Dan Tuhan Pun Terpojok oleh Cinta Seorang Hamba

Dan Tuhan Pun Terpojok oleh Cinta Seorang Hamba
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Tetap Rubrik "Bina Akidah" Majalah Suara Muhammadiyah, Alumni Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan
www.majelistabligh.id -

Suatu saat saya pernah membaca sebuah kisah yang di-share oleh salah seorang anggota PWM Jawa Timur. Kisah ini sendiri menyitir penuturan seseorang. Berikut kisahnya.

Saat masih kuliah dulu, aku pernah mengalami masa-masa sulit. Kiriman dari orang tua belum juga datang, sementara isi dompet sudah kering sebelum waktunya. Manajemen keuangan yang buruk, ditambah kebiasaan untuk selalu meminjam, membuatku hanya bisa menatap langit sambil menahan lapar.

Subuh itu, aku salat dengan kekhusyukan yang langka. Biasanya, subuh sering terlewat, atau bahkan bolong. Tapi pagi itu berbeda. Aku datang kepada Tuhan bukan dengan doa penuh adab, melainkan dengan hati penuh tuntutan. Seolah-olah aku bisa menekan-Nya dengan alasan-alasan yang kuciptakan sendiri.

“Ya Allah,” doaku lirih namun mendesak, “Engkau pasti ingat waktu ibuku masih menjadi guru SD. Setiap pagi, ibu menyuruh salah satu muridnya sarapan di rumah kami, karena ia sering pingsan di kelas akibat perut kosong. Kalau itu adalah kebaikan, sekaranglah saat terbaik bagi-Mu untuk membalasnya. Bukan demi balas jasa, tapi demi keimanan anak yang sedang Engkau uji.”

Aku merasa berhasil “memojokkan” Tuhan. Dengan percaya diri aku melangkah ke warteg, yakin bantuan langit sedang menuju. Di warteg itu aku memesan seporsi nasi dengan kuah gratisan dan kripik tempe sebagai lauk. Murah, tapi tetap membuat keringat dingin menetes. Aku mulai ragu. Tak ada malaikat turun dari langit. Tak ada suara ghaib. Yang ada hanya seorang tentara berseragam, dengan wajah keras dan pandangan tajam menatapku.

Ia mendekat dan menggertak, “Heh! Orang mana kamu?!”
Aku gugup. Menjawab sepotong demi sepotong: “Jawa Tengah… Kabupaten Pemalang… Kecamatan Petarukan… Desa Serang…”

Mendengar nama desaku, dia diam sejenak, lalu menatapku tajam. Aku menelan ludah. Dalam hati protes, “Ya Tuhan, kalau tak bisa mengirim bantuan, jangan malah kirim intimidasi dong…”

Lalu tiba-tiba: Brakk! Sebuah mangkuk berisi opor ayam diletakkan tergesa di mejaku. Tentara itu duduk di sampingku, tapi kini wajahnya lebih lunak. “Hus… Kowe Serang-e ngendi? Anakke sapa?” Suaranya kini berubah lembut, logat ngapak-nya terasa begitu akrab.

Tiba-tiba suasana berubah. Aku seperti pulang ke rumah. Seperti mendengar suara ibu-ibu tetangga yang sedang ngobrol sambil nyisiri anak. Seperti mencium aroma pagi desa yang penuh nostalgia. Setelah menyebut nama orang tuaku, dia tersenyum, lalu berkata, “Nih, dimakan. Ora usah mbayar.”

Suara tawa lembut terdengar dalam batinku. Mungkin itu tawa para malaikat yang sedang berpesan, “Baru dikasih lapar sedikit aja udah berani nagih Tuhan? Berani merasa paling benar? Rasain tuh!”

Tentara itu menatapku penuh haru. “Aku murid ibumu. Ibumu itu galak. Tapi kalau tidak galak, mungkin aku tak akan bisa lulus. Setiap pagi, sebelum mulai pelajaran, beliau selalu tanya: ‘Siapa yang belum makan?’ Dan aku salah satu anak yang selalu mengangkat tangan.” Air matanya menetes perlahan. “Untung ada ibumu.”

Ia lalu menambahkan, “Warteg ini punyaku. Usaha sampingan. Kalau kamu lapar, datanglah. Anggap aku ini tangan panjang ibumu.”

Angin Bandung yang dingin terasa menghangat. Seolah cinta dan doa ibu menembus ratusan kilometer dari Pemalang ke Bandung. Tuhan menggerakkan hati seorang murid yang dulu menerima kasih ibu, untuk hari ini mengembalikannya pada anaknya.

Sejak itu, kami menjadi seperti saudara. Ia tak hanya memberiku makanan, tapi juga perlindungan, nasihat, dan persaudaraan. Dan aku belajar satu hal penting: Tuhan itu tak bisa dipaksa. Tapi Tuhan sangat mudah “terpojok” oleh kebaikan yang tulus. Tuhan tak pernah menolak balasan bagi siapa pun yang menanam kebaikan, meski sekadar menyuapi anak orang lain. Firman Allah menegaskan: “Barang siapa berbuat kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.(QS. Az-Zalzalah: 7)

Kebaikan ibuku kepada seorang anak kecil yang lapar, ternyata kembali kepadaku dalam bentuk perlindungan dan makanan yang menyelamatkan. Itulah keajaiban dari benih kebaikan. Ia tak akan pernah sia-sia. Ia bisa tumbuh kapan saja, di mana saja, bahkan saat kita sudah lupa pernah menanamnya.

Dan Tuhan? Ia Maha Mengetahui segalanya—bahkan kelaparan kecil seorang mahasiswa perantauan. Dan Ia akan menolong dengan cara-Nya yang paling indah. Bukan karena ditagih, tapi karena cinta-Nya tak pernah kering untuk hamba-Nya yang ikhlas berbuat baik. Wallahu a’lamu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search