Aisyah Pernah Jalan Berdua dengan Lelaki yang Bukan Mahramnya
Ini salah satu fitnah terumit yang dirasakan dalam rumah tangga Rasul.
Fitnah ini terjadi pada tahun 5 H/ 627 M. Saat itu umat muslim baru menang melawan suku Mustolik dan ingin segera kembali ke Madinah. Dalam perjalanan itu Aisyah ikut menyertai, ia berada di dalam tandu tertutup.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, Rasulullah memutuskan untuk istirahat sejenak.
Di saat rombongan Rasulullah beristirahat kebetulan Aisyah pun ada keperluan suatu hajat, ia pun keluar tandu dan menunaikan hajatnya, setelah selesai ia pun kembali ke tandu. Waktu ingin naik ke tandu Aisyah pun melihat jika kalungnya tidak ada, akhirnya ia kembali ke tempat hajat berpikir siapa tahu jatuh di sana dan alhamdulillah masih ketemu.
Tapi innalillah… rombongan prajurit sudah pergi. Aisyah bingung mau mencari rombongan ke mana karena dia nggak tahu jalan. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu tepat saat tandu tadi berhenti. Ia berharap kalau prajurit sadar bahwa ia tidak ada di dalamnya dan menyusulnya.
Beberapa jam kemudian lewatlah Shafwan bin Muadzan dengan untanya. Shafwan ini juga merupakan salah satu sahabat Nabi yang ketinggalan rombongan. Lalu Shafwan terkejut mengapa Aisyah sendiri pikirnya….
Meski penasaran Shafwan sama sekali tidak berani bertanya, ia hanya menawarkan unta untuk dinaiki Aisyah. Lalu ia memandu unta tersebut sambil berdzikir. Tidak ada sama sekali dalam benak Shafwan untuk ngomong ke Aisyah apalagi sampai melecehkannya. Hingga tibalah mereka di Madinah.
Orang pertama yang melihat mereka memasuki Madinah adalah si munafik bernama Abdullah bin Ubay bersama temannya dari kalangan orang Yahudi. Dari sinilah fitnah itu tersiar.
Qadarullah sesampainya di rumah Aisyah jatuh sakit, ia tidak bisa keluar rumah sama sekali. Selama tidak keluar rumah, selama itulah fitnah terus menyebar di Madinah. Sampai Aisyah merasa ada yang aneh dari sikap Rasul yang begitu dingin kepadanya padahal Aisyah sedang jatuh sakit.
Hingga tanpa sengaja ia mendengar perbincangan orang-orang tentang rumor perselingkuhannya.
Sampai ia menangis dan baru tersadar atas sikap Rasul yang dingin.
Tidak lama setelah itu datanglah Nabi menjenguk dan berkata,
“Ya Aisyah pasti kamu sudah mendengar berita tentang ini dan bagaimana menurut kamu wahai Aisyah…? “
Aisyah menjawab, “Seandainya saya mengucapkan berita bohong Engkau mungkin tidak akan percaya ya Rasul, padahal itu adalah bohong, dan seandainya saya berkata itu benar. Tapi Allah-lah yang MahaTahu bahwa itu benar.
“Saat ini saya tidak akan membela diri dan saya akan mengungkapkan masalah ini kepada Allah saja, sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penolong.”
Dengan raut wajah kecewa Aisyah memasuki kamar, karena Aisyah menganggap Nabi pun tidak dapat melakukan pembelaan kepadanya.
Saat itu Rasulullah hampir saja menceraikan Aisyah karena luar biasanya fitnah dan Nabi telah mengadukan masalah ini kepada Allah namun belum juga dapat jawaban dengan cepat padahal masalah sedang genting.
Tak lama kemudian dalam kesedihan Rasul, Allah menurunkan surat An-Nur ayat 11-26, yang juga disebut ayatul qital, ayat-ayat fitnah, yang isinya pembelaan kepada Aisyah.
Akhirnya Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan membacakan isi surat dari An-Nur bahwa berita itu adalah bohong.
Saat itu Rasulullah kembali dan menyampaikan pembelaan Allah kepada Aisyah, Rasul berkata,
“Wahai Aisyah berbahagialah karena Allah telah menurunkan ayat isinya pembelaan terhadap kamu bahwa sesungguhnya itu semua berita bohong. “
Tanpa berbicara sedikit pun Aisyah masuk ke kamar dalam keadaan ngambek.
Sampai Ayahnya, Abu Bakar bertanya,
“Ada apa wahai putriku ucapkanlah terima kasih kepada Rasulullah. “
Aisyah pun menjawab,
“Sesungguhnya Allah-lah yang membelaku. “
Abu Bakar pun menghampiri Rasulullah yang masih berdiri di depan rumah Aisyah, Abu Bakar pun berkata,
“Ya Rasulullah Aisyah masih belum terima akan itu. Lalu Rasul menjawab,
“Biarkan dia tenangkan dulu perasaannya dan aku akan kembali setelah semuanya membaik. “
Dan orang orang yang menyebarkan fitnah itu lalu dihukum.
Hikmah,
Mengapa Allah lama sekali menurunkan wahyu padahal Nabi butuh banget, kata Syekh Al-Buti itu adalah bukti kalau AlQur’an bukan perasaan jiwa yang muncul dari Nabi Muhammad jadi dia nggak bisa mengikuti kemauan, kebutuhan atau harapan Nabi. Sehingga AlQur’an itu murni perkataan dan perintah dari Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril.
Dan dari surat An-Nur memberi pemahaman bahwa jika ada fitnah yang menyebar maka harus membawa 4 saksi yang melihat.
Semoga bermanfaat.
