Disuap Untuk Membaca

Disuap Untuk Membaca
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Singapura: hanya 28% baca buku. Dianggap krisis nasional. Presiden turun tangan. Program 5 tahun. Disuap 20 koin, Rp250, untuk 15 menit fokus.

Kita: kalau 28% baca buku, sudah kita rayakan dengan spanduk dan influencer yang tidak baca bukunya.

Kita mengejek Singapura. Padahal kita lebih parah. Singapura masih harus menyuap warganya agar mau fokus. Kita sudah disuap gratis oleh algoritma agar tidak pernah fokus.

Kita bangga bicara karakter bangsa. Tapi karakter tidak dibentuk oleh seminar BERAKHLAK. Karakter dibentuk oleh kemampuan menahan bosan.

Kita tidak punya itu lagi.

Kita mampu hafal 10 aib artis, selebriti dalam sejam, tidak mampu tahan 1 alinea UUD tanpa menguap.

Kita mampu marah 3 jam soal bola, tidak mampu baca putusan 10 halaman tanpa minta ringkasan buzzer.

Kita mau jadi Generasi Emas 2045, tapi dilatih setiap hari untuk skip kalau rumit, blok kalau beda, geser kalau bosan.

Itulah karakter kita: reaktif, bukan reflektif.

20 koin itu bukan insentif. Itu harga otak kita di 2026. Satu jam fokus = Rp1.000. Lebih murah dari parkir liar. Dan bahkan itu pun kita anggap mahal. Mending scroll gratis.

Gratis? Tidak. Kita dibayar dopamin 8 detik, dan kita serahkan kemampuan berpikir.

Bangsa yang tidak mampu bosan 15 menit tidak perlu dijajah tentara. Cukup dijajah notifikasi.

Singapura jujur: ia akui warganya kecanduan dan ia subsidi pemulihannya.

Kita masih munafik: kecanduan, tapi merasa merdeka.

Jakarta, 23 September 2026. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search