Hakikat Rezeki

Hakikat Rezeki
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Hakikat rezeki dalam Al-Qur’an adalah segala bentuk pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala — baik materi maupun non-materi — yang halal dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk-Nya untuk ketaatan serta kelangsungan hidup

Suatu hari seseorang menghitung hartanya. Rumah ada, kendaraan ada, tabungan tersimpan, investasi bertambah. Di atas kertas, semuanya terlihat melimpah. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering terlupakan : berapa banyak dari semua itu yang benar-benar telah kita nikmati, manfaatkan, atau menjadi bekal akhirat?.

Sebab, rezeki bukan sekadar apa yang berhasil kita kumpulkan. Rumah yang hanya menjadi angka dalam aset belum tentu menjadi rezeki yang kita rasakan. Uang yang terus tersimpan belum tentu memberikan manfaat. Harta yang kita miliki tetapi tidak pernah digunakan, pada akhirnya hanya menjadi angka dalam catatan kekayaan.

Rezeki adalah apa yang Allah izinkan untuk kita nikmati dan manfaatkan. Makanan yang masuk ke tubuh, pakaian yang kita kenakan, rumah yang memberi tempat berteduh, ilmu yang membuat hidup lebih baik, kesehatan yang memungkinkan kita beraktivitas, serta keluarga yang menghadirkan kasih sayang—semuanya adalah bentuk rezeki.

Bahkan harta yang kita sedekahkan tidak benar-benar hilang. Ia mungkin keluar dari tangan, tetapi menjadi bekal yang nilainya melampaui apa yang sekadar tersimpan di rekening. Karena itu, ukuran rezeki bukan hanya berapa banyak yang dimiliki, melainkan berapa banyak yang memberi manfaat dan keberkahan.

Maka jangan terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya, sampai lupa mensyukuri apa yang sedang kita nikmati. Bisa jadi secangkir kopi yang kita teguk dengan tenang, tubuh yang sehat, keluarga yang masih lengkap, dan hati yang tenteram adalah rezeki yang nilainya jauh lebih besar daripada angka-angka yang kita banggakan.

Sebab kekayaan sejati bukan sekadar banyaknya yang kita miliki, tetapi banyaknya yang menjadi manfaat, syukur, dan bekal menuju kehidupan yang lebih kekal. (*)

Tinggalkan Balasan

Search