Guru yang Tetap Santri

Guru yang Tetap Santri
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Menjadi guru adalah panggilan mulia. Ia bukan sekadar profesi, tapi ibadah panjang yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan keteladanan. Namun, di tengah gempuran zaman modern yang serba cepat dan digital, muncul pertanyaan yang menggelitik: apakah guru masa kini masih memiliki jiwa santri?

“Santri” di sini bukan sekadar mereka yang pernah mondok di pesantren, tetapi sosok yang berjiwa tawadhu, haus ilmu, taat pada nilai, dan menjadikan akhlak sebagai pusat pembelajaran. Guru yang tetap santri adalah guru yang terus belajar, tidak berhenti di ruang kelas, dan menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai kitab terbuka untuk ditafsirkan dengan hikmah.

Guru yang tetap santri memahami bahwa ilmu bukan untuk disombongkan, melainkan untuk diamalkan dan dibagikan. Seperti santri yang menghormati gurunya, guru sejati juga menghormati ilmu dan muridnya. Dalam dirinya melekat nilai tawadhu’, rendah hati tanpa merasa rendah, bijak tanpa harus selalu didengar.

Dalam dunia pendidikan yang kini cenderung menilai keberhasilan dari angka dan hasil, guru yang tetap santri hadir dengan kesabaran dan kelembutan. Ia mengajarkan nilai sebelum rumus, karakter sebelum hafalan. Ia sadar bahwa anak didik bukan kertas kosong, melainkan benih yang tumbuh sesuai siraman kasih dan doa gurunya.

Kehidupan digital menuntut guru serba cepat dan adaptif. AI, platform pembelajaran daring, hingga teknologi interaktif menjadi kawan baru di ruang kelas. Namun, guru yang tetap santri tidak kehilangan arah. Ia menyambut perubahan dengan bijak, menguasai teknologi tanpa kehilangan ruh pendidikan.

Bagi guru yang berjiwa santri, teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Ia menggunakan teknologi untuk mendekatkan hati, bukan menggantikan kehadiran. Ia sadar, tidak ada algoritma yang bisa meniru ketulusan doa seorang guru kepada murid-muridnya.

Rasulullah saw bersabda,
إَنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَا مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Guru yang tetap santri menjadikan sabda itu sebagai kompas. Ia mengajarkan bukan hanya apa yang benar, tapi juga bagaimana menjadi benar. Dalam kesederhanaan, ia menumbuhkan kemuliaan. Dalam teguran lembut, ia menanamkan nilai. Ia sadar, tugasnya bukan hanya mencetak siswa pandai, tapi membentuk insan beradab.

Dalam tradisi santri, menuntut ilmu adalah ibadah, dan mengajarkan ilmu adalah jihad. Guru yang tetap santri tidak pernah berhenti menuntut ilmu, bahkan dari muridnya sendiri. Ia tahu bahwa setiap hari adalah madrasah, setiap pertemuan adalah pelajaran baru.

Guru seperti ini tidak mudah larut dalam kebisingan dunia pendidikan yang sering penuh kompetisi dan administrasi. Ia menambatkan hatinya pada ketulusan. Karena bagi guru yang tetap santri, penghargaan sejati bukan dari piagam atau sertifikat, melainkan dari keberhasilan muridnya yang tumbuh menjadi manusia baik dan beriman.

Dalam suasana pendidikan modern, kita membutuhkan lebih banyak guru yang tetap santri, guru yang berilmu sekaligus beradab, guru yang cerdas sekaligus ikhlas, guru yang mengajar dengan hati sekaligus mendoakan murid-muridnya setiap malam. Sebab, jika santri belajar untuk menjadi manusia yang taat, maka guru yang tetap santri mengajar untuk melahirkan generasi yang selamat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search