Hidup Tenang Sesuai Kemampuan

Hidup Tenang Sesuai Kemampuan
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Hidup tenang dengan pilihan sesuai kemampuan.

Hari-hari ini, kita semua merasakan betapa beratnya kondisi perekonomian. Harga-harga naik, kebutuhan hidup bertambah, sedangkan pemasukan sering stagnan. Dalam keadaan seperti ini, kita dituntut bukan hanya berikhtiar dan bertawakal kepada Allah, tetapi juga harus ekstra sabar dan bijak dalam menentukan pilihan serta mengatur skala prioritas.

Tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki saat ini juga. Ada kalanya, keterbatasan justru menjadi jalan agar kita belajar bersyukur. Misalnya, jika kita tidak mampu menyekolahkan anak di sekolah mahal, kita bisa memilih sekolah yang lebih terjangkau, namun tetap berusaha memberikan perhatian dan pendidikan terbaik di rumah.

Jika tak mampu membeli mobil mewah, pilih mobil sederhana. Tidak mampu membeli mobil? Pakai motor. Tidak mampu beli motor? Pakai sepeda. Tidak mampu naik sepeda? Gunakan kaki kita, yang gratis Allah anugerahkan.

Kadang-kadang hidup terasa ruwet, bukan karena kondisi yang sempit, tetapi karena pilihan kita yang tidak sesuai kemampuan. Terlalu memaksakan diri demi gengsi atau membandingkan diri dengan orang lain, akhirnya berujung pada tagihan dan tunggakan yang menguras ketenangan. Bahkan, kadang pilihan hidup yang tidak bijak juga berdampak pada orang lain–kita meminjam, bahkan meminta bantuan, bukan untuk kebutuhan mendesak, tapi demi memenuhi gaya hidup. Ini tentu sangat disayangkan, karena bisa memberatkan orang lain dan mengurangi keberkahan rezeki.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasihat emas: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR Muslim)

Dengan memandang ke bawah, kita akan sadar masih banyak orang yang hidup lebih sulit. Ini akan menumbuhkan rasa syukur dan mencegah kita memaksakan diri.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata:

“Ketenangan hati dan kebahagiaan hidup tidak akan pernah didapatkan dengan banyaknya harta, tapi dengan ridha kepada Allah, syukur atas nikmat yang ada, dan kesabaran atas ujian.” (Madarij As-Salikin)

Karena itu, jangan takut hidup sederhana. Jangan gengsi berjalan kaki ketika tak mampu naik kendaraan. Jangan malu menyekolahkan anak di sekolah biasa ketika tak mampu yang mahal. Yang terpenting adalah keberkahan hidup, ketenangan hati, dan jauh dari lilitan hutang, serta beban sosial.

Allah pun mengingatkan,

وَفِى السَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
(QS Az-Zariyat: 22)

Ketenangan hidup bukan berasal dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang ridha dengan pembagian Allah. Hiduplah sesuai kemampuan, bersyukurlah atas apa yang ada, dan nikmatilah hidup tanpa banyak tagihan, tunggakan, serta tanpa memberatkan orang lain. Dengan cara itu, in syaa Allah hidup kita lebih lapang, hati kita lebih tenang, dan langkah kita lebih ringan menuju ridha-Nya.

Barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Search