Cermin Qur’ani dalam Kehidupan Masyarakat Jepang

Cermin Qur'ani dalam Kehidupan Masyarakat Jepang
*) Oleh : Suharto Fauzan
Simpatisan Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Jepang seringkali menjadi buah bibir dunia bukan hanya karena kecanggihan teknologinya, melainkan karena karakter masyarakatnya yang luar biasa. Salah satu nilai yang paling menonjol adalah amanah—integritas, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap janji maupun tugas.

Bagi seorang Muslim, melihat fenomena etika di Jepang seperti melihat “Islam tanpa Muslim”. Sebab, nilai-nilai yang mereka praktikan sejatinya adalah inti dari ajaran Al-Qur’an dan Hadits.

1. Amanah sebagai Fondasi Kepercayaan (Al-Mu’min)
Di Jepang, jika Anda kehilangan dompet di stasiun, kemungkinan besar dompet itu akan kembali utuh. Ini adalah bentuk amanah terhadap hak orang lain.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)

Masyarakat Jepang memahami bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya akan merusak tatanan sosial. Mereka memegang teguh kepercayaan publik, sebuah manifestasi nyata dari perintah Allah untuk menjaga titipan.

2. Disiplin Waktu: Amanah Terhadap Janji
Kereta api di Jepang (Shinkansen) memiliki rata-rata keterlambatan hanya dalam hitungan detik per tahun. Mengapa? Karena bagi mereka, waktu adalah amanah yang harus ditunaikan kepada pengguna jasa.
Islam sangat menekankan pentingnya menepati janji (al-wa’d). Rasulullah SAW bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketepatan waktu orang Jepang adalah bentuk nyata dari upaya menghindari sifat munafik tersebut. Mereka sangat menghargai waktu orang lain sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab.

3. Profesionalisme dalam Bekerja
Konsep Kodawari di Jepang—yakni mengejar kesempurnaan dalam setiap detail pekerjaan—selaras dengan konsep Ihsan dalam Islam. Seorang pengrajin atau pegawai di Jepang merasa memiliki amanah untuk memberikan hasil terbaik, meskipun tidak ada atasan yang mengawasi.
Ini sejalan dengan hadits Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional/sungguh-sungguh).” (HR. Al-Baihaqi)

Mengapa Kita Perlu Belajar dari Mereka?
Meskipun Jepang bukan negara mayoritas Muslim, praktik hidup mereka memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam:
Amanah bukan sekadar kata-kata, tapi tindakan yang mendarah daging.

Integritas dimulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya atau mengantre dengan tertib.
Rasa malu (Haya’) adalah kunci. Orang Jepang merasa malu jika tidak amanah, yang dalam Islam disebut sebagai bagian dari iman.

Belajar amanah dari masyarakat Jepang adalah upaya mengambil kembali “hikmah” yang tercecer. Dengan memadukan tuntunan Al-Qur’an dan disiplin ala Jepang, kita bisa membangun karakter yang kuat, dipercaya, dan memberikan manfaat bagi sesama. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search