Menurut jumhur ulama, hasad (dengki) adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368.
Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah,
الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا
“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)
Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah,
الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ
“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).
Ada satu penyakit hati yang diam-diam menghalangi aliran rezeki, meski kerja keras dan terus berusaha.
Penyakit itu adalah dengki — rasa tidak suka ketika orang lain mendapatkan kebaikan.
Dengki bukan hanya merusak hati, tetapi juga menutup pintu keberkahan, seperti karat yang menggerogoti besi dari dalam.
Orang yang hatinya dipenuhi dengki sulit merasakan ketenangan.
Ia sibuk membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.
Ia melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, bukan sebagai motivasi.
Padahal, Allah SWT tidak mengambil rezeki seseorang hanya untuk diberikan kepada orang lain.
Semua sudah diatur sesuai porsi masing-masing.
Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 32)
Dengki membuat Anda buta terhadap nikmat yang sudah Anda miliki. Anda lupa bahwa setiap orang berjalan dengan takdir dan ujian yang berbeda.
Anda tidak melihat air mata dan perjalanan panjang di balik kesuksesan seseorang.
Anda hanya melihat hasilnya, bukan prosesnya.
Dan selama hati kotor oleh dengki, rezeki enggan mendekat.
Karena rezeki menyukai rumah yang bersih, hati yang lapang, jiwa yang tenang.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keberkahan datang kepada hati yang selamat — hati yang tidak menaruh benci, dendam, atau dengki kepada sesama.
Bersihkan hati, dan Anda akan melihat dunia ikut terbuka.
Doakan orang lain berhasil, karena doa untuk mereka adalah jalan bagi Allah SWT untuk memudahkan Anda.
Syukuri apa yang Anda miliki, dan nikmat itu akan bertambah.
Jadikan keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa rezeki Allah SWT itu luas, bukan terbatas.
Jika hari ini Anda merasa rezeki seret, jangan hanya cek strategi dan usaha Anda.
Cek juga hati Anda.
Bisa jadi bukan karena Anda kurang pintar, kurang rajin, atau kurang peluang — tetapi karena hati perlu dilapangkan dahulu.
Sebab ketika hati bersih dari dengki, rezeki besar akan lebih mudah turun, dan hidup Anda pun menjadi lebih ringan, lebih cerah, lebih berkah. (*)
