Disuruh Menunggu Surga, Neraka Diciptakan di Dunia Nyata

Disuruh Menunggu Surga, Neraka Diciptakan di Dunia Nyata
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Surga digambarkan sebagai janji yang harus ditunggu, sementara “neraka” terasa nyata di dunia ini dalam bentuk penderitaan, ketidakadilan, dan kesengsaraan sehari-hari.

Dalam perspektif Qur’ani, surga dan neraka memang disebut sebagai realitas akhirat. Namun, banyak ulama menekankan bahwa “bayangan” keduanya sudah bisa dirasakan di dunia. Misalnya:

* Surga dunia: ketenangan hati, iman yang kokoh, keluarga yang penuh kasih, hidup yang bermanfaat.

* Neraka dunia: hati yang gelisah, hidup penuh kebencian, ketidakadilan sosial, dan perilaku yang menjauhkan dari fitrah

Dengan kata lain, dunia ini adalah ladang ujian. Allah memberi kita “rasa” dari surga maupun neraka agar kita sadar arah hidup. Surga bukan sekadar tempat yang ditunggu, tapi bisa “ditumbuhkan” dalam kehidupan nyata lewat amal, akhlak, dan cinta kasih. Sebaliknya, neraka bukan hanya api di akhirat, tapi juga bisa berupa kehidupan yang hampa, penuh kesombongan dan permusuhan.

Kita diminta untuk tidak pasif menunggu janji surga, tetapi aktif menghadirkan nilai-nilainya di dunia. Surga bukan hanya “nanti,” melainkan bisa kita cicipi lewat:

* Ketenangan hati yang lahir dari iman dan syukur.
* Keadilan sosial yang kita tegakkan bersama.
* Kasih sayang yang kita tanam dalam keluarga dan komunitas.

Sebaliknya, neraka bisa “diciptakan” oleh manusia sendiri:
* Keserakahan yang merusak lingkungan dan sesama.
* Kebencian yang memecah belah masyarakat.
* Kezaliman yang menindas yang lemah.

Dari Sabang sampai Merauke suara suci diperdengarkan tanpa henti, tapi jangan keliru yang paling keras justru bukan azan, melainkan jerit rakyat yang diremukkan oleh kebijakan. Kita ini rajin sekali, tapi rajin di tempat yang salah. Kita hafal mengukur iman orang lain, jilbabnya kurang panjang, rukuknya kurang rendah, doanya kurang fasih. Kita berkelahi soal bid’ah, dan sunnah, sakramen dan tradisi seolah Tuhan duduk jadi juri lomba ritual.

Media sosial berubah jadi pengadilan iman. Semua merasa suci, semua merasa paling benar. Saat kita teriak haram dan halal soal musik. Berhentilah berpura-pura musuh kita bukan perbedaan cara menyebut Tuhan. Musuh kita adalah keserakahan yang menyamar sebagai pembangunan hukum yang dijadikan topeng kejahatan, dan agama yang direduksi jadi obat bius massa, jika agama masih punya nyali, berhenti menghakimi sesama.

Surga sebagai janji yang ditunggu

* Dalam Qur’an, surga digambarkan sebagai balasan akhir bagi orang beriman dan beramal saleh.

* Karena sifatnya ghaib (tak terlihat), manusia diminta untuk bersabar, beriman, dan menunggu dengan penuh keyakinan.

* Menunggu surga bukan berarti pasif, melainkan aktif menyiapkan diri dengan amal, akhlak, dan kesetiaan pada Allah.

Neraka sebagai realitas yang “diciptakan” di dunia

* Neraka akhirat memang nyata, tetapi “bayangan” neraka bisa muncul di dunia melalui perbuatan manusia.

Contoh nyata neraka dunia:

* Penindasan, perang, dan ketidakadilan sosial.

* Kehidupan penuh kebencian, iri hati, dan keserakahan.

* Hati yang gelisah, kosong, dan jauh dari Allah.

* Dengan kata lain, manusia bisa “menciptakan neraka” lewat perilaku yang merusak diri, sesama, dan lingkungan.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang bisa dikaitkan dengan refleksi “disuruh menunggu surga, sementara neraka diciptakan di dunia nyata”. Surga digambarkan sebagai janji akhirat, sedangkan neraka sering dihubungkan dengan akibat langsung dari perbuatan manusia di dunia

QS. Ali ‘Imran [3]:133
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

Surga disebut sebagai sesuatu yang disediakan dan ditunggu oleh orang beriman.

Muhammad [47]:15
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ
Artinya: Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (adalah bahwa) di dalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai air susu yang rasanya tidak berubah, sungai-sungai khamar yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah dan ampunan dari Tuhan mereka. (Apakah orang yang memperoleh kenikmatan surga) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong?

Ayat tentang Neraka sebagai akibat nyata dari perbuatan dunia:

Ali ‘Imran [3]:131
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْٓ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ ۚ
Artinya: Lindungilah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Neraka disebut sebagai konsekuensi dari perbuatan di dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Search