Cobaan para rasul sangat besar dan sulit, rasanya bisa lepas apabila menimpa manusia biasa. Apa yang dialami Nabi Ya’kub ketika kehilangan Yusuf. Padahal Yusuf merupakan anak paling dicintainya. Kecintaan pada Yusuf inilah yang memicu kemarahan dan kebencian saudara-saudara Yusuf hingga ingin menyingkirkannya dari ayahnya.
Cobaan yang tidak kalah dahsyatnya sebagaimana menimpa Yusuf. Dia digoda oleh seorang perempuan rupawan yang sangat mencintainya hingga mengajaknya berzina tanpa menikah. Dua kisah ini menunjukkan kesabaran profetik, sebuah kekuatan spiritual yang mampu bertahan di tengah tekanan dan cobaan hidup yang berat.
Cobaan Ya’kub
Cobaan terbesar bagi seorang bapak ketika anak yang disayangi bisa lenyap dari hadapannya tanpa tahu kapan kembalinya. Anak yang sangat disayang dan dibesarkan dengan penuh perhatian tiba-tiba lenyap tanpa tahu harus mencari kemana.
Kesedihannya sangat mendalam. Pikirannya selalu mengawang-awang seraya hatinya berharap anaknya bisa kembali ke pangkuannya. Namun harapan hamba itu senantiasa dihadirkan hingga merusak fisiknya. Al-Qur’an menggambarkan Nabi Ya’kub memikirkan Yusuf dan sering menangis, hingga membutakan matanya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَا لَ يٰۤاَ سَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَا بْيَـضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُـزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ
Artinya :
“Dan dia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).” (QS. Yusuf : 84)
Kesabaran Nabi Ya’kub bukanlah kesabaran yang hampa dari rasa sakit. Al-Qur’an justru menggambarkan kesedihan beliau secara manusiawi, dimana matanya memutih karena duka, hatinya dipenuhi luka, tetapi lisannya tetap terjaga dari keluhan kepada selain Allah.
Inilah bentuk kesabaran yang luhur, menahan amarah, menahan putus asa, dan tetap menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Dalam kehidupan kontemporer, sikap ini relevan ketika manusia menghadapi musibah besar yang datang tanpa peringatan, seperti bencana alam yang merenggut harta, rumah, bahkan orang-orang tercinta.
Musibah banjir lumpur akibat longsor yang melanda beberapa wilayah di Aceh dan Sumatra Utara menjadi contoh nyata ujian kesabaran kolektif umat. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sawah tertimbun lumpur, mata pencaharian hilang dalam sekejap. Dalam kondisi demikian, kesabaran bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tetapi menerima ketentuan Allah sambil tetap berusaha bangkit, saling menolong, dan menjaga keimanan agar tidak berubah menjadi kemarahan yang destruktif.
Cobaan Pada Yusuf
Cobaan yang tidak kalah besarnya, ketika lelaki dihadapkan pada situasi yang menyenangkan dirinya. Saat itu berhadapan dengan wanita cantik-rupawan, dalam keadaan tertutup, dan aman dari intaian orang lain. Dia diajak berzina oleh seorang perempuan yang sangat mendambakannya. Cobaan ini tentu amat berat bagi seorang lelaki muda-belia, pingin menikmati fasilitas hidup, dan hidu hedonis.
Namun sosok Yusuf bisa menahan diri dan sabar hingga mampu menahan diri memperturutkan jiwa muda yang selalu ingin hidup enak dan menyenangkan. Namun karunia Allah datang sehingga membuat Yusuf bisa mengontrol dirinya hingga tetap menjaga diri dan bisa menolak ajakan berbuat buruk itu. Al-Qur’an menarasikan bahwa penolakan atas ajakan berzina itulah yang membuat Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :
قَا لَتْ فَذٰلِكُنَّ الَّذِيْ لُمْتُنَّنِيْ فِيْهِ ۗ وَ لَـقَدْ رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّـفْسِهٖ فَا سْتَعْصَمَ ۗ وَلَئِنْ لَّمْ يَفْعَلْ مَاۤ اٰمُرُهٗ لَـيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوْنًا مِّنَ الصّٰغِرِيْنَ
Artinya :
“Dia (istri Al-‘Aziz) berkata, “Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kepadanya, dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang hina.” (QS. Yusuf : 32)
Kesabaran Nabi Yusuf berada pada level yang lebih berat, karena ia tidak hanya menahan diri dari dosa, tetapi juga siap menerima konsekuensi sosial dan politik dari kesabarannya itu. Ia memilih penjara daripada kehinaan moral. Kesabaran menahan diri merupakan bentuk keteguhan tauhid, yakni mendahulukan ridha Allah daripada kenikmatan sesaat.
Dalam konteks hari ini, kesabaran serupa dituntut ketika seseorang menolak jalan pintas yang menguntungkan secara duniawi tetapi merusak nilai dan keadilan.
Dalam konteks sekarang ini, cobaan berupa musibah banjir dan longsor, sebagaimana di Aceh dan Sumatra Utara pasti hikmah besar. Allah menampakkan adanya perilaku zalim sebagian manusia yang menggunduli hutan demi kepentingan pribadi dan keuntungan sesaat. Mereka hidup dalam kemewahan, menikmati hasil eksploitasi alam, sementara rakyat kecil harus menanggung akibatnya.
Kesabaran dalam menghadapi cobaan akan mengangkat derajat dan membersihkan noda dan dosa mereka, serta akan mengungkap kejahatan manusia yang secara semena-mena berbuat zalim. Kesabaran sejati selalu disertai harapan akan pertolongan Allah.
Allah menolong orang-orang yang tertindas, meskipun pertolongan itu tidak selalu datang seketika. Sebaliknya, Allah juga menjanjikan balasan yang setimpal bagi orang-orang zalim, meskipun mereka tampak berjaya dan hidup mewah untuk sementara waktu.
Sejarah para nabi dan realitas sosial hari ini sama-sama menegaskan satu kebenaran, dimana kesabaran adalah jalan panjang menuju pertolongan, dan kezaliman adalah jalan cepat menuju kehancuran. Dengan demikian, kisah Nabi Ya’kub dan Nabi Yusuf bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin bagi umat Islam dalam menghadapi cobaan zaman. Kesabaran adalah kunci untuk tetap beriman di tengah duka, tetap jujur di tengah godaan, dan tetap berharap kepada Allah di tengah ketidakadilan dunia.
Surabaya, 18 Desember 2025
