Kita tersentak oleh adegan-adegan di mana tokoh memilih berkorban sampai ajal—terlihat mulia, dramatis, dan menggetarkan. Tapi kalau kita tarik napas dan pandang dari dekat, ada garis tipis antara pengorbanan yang penuh makna dan keputusasaan yang mematikan.
Kejadian tersebut mengajarkan bahwa keputusan ekstrem sering lahir dari beban batin yang tak tertolong, rasa putus asa, dan keyakinan keliru bahwa “mati menyelesaikan segalanya”. Cerita ini boleh mengharu-biru, namun di dunia nyata setiap kehilangan meninggalkan lubang besar bagi keluarga, tetangga, dan anak-anak yang menunggu pulang.
Psikologi memandang bunuh diri sebagai puncak keputusasaan, sebuah kondisi ketika seseorang merasa tidak lagi punya pilihan lain. Ada perasaan hampa, beban mental yang menumpuk, hingga keyakinan keliru bahwa mati adalah jalan keluar.
Meski dalam anime, hal itu dikemas heroik, pada kenyataannya, tindakan itu sering kali lahir dari luka batin yang dalam, bukan dari kekuatan. Justru yang dianggap kuat adalah mereka yang tetap memilih bertahan, berjuang, dan mencari makna hidup meski penuh luka.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisa: 29). Ayat ini menjadi garis tegas bahwa kehidupan adalah amanah, bukan sesuatu yang bisa diakhiri sesuka hati.
Rasulullah pun mengingatkan bahwa orang yang bunuh diri akan mendapat balasan yang setimpal di akhirat. Dari sini, jelas bahwa Islam tidak memandang bunuh diri sebagai kehormatan, melainkan sebuah pelanggaran terhadap titipan hidup dari Allah.
Namun, bukan berarti Islam tidak memahami rasa sakit yang membuat seseorang ingin menyerah. Justru di sinilah letak kasih sayang Islam: ada ajakan untuk berbagi beban, bersandar pada doa, serta mencari jalan keluar dengan sabar.
Psikologi modern mendorong orang untuk mencari dukungan sosial, mengajarkan agar kita tidak menanggung masalah sendirian. Hidup adalah perjuangan, dan setiap luka yang kita rawat dengan sabar akan bernilai pahala.
Maka, saat kita menonton kisah-kisah seperti Demon Slayer, mari menikmatinya sebagai fiksi penuh hiburan, bukan sebagai cermin nilai yang harus ditiru. Bunuh diri bukanlah kehormatan, melainkan jalan buntu yang menutup banyak kemungkinan.
Kehormatan sejati ada pada keberanian untuk tetap hidup, menerima rasa sakit, dan berjuang mencari cahaya kebenaran. Karena pada akhirnya, seperti janji Allah, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6).
