Bagaimana membuat konten media sosial yang menarik dan mampu menjangkau audiens yang tepat? Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Talking Head Video bertema “Upgrade Konten Medsosmu” pada rangkaian pelatihan media FRAME. CREATE. SPEAK yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Aula Lantai 6, Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menghadirkan Abyan Daffa dari tim Media dan Komunikasi PP Muhammadiyah sebagai narasumber, sesi ini membekali peserta dengan strategi pengembangan konten media sosial dan praktik produksi video monolog. Peserta diajak memahami bahwa konten yang efektif membutuhkan perencanaan, pemahaman audiens, serta pendekatan yang sesuai dengan karakteristik platform.
“Ketika membuat konten, kita perlu mengevaluasi apakah cara dan metode yang kita gunakan sudah tepat. Kita juga perlu memahami siapa audiens kita dan bagaimana karakteristik platform tempat konten tersebut dipublikasikan,” jelas Abyan dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan bahwa pengelola media perlu melakukan riset audiens, memahami algoritma platform, dan mengevaluasi performa konten melalui jumlah tayangan, tanda suka, pembagian konten, serta komentar. Variasi konten juga perlu diperhatikan dengan mengembangkan pilar edukatif, inspiratif, informatif, hiburan, berita, dan konten yang mengajak audiens melakukan tindakan (call to action).
Dalam sesi utama, peserta diperkenalkan pada Talking Head Video, yaitu format video yang menampilkan seseorang berbicara langsung ke kamera untuk menyampaikan informasi, menjelaskan isu, atau berbagi pengalaman. Abyan membagikan sejumlah kiat produksi, mulai dari membagi naskah menjadi beberapa segmen, merekam beberapa konten sekaligus (batching), hingga memperhatikan pencahayaan dan kualitas audio. Produksi dapat dimulai dengan perangkat sederhana, seperti telepon genggam, tripod, mikrofon, dan aplikasi teleprompter.
“Tidak perlu menunggu semua peralatan lengkap untuk mulai membuat video. Kita bisa memanfaatkan perangkat yang tersedia, mempersiapkan naskah dengan baik, dan terus berlatih. Naskah juga bisa dibagi menjadi beberapa segmen agar proses pengambilan gambar lebih mudah,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam sesi tersebut.
Peserta juga belajar menyusun naskah menggunakan prinsip AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action). Teknik ini membantu mengarahkan pesan agar mampu menarik perhatian, membangun ketertarikan, menumbuhkan keinginan audiens, dan mendorong tindakan. Dalam penerapannya, peserta belajar membuat pembuka yang kuat, menghubungkan topik dengan kebutuhan audiens, menjelaskan manfaat pesan, serta menutupnya dengan ajakan yang relevan.
Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik kelompok. Peserta menentukan topik, menyusun naskah berdasarkan prinsip AIDA, lalu melakukan pengambilan video dengan menyiapkan perangkat yang dibutuhkan. Melalui latihan ini, peserta berkesempatan menerapkan materi secara langsung, mulai dari pengembangan ide hingga produksi konten audiovisual.
Pelatihan yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 ini diikuti 34 peserta secara luring. Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi fotografi jurnalistik dan pengembangan konten kreatif. Peserta berasal dari majelis, lembaga, organisasi otonom Muhammadiyah, Himpunan Difabel Muhammadiyah, serta pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah di tingkat nasional dan berbagai wilayah.
Rangkaian pelatihan FRAME. CREATE. SPEAK merupakan bagian dari program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) yang dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas pengelolaan media dan komunikasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. (*/tim)
—
