Ungkapan “Guru harus suci di langit dan suci di bumi” adalah metafora yang sangat dalam dan penuh makna, Ia menggambarkan ideal spiritual dan sosial seorang pendidik yang tidak hanya mulia di mata manusia, tetapi juga diridai oleh Allah.
Suci di Langit: Rida Allah dan Keikhlasan
– Niat yang lurus: Mengajar bukan demi pujian, jabatan, atau materi, tetapi semata-mata karena Allah.
– Tawadhu dan takwa: Menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa, dan akhlak yang luhur.
– Doa para malaikat: Dalam hadis disebutkan bahwa para malaikat membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu. Guru yang ikhlas pun mendapat keberkahan serupa.
– Menghindari riya dan sum’ah: Tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk pamer atau mencari popularitas.
Suci di Bumi: Teladan Sosial dan Etika Profesi
– Integritas dan akhlak mulia: Jujur, adil, sabar, dan amanah dalam mendidik.
– Menjadi panutan: Perilaku guru menjadi cermin bagi murid dan masyarakat.
– Tidak menyalahgunakan ilmu: Menjaga agar ilmu tidak digunakan untuk manipulasi, penindasan, atau kepentingan pribadi.
– Berperan aktif dalam perbaikan sosial: Guru menjadi agen perubahan, bukan sekadar pengajar.
Ungkapan “guru harus suci di langit dan suci di bumi” adalah ekspresi metaforis yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun maknanya sangat selaras dengan nilai-nilai yang Allah tegaskan tentang kedudukan orang berilmu dan adab seorang pendidik. Beberapa ayat berikut dapat dijadikan landasan spiritual dan etis untuk memahami makna tersebut:
QS Al-Mujadalah Ayat 11 Derajat Tinggi di Langit
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini menegaskan bahwa orang berilmu (termasuk guru) memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah . “suci di langit” karena ilmunya digunakan untuk kebaikan dan keikhlasan.
QS Ali Imran Ayat 18 Kesaksian Ilahi dan Martabat Sosial
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya: Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana.
Guru yang menegakkan keadilan dan menyampaikan ilmu dengan amanah menjadi bagian dari kesaksian ilahi “suci di bumi” karena menjadi penjaga nilai dan etika sosial.
Hadis tentang Kemuliaan Guru di Langit dan Bumi
– Doa seluruh makhluk untuk guru
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam sarangnya dan ikan di laut, semuanya bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Guru yang dimuliakan di bumi karena ilmunya, juga dimuliakan di langit karena menjadi bagian dari kemuliaan Rasul dan Allah.
– Guru sebagai pewaris para Nabi
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Guru yang mengajarkan ilmu dengan amanah dan akhlak adalah penerus misi kenabian, suci secara spiritual dan sosial.
Dalam kitab ihya ulumuddin. Syurutul mu’alim (syaratnya menjadi guru). Imam Al-Ghazali merinci 12 syarat atau adab yang harus dimiliki oleh seorang guru (syurutul mu’allim) agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan keberkahan
12 Syarat Guru Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
1. Kasih sayang kepada murid
– Guru harus memperlakukan murid seperti anak sendiri, penuh cinta dan perhatian.
2. Mengikuti jejak Rasulullah ﷺ
– Dalam akhlak, metode, dan tujuan mengajar, guru meneladani Nabi sebagai pendidik utama.
3. Tidak mengajar demi dunia
– Ilmu disampaikan bukan untuk mencari harta, kedudukan, atau pujian, tetapi demi ridha Allah.
4. Tidak merendahkan ilmu lain
* Guru menghormati semua cabang ilmu, meski bukan bidangnya.
5. Mengajar sesuai kemampuan murid
* Menyesuaikan metode dan materi dengan tingkat pemahaman dan kesiapan murid
6. Tidak memaksakan ilmu yang belum siap diterima
– Guru bijak dalam menyampaikan ilmu secara bertahap dan tidak membebani murid.
7. Menanamkan akhlak sebelum ilmu
– Pendidikan karakter dan adab didahulukan sebelum transfer pengetahuan.
8. Menjadi teladan (uswah hasanah)
* Guru harus mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam perilaku sehari-hari.
9. Tidak menuntut balasan dari murid
– Guru tidak berharap imbalan materi atau pujian dari murid.
10. Menyampaikan ilmu dengan jelas dan sistematis
– Guru harus mampu menjelaskan dengan metode yang mudah dipahami.
11. Mendorong murid untuk terus belajar
– Guru memotivasi murid untuk mencintai ilmu dan terus berkembang.
12. Mendoakan murid
– Guru mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi muridnya, bahkan setelah proses belajar selesai.
