Sejarah panjang umat Islam memperlihatkan bahwa ancaman terbesar yang menyebabkan keruntuhan sebuah peradaban sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam tubuh umat itu sendiri. Perpecahan, hilangnya wibawa (haybah), pudarnya ketakutan musuh terhadap umat Islam, dan rapuhnya persatuan sering menjadi sebab utama runtuhnya kekuatan umat. Hal ini bukan sekadar analisis historis, tetapi telah diberi isyarat langsung oleh Rasulullah ﷺ melalui sejumlah hadits sahih yang menggambarkan dinamika kemunduran internal umat.
Di antara hadis tersebut adalah sabda Nabi ﷺ ketika beliau memohon tiga hal kepada Allah:
سألتُ ربي ثلاثًا ، فأعطاني اثنتينِ ، ومنعني واحدةً… وسألتُهُ أن لَّا يَجْعَلَ بأسَهم بينَهم ، فمنَعَنِيها
“Aku meminta kepada Tuhanku tiga hal. Dua dikabulkan dan satu dicegah.… Aku meminta agar Allah tidak menjadikan kekuatan (kebinasaan) umatku berasal dari permusuhan internal di antara mereka, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan.” (Riwayat Muslim)
Hadis ini merupakan fondasi penting untuk memahami bahwa keretakan internal adalah bagian dari ujian umat sepanjang zaman. Ditambah dengan hadis lain tentang hilangnya wibawa umat dan hilangnya rasa takut musuh, gambaran keruntuhan internal semakin jelas.
1. Allah Tidak Menghapus ‘Permusuhan Internal’
Isyarat langsung dari Rasul** Hadits “Sā’altu Rabbī Thalāthan” memberi gambaran bahwa kehancuran dari luar—seperti bencana kelaparan besar atau serangan global pemusnah umat—tidak akan menimpa umat secara total. Namun, Nabi ﷺ diberi tahu bahwa perpecahan internal, konflik, perebutan kekuasaan, dan saling memerangi adalah sesuatu yang Allah tidak angkat dari kehidupan umat Islam.
Ini menegaskan bahwa:
1. Perpecahan internal merupakan ujian permanen.
2. Konflik internal dapat menyebabkan kehancuran peradaban meski pada saat yang sama jumlah umat sangat besar.
3. Persatuan bukan sesuatu yang otomatis, tetapi membutuhkan usaha moral dan spiritual yang berkelanjutan.
Sejarah telah membuktikan bahwa banyak tragedi besar—jatuhnya Baghdad (1258), keruntuhan Andalusia, konflik politik Abbasiyah, hingga melemahnya Turki Utsmani—lebih banyak dipicu oleh konflik internal daripada tekanan luar.
2. Umat Kini Hilangnya Wibawa Umat: Ketika Musuh Tidak Lagi Takut
Rasulullah ﷺ bersabda:
نُصِرْتُ بالرُّعْبِ مسيرةَ شهرٍ
“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan Allah ke hati musuh-musuhku) sejauh perjalanan satu bulan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
“Rasa takut” (ar-ru‘b) adalah kekuatan moral, psikologis, dan strategis yang membuat musuh gentar sebelum terjadi peperangan. Ini adalah bentuk pertolongan Allah yang memperkuat posisi umat Islam.
Namun bagimana keadaan umat hari ini, dalam hadits lain Rasulullah ﷺ mengabarkan:
ولَنَزِعَنَّ مِن صُدُورِ عَدُوِّكُمُ المَهَابَةَ مِنْكُمْ
“…dan sungguh akan dicabut rasa takut musuh terhadap kalian.” (Riwayat Abu Dawud)
Jika dua hadits ini digabungkan, maka gambaran yang muncul sangat jelas:
Pada masa awal Islam, wibawa umat sangat kuat. Pada masa kemudian, wibawa itu mulai hilang akibat kemerosotan spiritual, intelektual, moral, dan sosial. Hilangnya haibah (wibawa) biasanya terjadi bersamaan dengan hilangnya persatuan internal. Wibawa tidak hilang karena sedikitnya jumlah umat sebab Rasulullah ﷺ justru menyebut umat akan “Banyak tetapi rapuh seperti buih di atas air”.
