Belakangan ini, ruang pemberitaan kita cukup ramai dengan berbagai persoalan politik. Nama-nama tokoh, elite partai, hingga urusan kekuasaan silih berganti menjadi bahan pembicaraan. Namun, di tengah ramainya kabar tersebut, ada masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia yang sedang berjuang menghadapi bencana.
Pada akhir Oktober hingga awal November 2026, banjir melanda sejumlah daerah di Aceh, mulai dari Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Barat, hingga Pidie Jaya. Sementara itu, pada Senin, 2 November 2026, banjir lahar hujan atau yang sering disebut lahar dingin Gunung Semeru menerjang sejumlah kawasan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Di Aceh, ribuan rumah dilaporkan terdampak banjir. Di Lumajang, aliran lahar yang membawa material vulkanik mengakibatkan kerusakan rumah dan akses jalan. Bagi masyarakat yang mengalaminya, bencana bukan hanya persoalan angka dalam laporan pemerintah. Ada keluarga yang harus meninggalkan rumah, anak-anak yang aktivitas belajarnya terganggu, dan orang tua yang memikirkan bagaimana kehidupan mereka setelah air surut.
Membaca kabar tersebut membuat saya berpikir, sudah sejauh mana kita benar-benar peduli terhadap penderitaan sesama?
Kita mungkin begitu cepat mengikuti perkembangan politik, tetapi belum tentu memberikan perhatian yang sama terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah. Padahal, dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan.
Ketika Kekuasaan Seharusnya Menjadi Jalan Kemaslahatan
Politik sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Melalui politik, kebijakan dibuat dan kepentingan masyarakat diperjuangkan. Persoalannya, pembicaraan tentang kekuasaan terkadang terasa lebih ramai daripada pembahasan mengenai kebutuhan masyarakat.
Dalam Islam, kepemimpinan dipandang sebagai amanah. Seseorang yang diberi kewenangan tidak hanya bertanggung jawab terhadap jabatan yang dipegangnya, tetapi juga terhadap kehidupan orang-orang yang dipimpinnya.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 58 agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keputusan di antara manusia ditetapkan secara adil.
Pesan tersebut terasa relevan ketika kita melihat masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Mereka membutuhkan kehadiran negara melalui langkah-langkah nyata, mulai dari penyelamatan warga, penyediaan kebutuhan dasar, hingga pemulihan kehidupan setelah bencana.
Bagi keluarga yang rumahnya terendam, bantuan makanan dan tempat tinggal sementara tentu lebih mendesak daripada perdebatan politik yang tidak berkaitan langsung dengan keadaan mereka.
Namun, bukan berarti kita harus berhenti membicarakan politik. Justru dari peristiwa seperti inilah kita bisa melihat pentingnya kebijakan yang berpihak kepada keselamatan masyarakat.
Kekuasaan semestinya menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar sesuatu yang diperebutkan atau dipertahankan.
Belajar dari Al-Ma’un, Agama Harus Menggerakkan Kepedulian
Dalam perjalanan Muhammadiyah, kita mengenal bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya memahami Surah Al-Ma’un bukan hanya melalui bacaan, tetapi juga melalui tindakan.
Pesan Surah Al-Ma’un begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Allah mengingatkan tentang orang yang mendustakan agama, di antaranya mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.
Dari sini kita belajar bahwa agama tidak cukup hanya dibicarakan. Nilai-nilainya harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Ketika melihat masyarakat Aceh dan Lumajang menghadapi banjir, semangat Al-Ma’un seharusnya menggerakkan kita untuk bertanya: apa yang bisa kita lakukan?
Barangkali tidak semua orang mampu turun langsung menjadi relawan. Tidak semua orang juga mempunyai cukup uang untuk memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Membantu menyebarkan informasi bantuan yang benar, mengajak teman berdonasi melalui lembaga terpercaya, atau sekadar tidak menyebarkan kabar bohong mengenai bencana merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang bisa dilakukan.
Lebih jauh, kepedulian juga perlu terus berjalan ketika perhatian publik mulai beralih ke persoalan lain.
Sebab, penderitaan korban tidak otomatis selesai ketika banjir surut. Masih ada rumah yang harus dibersihkan, pekerjaan yang tertunda, dan anak-anak yang perlu kembali menjalani pendidikan.
