang tua tidak boleh mengambil harta anak dengan cara yang menimbulkan mudarat, tidak mengambil sesuatu yang sangat dibutuhkan anak untuk kebutuhan pokoknya, tidak mengambilnya untuk diberikan kepada anak lain secara zalim, serta tidak menggunakannya untuk perbuatan mubazir.

Yang lebih penting, hadis tersebut mengingatkan seorang anak agar tidak merasa berjasa kepada orang tua hanya karena telah memberikan sebagian hartanya.

Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang mengeluhkan kepada seorang syaikh bahwa ibunya tinggal di rumahnya dan kemudian terjadi persoalan antara ibunya dengan istrinya.

Sang syaikh justru meminta agar pertanyaan tersebut diulangi. Setelah beberapa kali diulangi, sang syaikh mengatakan bahwa cara pandang anak tersebut perlu diperbaiki.

Menurut sang syaikh, bukan ibunya yang hidup menumpang di rumah anaknya. Justru sang anaklah yang sejak dahulu hidup dalam kebaikan dan pengorbanan ibunya. Rumah yang ditempati sekarang mungkin milik sang anak, tetapi dahulu sang ibu telah menghabiskan waktu, tenaga, harta, dan kenyamanannya untuk membesarkan anak tersebut.

Kisah ini menjadi pengingat agar seorang anak tidak mudah merasa telah berjasa kepada orang tua hanya karena memberikan tempat tinggal, makanan, atau harta.

Bukankah dahulu orang tua merawat kita ketika kita belum mampu melakukan apa-apa?

Mereka menggendong kita, memberi makan, menjaga ketika sakit, mendidik, dan mengorbankan banyak hal agar kita dapat tumbuh dengan baik.

Maka, ketika mereka telah tua dan membutuhkan bantuan kita, jangan menjadikan mereka sebagai beban.

Jangan Sia-siakan Kesempatan Berbakti kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua bukan sekadar memberikan uang atau memenuhi kebutuhan mereka. Birrul walidain juga diwujudkan dengan berbicara lembut, menghormati, membantu pekerjaan mereka, menjaga perasaan, memberikan perhatian, dan mendoakan mereka.

Jangan mudah mengeluh ketika harus merawat orang tua yang telah lanjut usia. Justru pada masa itulah kesempatan untuk mendapatkan pahala melalui birrul walidain semakin terbuka.

Rumah yang kita miliki, harta yang kita kumpulkan, pekerjaan yang kita banggakan, dan kesuksesan yang kita rasakan tidak seharusnya membuat kita lupa kepada dua orang yang dahulu merawat kita ketika kita belum memiliki apa-apa.

Berbaktilah kepada orang tua selama mereka masih hidup.

Sebab, ketika kesempatan itu telah pergi, penyesalan tidak akan mampu mengembalikannya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search