Wibawa hilang ketika karakter, integritas, dan persatuan berhenti menjadi identitas umat.
3. Ketika Permusuhan Internal Menjadi Penyebab Runtuhnya Kekuatan
Kerap kali umat Islam terfokus pada ancaman eksternal, padahal sejarah Islam membuktikan bahwa “musuh dalam selimut” adalah faktor keruntuhan yang jauh lebih menentukan.
a. Faktor internal yang paling berbahaya:
1. Perselisihan politik yang melahirkan perpecahan berkepanjangan.
2. Fanatisme kelompok yang mengalahkan semangat persaudaraan.
3. Kecintaan berlebihan kepada dunia, sesuai hadits “al-wahn”.
4. Lunturnya keadilan dan amanah, sehingga kepemimpinan melemah.
5. Hilangnya keteladanan moral yang membuat umat tidak lagi dihormati.
b. Sejarah sebagai cermin kejatuhan internal
Andalusia tidak runtuh karena kekuatan Kristen Eropa semata, tetapi karena kerajaan-kerajaan kecil Muslim saling bertikai.
Baghdad jatuh ke tangan Tatar sebagian besar karena pengkhianatan internal dan saling curiga antar-elit.
Kesultanan Utsmani melemah bukan hanya karena Eropa, tetapi juga rusaknya disiplin, korupsi, dan rivalitas internal.
Hadis Nabi ﷺ telah menggambarkan hal ini jauh sebelum peristiwa sejarah itu terjadi.
4. Hilangnya Haibah: Krisis Moral dan Identitas Umat
Hilangnya wibawa bukan semata persoalan politik dan kekuatan militer. Wibawa umat adalah anugerah Allah yang diberikan selama umat memegang:
ketakwaan,
kesatuan hati,
keadilan,
kebersihan niat,
kekuatan moral,
dan komitmen pada sunnah.
Ketika nilai-nilai ini hilang, maka Allah mencabut haibah, meskipun umat masih memiliki jumlah besar, sumber daya, dan kekayaan alam.
Rasulullah ﷺ telah memberi isyarat bahwa wibawa adalah bagian dari pertolongan Allah, dan jika umat meninggalkan prinsip-prinsipnya, maka pertolongan itu akan hilang. Kehilangan wibawa berarti:
suara umat tidak lagi diperhitungkan,
musuh tidak gentar,
umat mudah dipermainkan secara politik,
dan persatuan semakin rapuh.
Hadits-hadits Nabi ﷺ mengajarkan bahwa krisis terbesar umat sepanjang sejarah bukan datang dari luar, tetapi dari internal umat: perpecahan, hilangnya wibawa, rapuhnya identitas moral, dan ketergantungan pada dunia.
Umat akan tetap bertahan selama:
1. menjaga persatuan,
2. menegakkan keadilan dan amanah,
3. memperkuat moral dan spiritual,
4. serta kembali kepada prinsip-prinsip Alquran dan Sunnah.
Hanya dengan itu wibawa (haybah) yang dijanjikan sebagai pertolongan Allah dapat kembali, dan umat mampu bangkit dari dalam dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Kitāb al-Jihād wa al-Siyar, Bāb Nushirtu bi al-Ru‘b.
- Abu Dawud, S. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd. Kitāb al-Malāḥim, Hadith no. 4297.
- Muslim, I. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim.
- Kitāb al-Fitan wa Ashrāṭ al-Sā‘ah.
- Kitāb al-Masājid.
- Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī. (1997). Fatḥ al-Bārī. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
- Al-Nawawī, Y. (2001). Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth.
- Ibn al-Athir. (1997). Al-Kāmil fī al-Tārīkh. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Ibn Khaldūn. (2005). Al-Muqaddimah. Beirut: Dār al-Fikr.
- Hodgson, M. (1974). The Venture of Islam. University of Chicago Press
- Kennedy, H. (2016). The Prophet and the Age of the Caliphates. Routledge.
- Lapidus, I. (2014). A History of Islamic Societies. Cambridge University Press.
- Esposito, J. (2003). The Oxford Dictionary of Islam. Oxford University Press.
- Lewis, B. (2011). What Went Wrong?. Harper Perennial.