Semangat Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan semestinya membuat kita semakin peka terhadap keadaan tersebut.
Islam Berkemajuan Tidak Berhenti pada Nasihat Kesabaran
Ketika bencana terjadi, kita sering mendengar ajakan untuk bersabar dan menerima musibah dengan lapang dada. Nasihat itu tentu memiliki tempat dalam ajaran Islam.
Namun, saya kira kesabaran tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk berhenti berusaha memperbaiki keadaan.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir membutuhkan lebih dari sekadar nasihat. Mereka membutuhkan sistem peringatan dini yang dapat diandalkan, lingkungan yang terjaga, infrastruktur yang aman, dan pengetahuan tentang langkah penyelamatan ketika bencana datang.
Di sinilah semangat Islam Berkemajuan menjadi penting.
Islam Berkemajuan mengajak umat untuk menggunakan ilmu pengetahuan, akal sehat, dan kemampuan yang dimiliki manusia untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam ajaran Islam terdapat prinsip hifz an-nafs, yakni menjaga keselamatan jiwa. Prinsip ini menjadi bagian dari tujuan syariat atau maqashid syariah.
Menjaga keselamatan jiwa tentu tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah berada dalam bahaya. Upaya mencegah bencana, memperbaiki pengelolaan lingkungan, dan membangun kesiapsiagaan masyarakat juga merupakan bentuk ikhtiar menjaga kehidupan.
Begitu pula dengan prinsip hifz al-mal, yaitu menjaga harta. Rumah, lahan pertanian, dan tempat usaha masyarakat bukan sekadar benda, melainkan bagian dari sumber penghidupan keluarga.
Karena itu, ketika banjir merusak rumah atau memutus akses jalan, persoalannya tidak selesai hanya dengan membersihkan lumpur. Ada kehidupan ekonomi dan sosial yang perlu dipulihkan.
Bagi saya, dakwah yang berkemajuan harus mampu menjangkau persoalan-persoalan semacam ini.
Masjid dapat menjadi tempat mengorganisasi bantuan. Sekolah dan kampus dapat mengembangkan pendidikan kebencanaan. Organisasi pemuda bisa menggerakkan relawan, sedangkan media digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas informasi dan solidaritas.
Dengan begitu, dakwah tidak hanya terdengar melalui ceramah, tetapi juga dirasakan melalui manfaatnya.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Rasa Peduli
Banjir Aceh dan lahar Semeru juga mengingatkan kita bahwa musibah tidak memilih siapa yang akan terdampak. Air tidak membedakan rumah berdasarkan agama, suku, organisasi, ataupun pilihan politik penghuninya.
Karena itu, pertolongan juga seharusnya tidak mengenal batas-batas tersebut.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107 bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Semangat rahmatan lil ‘alamin inilah yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Islam seharusnya menghadirkan rasa aman, kepedulian, dan kebaikan bagi siapa saja.
Sebagai generasi muda, kita mempunyai kesempatan untuk meneruskan nilai tersebut. Tidak harus menunggu menjadi pejabat, tokoh masyarakat, atau memiliki pengaruh besar untuk mulai berbuat baik.
Kita bisa memulainya dari lingkungan terdekat, dari organisasi yang kita ikuti, bahkan dari cara menggunakan media sosial.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa membicarakan politik merupakan sesuatu yang keliru. Politik tetap penting karena berkaitan dengan arah kehidupan bangsa. Namun, jangan sampai ramainya perbincangan tentang kekuasaan membuat kita kurang peka terhadap persoalan kemanusiaan.
Bencana Aceh dan Semeru semestinya menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak boleh bergantung pada seberapa viral sebuah peristiwa.
Dalam semangat Islam Berkemajuan, ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa banyak pengetahuan agama yang kita miliki, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut mendorong kita menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Pada akhirnya, kita boleh berbeda pandangan dalam urusan politik. Kita juga boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang berbagai persoalan bangsa. Namun, ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kepedulian terhadap keselamatan manusia seharusnya menjadi titik temu.
Sebab, agama yang mencerahkan bukan hanya mengajarkan manusia untuk dekat kepada Allah, tetapi juga menggerakkan manusia agar tidak jauh dari penderitaan sesamanya. (*)
