Dahsyatnya Lā Ilāha Illa Allah (Bagian 3)

*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Tetap Rubrik “Bina Akidah” Majalah Suara Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Selain itu, syahadat itu melahirkan harapan bagi seseorang. Syahadat adalah kunci pembuka pintu langit. Seseorang yang belum meyakini dalam hati dan belum juga mengucapkan dua kalimat syahadat, maka sebesar apapun kebaikan yang dia lakukan tidak akan diterima dan dicatat sebagai amal kebaikan. Tetapi, tetapi seseorang sudah beriman dan bersyahadat, maka amal kebaikannya meski sangat kecil akan diterima sebagai Tabungan amal kebaikan di sisi Allah.

Hingga di sini, syahadat (keimanan) itu selalu menumbuhkan harapan (optimisme) akan ampunan Allah. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dari Abu Said Al-Khusriy dinyatakan, “Setelah seluruh penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan seluruh penduduk neraka pun telah masuk ke neraka, Allah berfirman,
أُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَن كانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إيمَانٍ
Keluarkan siapa saja penghuni neraka yang ada (terselip) iman di dalam hatinya meskipun sebesar biji sawi.” Lalu, orang tersebut dikeluarkan (oleh malaikat atas ijin Allah) dari neraka. Akan tetapi tubuh mereka sudah menghitam bagaikan arang. Hamba tersebut dilemparkan ke dalam sungai kehidupan (nahru al- Hayya atau Hayyat).

Imam Malik  ragu tentang nama yang benar dari sungai tersebut hayya atau hayyat. Kemudian mereka berubah bagaikan biji yang tumbuh sesudah banjir. Tidakkah engkau lihat biji itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat.”

Ada juga sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang hamba yang paling akhir dikeluarkan dari neraka. Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda,
إِنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا – قَالَ – فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِى – أَوْ أَتَضْحَكُ بِى – وَأَنْتَ الْمَلِكُ » قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

Nabi bersabda, “Sungguh ‘Aku tahu seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya, seorang penduduk surga yang paling akhir masuk ke dalamnya. Dialah seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Maka, Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah, masuklah engkau ke dalam surga’. Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan dalam pikirannya bahwa surga telah penuh.

Maka, dia kembali seraya berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku mendapati surga telah penuh’. Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah, masuklah engkau ke dalam surga!’. Sekali lagi dia mendatangi surga, namun kembali dikhayalkan bahwa surga telah penuh. Dia pun kembali seraya berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku mendapati surga telah penuh’.

Allah berkata lagi kepadanya, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga! Sesungguhnya engkau memiliki semisal dunia dan sepuluh kalinya, atau engkau memiliki sepuluh kali dunia’. Nabi Saw bersabda, ‘Laki-laki itu berkata, ‘Apakah Engkau memperolok-olok aku, padahal Engkau adalah Raja? Abdullâh bin Mas’ûd r.a berkata, ‘Aku melihat Rasulullâh tertawa sampai nampak gigi gerahamnya. Orang ini adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya’. (HR. Bukhari Muslim)

Syaikh Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Kasyfusy-Syubuḥat menjelaskan bahwa jika anda telah mengetahui bahwa orang-orang kafir yang awam (saja) mengetahui (makna Lā ilāha illallāh), maka sungguh mengherankan orang yang mengaku beragama Islam sedangkan ia tidak mengetahui tafsir kalimat ini, (padahal itu) sesuatu yang diketahui oleh orang-orang kafir yang awam.

Bahkan ada prasangka bahwa (kalimat Lā ilāha illallāh) itu sekedar diucapkan huruf-hurufnya tanpa diyakini sedikitpun maknanya. Sedangkan kaum intelektual kafirun (ada yang) menyangka maknanya hanya sebatas tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur urusan kecuali Allah. Karenanya, Tidak ada kebaikan pada diri seseorang yang pemahamannya terhadap Lā ilāha illallāh tidak lebih baik daripada orang-orang kafir. Wallahu a’lamu.

 

Tinggalkan Balasan

Search