Finansial Freedom dan Kesalahpahaman tentang Menunggu Waktu Salat

Finansial Freedom dan Kesalahpahaman tentang Menunggu Waktu Salat
*) Oleh : Agus Santosa Purba
Tapak Suci Pimda 166 Grobogan
www.majelistabligh.id -

Ungkapan kita upayakan finansial freedom dan hidup hanya untuk menunggu waktu salat terdengar indah, tenang, dan spiritual. Namun, jika dicermati lebih dalam, kalimat ini menyimpan persoalan nilai yang tidak sejalan sepenuhnya dengan ajaran Islam. Masalahnya bukan pada semangat ibadahnya, melainkan pada cara memaknai hidup, waktu, dan peran manusia di dunia.

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menunggu hidup, apalagi menunggu waktu. Islam justru mengajarkan manusia untuk menghidupkan waktu. Salat memang poros kehidupan seorang muslim, tetapi poros bukan berarti isi. Salat adalah penanda arah, bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Kata hanya dalam frasa hidup hanya untuk menunggu waktu salat menjadi titik kritis. Kata itu seolah mengerdilkan makna hidup menjadi aktivitas pasif: menanti, bukan mengisi. Padahal, dalam Islam, waktu di antara salat bukanlah ruang kosong, melainkan ladang amal.

Rasulullah ﷺ tidak pernah mencontohkan kehidupan yang dihabiskan dengan menunggu waktu salat tanpa aktivitas produktif. Justru sebaliknya, beliau adalah figur paling aktif: berdagang, memimpin, mendidik, berdakwah, mengatur strategi, dan menata masyarakat. Semua itu dilakukan di antara waktu-waktu salat.

Islam juga tidak mengenal konsep finansial freedom yang memutus tanggung jawab. Kecukupan harta dalam Islam bukan tujuan akhir untuk menikmati ketenangan pribadi, melainkan sarana untuk memperluas kebermanfaatan. Harta adalah amanah, dan amanah selalu menuntut peran. Ketika seseorang diberi kelapangan rezeki, justru kewajibannya bertambah: menafkahi, menolong, menguatkan, dan memakmurkan.

Al-Qur’an dengan tegas mengoreksi cara pandang pasif terhadap ibadah. Dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10, Allah memerintahkan bahwa setelah salat ditunaikan, manusia diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah. Ayat ini menunjukkan keseimbangan yang jelas: salat menata hati, kerja menata kehidupan. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi disinergikan.

Jika hidup hanya dimaknai sebagai penantian menuju ibadah ritual, maka nilai ihsan, amal sosial, dan tanggung jawab peradaban menjadi kabur. Padahal, Islam hadir sebagai agama yang membangun peradaban, bukan sekadar menenangkan individu. Seorang muslim tidak diukur dari seberapa lama ia menunggu waktu sholat, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia hadirkan di antara dua sholat.

Maka, kritik terhadap gagasan tersebut bukan penolakan terhadap semangat spiritual, melainkan upaya meluruskan orientasi. Yang ideal bukanlah menunggu waktu salat, tetapi menjadikan salat sebagai pusat orientasi hidup, sementara waktu di antaranya diisi dengan amal terbaik.

Bukan hidup yang berhenti karena sudah mapan secara finansial, melainkan hidup yang justru semakin bermakna karena tidak lagi diperbudak oleh kebutuhan dasar.

Islam tidak memuliakan orang yang sekadar menunggu waktu. Islam memuliakan orang yang menghidupkan waktu, menjaga salatnya, menata hartanya, dan memperluas manfaatnya bagi sesama. Di situlah keseimbangan iman, amal, dan peran manusia sebagai khalifah benar-benar menemukan maknanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search