“Bukan Allah yang terlambat” mengandung makna spiritual yang dalam. Ia mengajak kita untuk merenungi bahwa keterlambatan, ketidaktepatan waktu, atau penantian yang terasa panjang bukanlah karena Allah lalai atau tidak peduli. Justru, dalam banyak tradisi Islam, waktu Allah adalah sempurna. Dia Maha Mengetahui kapan sesuatu harus terjadi.
Makna reflektif dari kalimat ini:
* Allah tidak pernah salah waktu. Yang sering keliru adalah harapan kita yang terburu-buru atau tidak selaras dengan hikmah-Nya.
* Penundaan bukan penolakan. Kadang Allah menunda sesuatu karena ada kebaikan yang belum siap kita terima, atau ada pelajaran yang harus kita pahami dulu.
* Ujian waktu adalah ujian iman. Menunggu dengan sabar adalah bentuk kepercayaan bahwa Allah tahu yang terbaik.
“Bukan Allah yang terlambat” adalah pernyataan yang sarat makna teologis dan spiritual. Ia mengandung pengakuan mendalam bahwa Allah Maha Sempurna dalam pengaturan waktu dan takdir, dan bahwa keterlambatan yang kita rasakan sering kali berasal dari keterbatasan pemahaman dan kesabaran kita sebagai manusia.
Makna Teologis dan Spiritualitas:
1. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana
* Dalam Islam, Allah adalah Al-‘Alim (Maha Mengetahui) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana). Segala sesuatu yang terjadi, termasuk waktu datangnya pertolongan, rezeki, atau jawaban doa, telah ditentukan dengan ilmu dan hikmah-Nya.
* “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
2. Waktu Allah Bukan Waktu Kita
* Kita hidup dalam dimensi waktu yang terbatas, sedangkan Allah berada di luar ruang dan waktu. Maka, “terlambat” adalah persepsi manusia, bukan kenyataan bagi Allah.
* Apa yang kita anggap lambat, bisa jadi adalah waktu terbaik menurut Allah untuk membentuk kita, menguatkan kesabaran, atau menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Beberapa ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa waktu menurut Allah berbeda dari waktu manusia, menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana dalam menentukan kapan sesuatu terjadi.
QS. Al-Hajj: 47
وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
Artinya: Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
* Ayat ini menegaskan bahwa dimensi waktu Allah berbeda dari waktu manusia. Seribu tahun menurut manusia hanyalah satu hari bagi Allah.
* Ini menunjukkan bahwa Allah tidak terikat oleh waktu, dan bahwa penantian manusia bukanlah keterlambatan dari sisi-Nya.
QS. As-Sajdah: 5
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗٓ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
Artinya: Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (segala urusan) itu naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.
* Ayat ini memperkuat bahwa pengaturan Allah berjalan dalam sistem waktu yang tidak bisa disamakan dengan waktu manusia.
* Penundaan menurut manusia bisa jadi adalah proses pengaturan yang sempurna menurut Allah.
QS. Al-Ma’arij: 4
تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ
Artinya: Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
* Ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual dan pengaturan ilahi memiliki skala waktu yang jauh melampaui pemahaman manusia.
* Maka, jika kita merasa Allah “terlambat”, sebenarnya kita sedang mengukur dengan alat yang tidak tepat.
Refleksi dari Ayat-Ayat Ini
* Allah tidak pernah terlambat. Yang ada hanyalah ketidaksiapan kita menerima waktu-Nya.
* Waktu Allah adalah waktu yang penuh hikmah, bukan sekadar kronologi.
* Dalam penantian, kita diajak untuk menguatkan iman, memperbaiki niat, dan berserah diri.
Makna Psikologis dan Reflektif:
1. Ujian Keimanan dan Kesabaran
* Penantian adalah ladang subur bagi iman. Dalam masa-masa menunggu, kita diuji: apakah kita tetap husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah, atau justru berburuk sangka?
* Kalimat ini mengajak kita untuk mengalihkan fokus dari “mengapa belum terjadi?” menjadi “apa yang sedang Allah ajarkan padaku?”
2. Mengikis Ego dan Keinginan Duniawi
* Terkadang kita merasa Allah “terlambat” karena kita mengukur segalanya dengan keinginan pribadi, bukan dengan kebutuhan ruhani.
* Kalimat ini mengingatkan bahwa Allah tidak tunduk pada kehendak kita, justru kita yang perlu tunduk pada kehendak-Nya. (*)
