Haedar Nashir: Rumah Sakit Bukan Sekadar Tempat Berobat, tetapi Wujud Dakwah Kemanusiaan

Haedar Nashir: Rumah Sakit Bukan Sekadar Tempat Berobat, tetapi Wujud Dakwah Kemanusiaan
www.majelistabligh.id -

Di balik berdirinya sebuah rumah sakit, ada nilai kemanusiaan yang harus terus dirawat. Bukan hanya tentang gedung yang megah, fasilitas yang lengkap, atau teknologi kesehatan yang semakin maju, melainkan tentang bagaimana kehadirannya mampu memberikan pertolongan dan manfaat bagi siapa pun yang membutuhkan.

Pesan inilah yang ditekankan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., dalam peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA) Malang, Ahad (1/11/2026).

Bagi Haedar Nashir, pembangunan fasilitas kesehatan bukan semata-mata pencapaian fisik sebuah organisasi. Lebih dari itu, rumah sakit merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam tindakan nyata. Kehadirannya harus menjadi ruang pelayanan yang menghadirkan kasih sayang, kepedulian, dan pertolongan tanpa membedakan latar belakang masyarakat.

Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan pengembangan RSIA Muhammadiyah Malang. Dukungan pemerintah daerah, para pemimpin terdahulu, serta masyarakat sekitar menjadi bagian penting dari proses panjang pembangunan fasilitas tersebut. Karena itu, keberadaan gedung baru ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan warga Muhammadiyah, tetapi juga memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat Malang.

Dari Spirit Al-Ma’un Menuju Pelayanan Kemanusiaan

Haedar mengingatkan, kekuatan gerakan Muhammadiyah sejak awal bertumpu pada semangat teologi Al-Ma’un. Nilai yang terkandung dalam surah tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menghafal, tetapi harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan.

Semangat itulah yang mendorong generasi awal Muhammadiyah membangun berbagai amal usaha, mulai dari panti asuhan, lembaga pendidikan, hingga rumah sakit. Ajaran agama tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui kerja-kerja kemanusiaan.

Baca juga: Haedar Nashir Resmikan Dua Gedung Baru RSI ‘Aisyiyah Malang

Dalam konteks tersebut, rumah sakit memiliki makna yang lebih luas daripada institusi pelayanan kesehatan. Rumah sakit menjadi salah satu bentuk nyata dakwah yang menyentuh kebutuhan dasar manusia. Ketika seseorang datang untuk mendapatkan pertolongan, pelayanan yang diberikan harus mencerminkan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Muhammadiyah, menurut Haedar, memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas amal usahanya. Semangat Khairu Ummah atau umat terbaik harus tercermin dalam keunggulan, profesionalitas, dan kualitas pelayanan. Organisasi Islam tidak cukup hanya besar secara jumlah, tetapi juga harus unggul dalam memberikan manfaat.

Melayani Tanpa Sekat, Menjadi Rahmat bagi Semua

Salah satu pesan penting dalam sambutan Haedar adalah tentang inklusivitas Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama, suku, ras, maupun golongan.

Gambaran tersebut dapat dilihat dari kiprah Muhammadiyah di Papua dan sejumlah wilayah dengan penduduk Muslim sebagai kelompok minoritas. Di wilayah tersebut, sekolah dan fasilitas kesehatan Muhammadiyah justru banyak melayani masyarakat non-Muslim.

Fenomena yang dikenal dengan istilah Krismuha (Kristen Muhammadiyah) menjadi salah satu gambaran menarik tentang hubungan kemanusiaan yang tumbuh melampaui batas-batas identitas keagamaan. Kehadiran Muhammadiyah diterima karena masyarakat merasakan langsung manfaat pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang diberikan.

Bagi Haedar, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konsep Rahmatan lil Alamin bukan sekadar gagasan teologis, melainkan nilai yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Muhammadiyah harus menjadi organisasi yang kehadirannya membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Nilai inilah yang relevan untuk terus diperkuat oleh RSIA Muhammadiyah Malang. Setiap pasien yang datang harus mendapatkan pelayanan terbaik, tanpa terlebih dahulu dilihat latar belakang sosial maupun keyakinannya.

Ikhlas dan Amanah, Energi di Balik Besarnya Gerakan

Di balik perkembangan berbagai amal usaha Muhammadiyah, Haedar melihat adanya dua kekuatan mendasar, yakni keikhlasan dan amanah.

Keikhlasan menjadi energi spiritual yang menggerakkan kader untuk terus berkhidmat. Perjalanan membangun lembaga pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial tentu tidak selalu mudah. Namun, semangat untuk memberikan manfaat harus tetap menjadi landasan dalam setiap pengabdian.

Sementara itu, amanah merupakan fondasi kepercayaan masyarakat. Haedar menekankan pentingnya mengelola setiap bantuan dan sumber daya secara profesional, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Pengelolaan yang baik memungkinkan setiap dukungan berkembang menjadi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Kepercayaan publik tidak lahir hanya dari besarnya bangunan atau banyaknya fasilitas yang dimiliki, tetapi dari integritas dalam mengelola dan menjalankan pelayanan. Karena itu, profesionalitas dan tata kelola yang baik harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual.

Haedar juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan berorganisasi. Kebiasaan menjalankan ibadah, termasuk menjaga kedisiplinan salat Subuh, dapat menjadi bagian dari pembentukan etos kerja dan energi kolektif untuk memulai aktivitas secara produktif.

Kemajuan yang Tidak Boleh Berjalan Sendiri

Dengan jaringan amal usaha yang terus berkembang, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan gambaran luasnya jaringan tersebut, yang mencakup 165 perguruan tinggi, 130 rumah sakit, serta lebih dari 300 klinik dan balai kesehatan.

Namun, besarnya jaringan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab untuk memastikan kemajuan dapat dirasakan secara merata. Institusi yang telah berkembang perlu ikut membina dan mengangkat lembaga yang masih kecil atau berada pada tahap awal pengembangan.

Untuk itu, Haedar menekankan pentingnya gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Kemajuan organisasi tidak boleh hanya dinikmati oleh institusi yang telah mapan. Seluruh jaringan harus saling menguatkan agar kualitas pelayanan semakin merata.

Prinsip tersebut menjadi penting dalam pengembangan amal usaha Muhammadiyah, termasuk rumah sakit. Kemajuan sebuah rumah sakit tidak seharusnya hanya diukur dari pertumbuhan gedung dan kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari kualitas pelayanan, kemampuan menjangkau masyarakat, serta kontribusinya dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.

Peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah RSIA Muhammadiyah Malang pada akhirnya membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar bertambahnya fasilitas kesehatan. Ada tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan, memperkuat profesionalitas, dan memastikan setiap kemajuan benar-benar dirasakan masyarakat.

Pesan Haedar menjadi pengingat, dakwah tidak selalu hadir melalui mimbar dan kata-kata. Dakwah juga tumbuh melalui ruang pelayanan, tangan-tangan yang menolong, dan kepedulian yang tidak memilih siapa yang layak menerima manfaat.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya seberapa besar bangunan yang mampu didirikan, melainkan seberapa luas manfaat yang dapat diberikan. Di situlah makna dakwah kemanusiaan Muhammadiyah menemukan wujudnya. (Salmanudin Hafizh – Wakil Ketua PCPM Klodjen Kota Malang)

Tinggalkan Balasan

Search