Menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian rawan disalahgunakan untuk tindak kejahatan siber, Telkom University Surabaya menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat di SMP Muhammadiyah 13 Gresik atau Hamas School pada Rabu (28/10/2026).
Dalam program bertajuk “Guru Tamu” ini, civitas akademika Telkom University Surabaya membongkar secara tuntas berbagai modus penipuan modern, mulai dari rekayasa video (deepfake), kloning suara (fake voice), hingga pemalsuan identitas digital yang kini marak menyasar masyarakat luas.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Ubaidillah Umar, SST, MT, pakar teknologi dari Telkom University. Di hadapan para siswa dan guru, ia memaparkan, kemudahan akses teknologi AI saat ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi sangat membantu, namun di sisi lain memudahkan pelaku kejahatan memanipulasi visual dan audio secara presisi untuk menipu.
“AI membuat proses penyuntingan wajah dan kloning suara menjadi sangat mudah, bahkan hanya bermodalkan sampel audio singkat dari media sosial. Hal yang mengerikan adalah penipu kini tidak lagi sekadar mengirim pesan teks, tetapi bisa meminjam wajah atau suara orang-orang terdekat kita demi memicu kepanikan dan meminta sejumlah uang,” ujar Dr. Ubaidillah.
Dalam pemaparannya, Dr. Ubaidillah membagikan enam tahapan umum alur kerja kejahatan impersonasi berbasis AI yang dirilis oleh lembaga internasional seperti FBI dan INTERPOL. Alur tersebut dimulai dari pelaku yang mencuri bahan mentah di media sosial, merekayasanya dengan AI, menyebarkan umpan darurat, hingga melakukan pemerasan finansial atau data sensitif (seperti OTP dan password) secara berulang.
Beberapa studi kasus nyata penipuan siber yang sempat mengguncang dalam negeri turut dibedah, termasuk manipulasi video deepfake wajah pejabat publik di Jawa Timur pada tahun 2025 yang merugikan ratusan korban, hingga kasus global berupa virtual kidnapping dan manipulasi video call rapat korporasi.
Guna menangkal ancaman tersebut, tim Pengabdian Masyarakat Telkom University Surabaya mengenalkan protokol taktis bernama SAFE-AI sebagai panduan preventif bagi para siswa saat menemui konten mencurigakan:
* S – STOP: Berhenti seketika dan jangan langsung percaya, mentransfer uang, atau membagikan konten.
* A – ASSESS: Menilai secara kritis rasionalitas informasi dan mendeteksi adanya tekanan emosional.
* F – FIND EVIDENCE: Mencari bukti asli dan melakukan konfirmasi ulang lewat kanal komunikasi alternatif yang terpercaya.
* E – EVALUATE: Menentukan tindakan pengamanan lanjutan dan segera melaporkan ke orang dewasa atau pihak berwenang.
Melalui kegiatan Guru Tamu ini, Telkom University Surabaya dan HAMAS School berharap dapat membangun benteng pertahanan digital yang kuat bagi generasi muda. Harapannya, para siswa tidak sekadar menjadi pengguna teknologi yang konsumtif, tetapi tumbuh menjadi pengguna digital yang cerdas, kritis, aman, dan bertanggung jawab. (amsikul)
