Hikmah di Balik Keretakan Keluarga: Mencari Cahaya dalam Kegelapan

Hikmah di Balik Keretakan Keluarga: Mencari Cahaya dalam Kegelapan
*) Oleh : Furkan Abidin Ali
Anggota Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Keluarga adalah fondasi utama kehidupan manusia. Dari keluargalah lahir cinta, ketentraman, dan keberkahan. Namun, hari ini kita menyaksikan semakin banyak keluarga yang retak, rumah tangga yang hancur, dan anak-anak yang tumbuh tanpa kehangatan dua orang tua. Fenomena ini bukan hanya persoalan pribadi, tapi juga sosial dan spiritual.

Keluarga: Amanah dan Nikmat yang Agung

Allah SWT menciptakan keluarga sebagai tempat berlindung, tempat tumbuhnya cinta dan kasih sayang.

Al-Qur’an mengatakan: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Rumah tangga bukan sekadar ikatan hukum, melainkan ikatan ruhani yang penuh tanggung jawab. Sayangnya, banyak yang memulai pernikahan dengan pesta megah, namun lupa mempersiapkan bekal iman, akhlak, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Penyebab Keretakan Keluarga

Keretakan rumah tangga tidak terjadi seketika. Ia biasanya muncul dari hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi besar.

  • Kurangnya Komunikasi

Pasangan suami istri yang tidak saling terbuka menciptakan jurang yang lambat laun makin lebar. Kebiasaan memendam perasaan, menyalahkan tanpa mendengarkan, adalah api dalam sekam

  • Tidak Menunaikan Peran

Banyak suami yang lalai memberi nafkah lahir dan batin. Banyak istri yang lebih sibuk dengan media sosial daripada mendidik anak. Padahal, dalam Islam, suami dan istri memiliki peran yang sangat mulia dan terhormat.

Allah berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah  melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

  • Ego dan Kurangnya Sabar

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang hamba menahan amarahnya kecuali Allah akan menambahkan kemuliaan baginya.” (HR. Muslim)

Banyak keretakan rumah tangga berawal dari perkara remeh yang tidak disikapi dengan sabar dan bijak.

  • Campur Tangan Pihak Ketiga

Keluarga besar yang tidak bijak, teman yang memberi saran menyesatkan, atau bahkan kehadiran orang ketiga dalam bentuk perselingkuhan — semuanya adalah racun yang bisa menghancurkan rumah tangga.

Ilustrasi Kehidupan

Pak Rahman dan Bu Ani menikah selama 15 tahun. Di awal pernikahan, mereka bahagia. Namun, ketika ekonomi menurun dan komunikasi jarang terjadi, retakan pun muncul.

Pak Rahman lebih banyak bekerja di luar kota, Bu Ani mengurus rumah sendirian. Anak-anak mulai kehilangan arah. Hingga akhirnya, konflik demi konflik berujung pada perceraian.

Namun setelah berpisah, keduanya menyadari: bukan karena mereka tidak saling mencintai, tapi karena mereka tidak saling memahami dan tidak menempatkan Allah di tengah rumah tangga mereka.

Setelah bertahun-tahun, keduanya kembali memperbaiki hubungan — bukan sebagai suami istri, tapi sebagai orang tua yang lebih bijak dan taat kepada Allah. Dari peristiwa itu, mereka belajar bahwa iman dan komunikasi adalah pilar utama dalam mempertahankan rumah tangga.

Meskipun perceraian adalah hal yang dibenci Allah, namun tidak semua perceraian adalah aib. Kadang, Allah mengizinkan sebuah rumah tangga retak untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang sedang terluka.

Allah berfirman: “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)

Dalam setiap keretakan, ada pelajaran:

  • Bahwa cinta harus dibarengi dengan tanggung jawab.
  • Bahwa sabar lebih berharga daripada emosi sesaat.
  • Bahwa doa dan tawakal kepada Allah adalah kekuatan terbesar dalam menjaga keluarga.

Satu-satunya cara menyelamatkan keluarga adalah kembali kepada prinsip-

Prinsip Islam:

  • Salat berjamaah di rumah (menjadi benteng spiritual keluarga).
  • Musyawarah dalam mengambil keputusan.
  • Saling memaafkan dan menasihati.
  • Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan teladan Rasulullah ﷺ sebagai inspirasi.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Keretakan keluarga bukanlah akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi titik balik untuk kembali memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan biarkan keluarga hanya menjadi “rumah” tanpa “rasa”. Jadikan rumah sebagai taman iman dan cinta yang mengantar seluruh anggotanya menuju surga.

“Rumah tangga yang diridai Allah bukan rumah tangga tanpa masalah, tapi rumah tangga yang mampu menyelesaikan masalah dengan iman dan cinta.” (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search