Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pentingnya peran Guru Besar dalam pembenahan konstruksi ke-Indonesia-an yang menurutnya perlu dibenahi dari hulu. Hal itu disampaikan Haedar di hadapan para guru besar dalam pembukaan Forkom GB-PTMA 2026 itu, Jumat (9/10) di UMY Student Dormitory.
Haedar menyampaikan, cara berpikir konstruksi ke-Indonesiaan harus dimiliki oleh para guru besar. Ia mencontohkan guru besar ilmu politik yang perlu memahami bangunan politik Indonesia sebelum menyelesaikan masalah politik.
“Sehingga, jangan melompat ke masalah. Saya rasa, bangsa ini sering kurang kesabaran termasuk dalam cara membangun sistem,” ujar Haedar dalam sambutannya.
Haedar menilai, ketika ada bagian yang gagal, seluruh bangunan perlu dirombak dan diganti yang baru. Hal ini, menurutnya menghasilkan demokrasi, HAM, dan pluralisme berkembang secara liberal.
“Setelah bergerak secara luas, bangsa ini menjadi tidak mampu menangani banyaknya perubahan tersebut dan hanya menyoroti hal-hal yang bersifat parsial,” imbuhnya.
Pola serupa juga terlihat dalam pengelolaan sumber daya alam. Haedar menilai, segala pro dan kontra soal tambang ramai di hilir, sementara hulunya adalah bumi beserta kekayaannya yang dipergunakan untuk hajat hidup.
Haedar menjelaskan, kekayaan tersebut untuk dimakmurkan dan manusia berperan sebagai khalifah di bumi. Namun, menurut Haedar, konsepnya perlu diluruskan.
“Dalam memakmurkan sumber daya alam ini, jangan dikuras habis-habisan, tetapi juga jangan dibiarkan untuk tidak dikelola,” pungkasnya.
Secara bersamaan, Haedar meminta selain penambahan jumlah, juga harus diimbangi dengan kemajuan PTMA tempatnya. Dia menekankan jumlah guru besar jangan sampai kontra produktif.
“Semakin banyak jumlah guru besar, tapi tidak semakin menambah kemajuan universitasnya,….. maka forum ini harus bisa mengeliminasi,” ungkapnya.
Guru besar yang dipersepsi publik sebagai ‘suhu’, sambungnya, harus bisa memberikan dampak pada masyarakat sekitarnya, tidak boleh menjadi guru besar justru menjadi eksklusif.
“Di situlah fungsi guru besar menjadi sumber inspirasi untuk membangun bangsa,” kata Haedar.
Sementara itu hasil rapat Forkom GB-PTMA, Forum menargetkan Pernyataan Bersama, Rekomendasi Strategis, Matriks Rencana Tindak Lanjut 2026-2027, dan kepengurusan Forkom GB-PTMA periode 2026-2030. Program lintas PTMA dapat dikembangkan melalui konsorsium atau kelompok kerja khusus.
Selanjutnya, akan dihelat agenda rapat komisi Forkom GB-PTMA yang akan berlangsung hingga Sabtu (10/10). Komisi Sosial-Humaniora membahas politik, pemerintahan, dan kebijakan publik, sedangkan Komisi Sains membahas energi, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.
Senada dengan itu, Rektor UMY, Achmad Nurmandi meminta pendampingan dalam melahirkan guru besar di PTMA supaya diselenggarakan secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM).
Nurmandi menelisik, bahwa saat ini program untuk melahirkan jumlah guru besar di PTM sudah dilakukan. Akan tetapi masih belum merata di seluruh kampus Muhammadiyah.
“Jadi, harapan saya dengan adanya MU (Muhammadiyah United), itu nanti bisa TSM. Jadi, kita membantu teman-teman yang sudah Lektor Kepala, Lektor Kepala tetapi ekosistemnya tidak mendukung,” harapnya.
Terkait itu, Ketua Panitia, Sidik Jatmika menjelaskan, saat ini dari 165 PTMA masih ada 117 masih belum memiliki guru besar. Dari semua itu, baru ada sekitar 500 guru besar yang terdistribusi ke 48 PTMA.
Senada dengan yang disampaikan Nurmandi, Sidik Jatmika berharap dari 500 guru besar yang dimiliki PTMA ini dapat dioptimalisasikan untuk mendampingi PTMA lain dalam usaha melahirkan guru besar. (*/tim)
