Bersatu Bukan Berarti Seragam: Sumpah Pemuda, Ukhuwah dan Keadilan

Bersatu Bukan Berarti Seragam: Sumpah Pemuda, Ukhuwah dan Keadilan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

#Merawat Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Basyariyah dalam Semangat Persatuan Indonesia

Apa arti persatuan jika perbedaan masih menjadi alasan untuk mendiskriminasi? Apa makna persaudaraan jika keadilan hanya berpihak kepada kelompok sendiri?

Pertanyaan ini layak kita renungkan setiap memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebab, persatuan tidak cukup diucapkan dalam ikrar, diperingati melalui upacara, atau dituliskan dalam semboyan. Persatuan harus hadir dalam cara kita memperlakukan sesama, menyikapi perbedaan, mengambil keputusan, dan menegakkan keadilan.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang daerah, suku, dan organisasi, tetapi mampu melampaui sekat-sekat perbedaan demi cita-cita kebangsaan bersama. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting yang mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk membangun masa depan bersama.

Semangat tersebut sejalan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Namun, persatuan bukanlah penyeragaman. Kita tidak harus memiliki agama, tradisi, pandangan, atau kebudayaan yang sama untuk hidup berdampingan sebagai satu bangsa. Yang dibutuhkan adalah kesediaan saling menghormati, menaati kesepakatan bersama, dan memperjuangkan keadilan bagi seluruh warga negara.

Dalam perspektif Islam, semangat ini dapat dipahami melalui tiga dimensi persaudaraan, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Ketiganya dikenal luas dalam pemikiran keislaman Indonesia, terutama melalui gagasan KH. Achmad Shiddiq tentang trilogi ukhuwah.

Ukhuwah Islamiyah merupakan persaudaraan sesama Muslim yang berlandaskan iman. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu.”

Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan tidak cukup berhenti pada pengakuan identitas. Persaudaraan harus diwujudkan melalui upaya mendamaikan perselisihan, menjaga kehormatan, menghindari kezaliman, dan membangun kehidupan yang harmonis. Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan atau memutus hubungan persaudaraan.

Sementara itu, ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan dalam kehidupan berbangsa. Ikatan kebangsaan menyatukan warga yang memiliki latar belakang agama, suku, bahasa, dan budaya yang beragam. Sebagai sesama warga Indonesia, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kedamaian, membangun pendidikan, mengatasi kemiskinan, dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

Al-Qur’an memberikan landasan penting bagi hubungan sosial yang adil melalui QS. Al-Mumtahanah ayat 8:

أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“… agar kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak dengan sendirinya menjadi alasan untuk menolak kebaikan dan keadilan. Dalam kehidupan berbangsa, kita dapat bekerja sama untuk kepentingan bersama tanpa harus menyamakan seluruh keyakinan. Menolong korban bencana, menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan membangun kesejahteraan merupakan contoh tindakan yang dapat mempertemukan warga dari berbagai latar belakang.

Adapun ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan sesama manusia. Landasannya dapat ditemukan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, ketika Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Keberagaman bangsa dan suku merupakan kenyataan kehidupan manusia yang seharusnya mendorong sikap saling mengenal, bukan saling merendahkan. Ukhuwah basyariyah memperluas kepedulian kita kepada sesama manusia tanpa menjadikan perbedaan identitas sebagai alasan untuk menghilangkan martabat dan haknya.

Ketiga dimensi ukhuwah ini memiliki lingkup yang berbeda, tetapi dapat saling menguatkan. Seorang Muslim dapat teguh dalam keyakinan agamanya, bertanggung jawab terhadap bangsanya, sekaligus menghormati kemanusiaan orang lain. Menjaga identitas keagamaan tidak harus melahirkan permusuhan terhadap sesama warga negara. Sebaliknya, mencintai tanah air juga tidak mengharuskan seseorang meninggalkan keyakinan agamanya.

Persoalannya, persatuan sering kali hanya dituntut dari kelompok yang berbeda, sedangkan ketidakadilan yang dilakukan kelompok sendiri justru dibiarkan. Kita ingin dihormati, tetapi terkadang enggan menghormati. Kita menuntut perlakuan adil, tetapi terkadang membenarkan perlakuan tidak adil ketika menguntungkan kelompok sendiri. Sikap seperti ini bertentangan dengan semangat persatuan yang seharusnya dibangun di atas kesetaraan martabat dan tanggung jawab bersama.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Keadilan tidak boleh bergantung pada kedekatan, kesamaan identitas, atau kepentingan kelompok. Jika seseorang melakukan kesalahan, kesalahannya harus dinilai secara objektif. Jika seseorang mengalami ketidakadilan, haknya perlu diperhatikan tanpa prasangka terhadap latar belakangnya. Persatuan yang sehat tidak menutup ruang kritik, tetapi menyediakan ruang dialog untuk memperbaiki keadaan.

Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kita dapat memulainya dengan tidak mengejek suku atau agama lain, tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi, menolak perundungan, dan tidak ikut menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Di lingkungan masyarakat, kita dapat membangun gotong royong, membantu tetangga yang kesulitan, dan bekerja sama dalam kegiatan sosial tanpa menjadikan perbedaan sebagai penghalang.

Lebih dari itu, kita perlu berani membela keadilan meskipun pihak yang melakukan kesalahan berasal dari kelompok sendiri. Kita juga perlu membiasakan diri mendengarkan pendapat yang berbeda, menyampaikan kritik dengan santun, serta menilai persoalan berdasarkan fakta dan prinsip keadilan. Perubahan besar sering kali bermula dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan hanya warisan sejarah, melainkan amanah bagi generasi hari ini. Sila Persatuan Indonesia bukan sekadar rumusan dasar negara, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan. Sementara itu, trilogi ukhuwah mengingatkan kita bahwa persaudaraan harus diwujudkan melalui iman, tanggung jawab kebangsaan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Bersatu bukan berarti seragam. Berbeda bukan berarti bermusuhan. Persaudaraan bukan berarti membenarkan ketidakadilan.

Mari kita jadikan Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita selama ini memperkuat persatuan atau justru memperlebar perpecahan? Apakah kita telah memperlakukan orang lain secara adil, termasuk mereka yang berbeda dari kita?

Menurut Anda, tindakan konkret apa yang paling mendesak dilakukan untuk mewujudkan persatuan tanpa diskriminasi di Indonesia? Apakah dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan keagamaan, kebijakan publik, atau perilaku kita di media sosial?

Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar. Mari berdiskusi dengan santun, saling menghormati, dan terbuka terhadap gagasan yang berbeda. Bagikan tulisan ini agar semakin banyak orang tergerak menjadikan persatuan sebagai tindakan nyata.

Indonesia tidak cukup hanya dipersatukan oleh ikrar. Indonesia harus dirawat dengan keadilan, diperkuat dengan persaudaraan, dan dibangun melalui tindakan nyata seluruh warganya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search