Pernahkah Anda berada di posisi ketika mencoba memperbaiki salat, mulai memilah makanan yang halal, atau berusaha menjaga lisan, tetapi justru mendapat celetukan dari orang sekitar? “Alah, sok suci banget sekarang!” atau “Gaya banget, kayak yang paling bener aja.”
Kata-kata semacam itu sering kali terasa menusuk dan sanggup meruntuhkan niat baik yang baru tumbuh. Di era di mana perubahan ke arah yang lebih baik kadang dicurigai sebagai pencitraan, mempertahankan istiqamah memang bukan perkara mudah. Padahal, keputusan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik bukanlah tanda bahwa ia merasa lebih suci dari orang lain.
Hijrah adalah Proses, Bukan Garis Finis
Banyak orang salah mengerti. Mereka menganggap orang yang sedang belajar beragama harus langsung menjadi sosok yang sempurna tanpa cela. Padahal, hakikat dari perbaikan diri (tazkiyatun nafs) adalah perjalanan seumur hidup.
Seseorang yang mulai memakai pakaian lebih tertutup, rajin ke masjid, atau menjauhi maksiat tidak sedang mengumumkan bahwa dirinya bebas dari dosa. Justru sebaliknya ia sadar betul betapa bertumpuknya dosa yang pernah dilakukan, sehingga ia merasa butuh segera mengetuk pintu ampunan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Menjadi lebih baik bukan berarti kita tidak pernah salah lagi, melainkan kita memilih untuk bangkit dan memperbaiki diri setiap kali jatuh ke dalam lubang kesalahan.
Berbenah Diri Bukan Berarti Menilai Orang Lain
Mengapa perubahan seseorang kerap dicap “sok suci”? Sering kali karena timbul rasa tidak nyaman atau asumsi bahwa orang yang berubah tersebut sedang menghakimi mereka yang belum berubah.
Padahal, fokus utama orang yang sedang berbenah adalah dirinya sendiri. Ia sibuk menata niat, memperbaiki ibadah yang bolong-bolong, dan melatih kesabaran. Ketika seseorang menjauhi lingkungan yang tidak baik, itu bukan karena ia membenci teman-temannya, melainkan karena ia sadar daya tahannya masih lemah jika terus terpapar maksiat.
Seorang tabiin bijak, Imam Ibnul Qayyim, pernah mengingatkan bahwa keselamatan hati ada pada kemampuan kita untuk sibuk mengurusi aib sendiri ketimbang sibuk mencari cela orang lain. Orang yang benar-benar berbenah akan merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling butuh rahmat Allah, bukan yang paling berhak menghakimi sesama.
Menghadapi Stigma dengan Kelembutan
Jika hari ini Anda sedang berada di fase perbaikan diri dan mendapat sebutan “sok suci”, jangan biarkan komentar tersebut menghentikan langkah Anda. Berikut beberapa hal yang bisa dijadikan penguat hati:
• Luruskan Niat: Ingat kembali untuk siapa Anda berubah. Jika perbaikan ini demi mendapat ridha Allah, maka pujian manusia tidak akan membuat Anda melayang, dan celaan manusia tidak akan membuat Anda tumbang.
• Balas dengan Akhlak yang Baik: Buktikan bahwa perubahan agama membawa dampak positif pada sikap. Jika dulu kita mudah marah, kini lebih sabar. Jika dulu pelit, kini lebih dermawan. Akhlak yang mulia adalah dakwah terbaik yang paling senyap namun menghujam hati.
• Doakan Mereka: Dibanding sakit hati, doakan orang-orang yang mencibir agar Allah juga mengetuk hati mereka dengan hidayah-Nya.
Mulai Saja Dulu, Jangan Menunggu Sempurna
Jangan pernah menunda keinginan untuk berbenah hanya karena merasa belum pantas atau takut dinilai buruk oleh manusia. Tak ada syarat harus menjadi malaikat untuk mulai melangkah mendekat kepada Allah.
Bumi yang kita pijak, detik waktu yang terus berjalan, dan kesempatan bernapas hari ini adalah sinyal bahwa Allah masih memberi kita waktu untuk pulang. Mari terus melangkah, pelan tapi pasti. Kita tidak sedang berusaha menjadi lebih suci dari siapa pun kita hanya sedang berbenah, agar saat dipanggil kelak, kita berada dalam keadaan yang lebih baik dari hari kemarin. (*)
