Peringatan Milad ke-114 Muhammadiyah bukan sekadar perayaan ritualistik-seremonial, melainkan momen introspeksi dan refleksi historis atas perjalanan gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia. Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912 di Yogyakarta, dakwah Muhammadiyah berakar pada spirit tajdid (pembaruan) yang memadukan kedalaman spiritualitas dengan rasionalitas pemikiran.
Di Kalimantan Timur, perjalanan persyarikatan menemukan lokus artikulasi yang unik. Secara geografis dan kultural, Kaltim bersifat multietnis dan kaya sumber daya alam, sehingga menuntut pendekatan dakwah yang adaptif namun tetap substantif.
Refleksi 114 tahun ini menjadi pijakan penting untuk mengevaluasi bagaimana Muhammadiyah Kaltim membangun gerakan pencerahan (liberating and enlightening movement) dalam merespons dinamika sosial-kultural yang terus berkembang pesat.
1. Reformulasi Epistemologi Dakwah Kultural di Tanah Borneo
Secara sosiologis, Kalimantan Timur adalah medan perjumpaan berbagai entitas budaya: kearifan lokal masyarakat Dayak dan Paser, budaya maritim Kutai dan Bugis, hingga gelombang transmigran dari Jawa dan Sulawesi. Dalam heterogenitas ini, Muhammadiyah Kaltim berhasil menerapkan dakwah kultural yang inklusif dan tidak konfrontatif.
Pencerahan sosial yang diusung Muhammadiyah di Kaltim tidak bekerja melalui penyeragaman (homogenization), melainkan melalui humanisasi dan rasionalisasi. Nilai-nilai Islam Berkemajuan diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang melintasi sekat etnis dan agama. Prinsip ini sejalan dengan kosmopolitanisme Islam: menjadikan agama sebagai penggerak kemajuan peradaban (civilizational engine) tanpa mencabut masyarakat dari akar budaya lokal yang konstruktif.
2. Kapital Sosial dan Kelembagaan: AUM sebagai Agent of Change
Akselerasi transformasi sosial-kultural di Kalimantan Timur tidak terlepas dari peran Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Jaringan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), sekolah dari tingkat dasar hingga menengah, serta pusat layanan kesehatan dan filantropi (Lazismu) menjadi bukti nyata kapital sosial persyarikatan.
Melalui AUM, Muhammadiyah Kaltim melakukan intervensi struktural terhadap krisis kualitas sumber daya manusia (SDM):
Demokratisasi akses pendidikan. Menghadirkan pendidikan berbasis iptek dan imtak yang terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat, dari perkotaan hingga pedalaman. Masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah melalui tradisi literasi, riset, dan teknologi.
Filantropi berkelanjutan. Mengubah pola karitas (charity) konvensional menjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah (social empowerment).
3. Tantangan Aktual: Ekologi, Kapitalisme Sumber Daya, dan Transisi IKN
Memasuki usia ke-114, Muhammadiyah Kaltim menghadapi realitas geopolitik dan geoekonomi yang sangat dinamis. Sebagai jantung kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kaltim mengalami pergeseran demografis, ekonomi, dan ekologis yang masif.
Dalam konteks ini, peran pencerahan Muhammadiyah ditantang merespons tiga isu kritis:
Etika ekologis dan keadilan lingkungan. Di tengah masifnya industri ekstraktif (tambang dan sawit), Muhammadiyah Kaltim perlu mengarusutamakan teologi lingkungan (eco-theology). Gerakan pencerahan harus hadir membela hak ekologis warga dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Kesiapan SDM lokal menghadapi IKN.
Arus migrasi tenaga kerja terampil ke kawasan IKN berpotensi memarginalkan warga lokal jika tidak diantisipasi. Melalui lembaga pendidikannya, Muhammadiyah bertanggung jawab menyiapkan kapasitas vokasi dan intelektual generasi muda Kaltim.
Ketahanan moral dan budaya.
Modernisasi yang melaju cepat kerap membawa alienasi sosial dan pergeseran nilai. Muhammadiyah harus tetap konsisten menjadi benteng moral (moral anchor) yang merekatkan kohesi sosial di tengah ancaman individualisme.
Kesimpulan: Menatap Abad Kedua Dakwah Berkemajuan
Refleksi Milad ke-114 menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan gerakan peradaban. Transformasi sosial-kultural yang diakselerasi Muhammadiyah di Kalimantan Timur telah teruji oleh waktu, dari gerakan pembaruan keagamaan menjadi salah satu pilar utama pembangunan daerah.
Menyongsong era baru Kalimantan Timur sebagai pusat gravitasi baru Indonesia, Muhammadiyah Kaltim dituntut terus memperkuat independensi kritisnya, memperluas jangkauan keilmuannya, dan mengukuhkan komitmen kemanusiaannya. Hanya dengan cara itulah spirit pencerahan KH. Ahmad Dahlan tetap relevan, menyalakan semangat kemajuan, dan memberi manfaat nyata bagi bumi Etam dan Indonesia. (*)
