Hari raya Eid al-Fitr sering dipahami secara sederhana sebagai hari kembali makan setelah sebulan berpuasa. Secara bahasa pemahaman ini memang memiliki dasar, sebab kata الفطر berarti membuka puasa atau kembali makan setelah menahan diri.
Namun jika ditelusuri lebih dalam melalui kajian bahasa Arab serta penjelasan para ulama, makna Idulfitri tidak berhenti pada aspek biologis berupa kembali makan. Di baliknya terdapat dimensi spiritual yang lebih dalam, yaitu kembalinya manusia kepada fitrah tauhid.
Tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana makna عيد الفطر bergerak dari pengertian lughowi sebagai “hari berbuka” menuju makna filosofis sebagai momentum kembali kepada tauhid, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, khususnya Ibn Taymiyyah.
Makna Lughowi: الفطر sebagai “Berbuka”
Dalam kajian bahasa Arab, kata الفطر berasal dari akar kata فطر – يفطر yang menunjukkan makna membuka atau memulai sesuatu setelah tertahan. Karena itu dalam tradisi Arab klasik kata ini juga digunakan untuk menunjuk sarapan pagi, yaitu makan pertama setelah seseorang menahan diri dari makan pada malam hari.
Ahli bahasa Arab Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughah menjelaskan:
الفاء والطاء والراء أصل صحيح يدل على فتح شيء وإظهاره
“huruf fa, tha, dan ra memiliki makna dasar membuka atau menampakkan sesuatu.¹
Makna ini tampak pula dalam praktik Nabi ketika merayakan Eid al-Fitr. Dalam hadis riwayat Anas ibn Malik disebutkan:
كان رسول الله ﷺ لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات
“Rasulullah tidak keluar pada pagi hari Idulfitri hingga beliau memakan beberapa butir kurma.”²
Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa Idulfitri secara simbolik menandai berakhirnya larangan makan pada siang hari di bulan Ramadan. Karena itu, secara lughowi عيد الفطر berarti hari berbuka setelah puasa.
Namun para ulama tidak berhenti pada makna literal ini. Mereka melihat adanya dimensi spiritual yang lebih mendalam yang berkaitan dengan konsep fitrah manusia.
Konsep Fitrah dalam Hadits Nabi
Untuk memahami makna tersebut, para ulama mengaitkan istilah الفطر dengan konsep الفطرة (fitrah). Konsep ini bersumber dari hadits Nabi yang sangat terkenal.
Hadis riwayat Abu Hurairah, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, menyebutkan:
ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Tidak ada seorang bayi pun kecuali dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”³
Dalam sebagian riwayat disebutkan:
إلا يولد على هذه الملة
yang berarti bahwa setiap bayi dilahirkan di atas agama ini, yaitu agama tauhid.
Hadis ini menunjukkan bahwa fitrah manusia bukan sekadar keadaan tanpa dosa, tetapi kondisi alami manusia yang cenderung kepada agama tauhid.
Penjelasan Ibn Taymiyyah tentang Fitrah
Penjelasan yang sangat jelas mengenai makna fitrah dikemukakan oleh ulama besar Islam, Ibn Taymiyyah. Dalam karya monumentalnya Majmu’ al-Fatawa, beliau menyatakan:
والفطرة التي فطر الله الناس عليها هي فطرة الإسلام
“Fitrah yang Allah ciptakan pada manusia adalah fitrah Islam.”⁴
Beliau juga menjelaskan bahwa fitrah adalah:
الإقرار بتوحيد الله
yakni pengakuan terhadap keesaan Allah.⁵
Dengan demikian, menurut Ibn Taymiyyah, manusia pada hakikatnya diciptakan dengan kecenderungan untuk mengenal dan menyembah Allah. Penyimpangan dari tauhid terjadi karena pengaruh lingkungan, tradisi, dan pendidikan.
Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله
“Fitrah Allah yang Dia ciptakan manusia di atasnya; tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Ayat ini menunjukkan bahwa struktur spiritual manusia sejak awal diciptakan condong kepada tauhid.
Dari Berbuka Menuju Tauhid
Jika konsep الفطر (berbuka) dan الفطرة (fitrah) dipahami secara bersama, maka makna filosofis عيد الفطر menjadi lebih jelas.
Pada tingkat pertama, Idulfitri menandai berakhirnya ibadah puasa. Setelah sebulan menahan diri dari makan, minum, dan berbagai keinginan duniawi, seorang Muslim kembali makan pada siang hari.
Namun pada tingkat yang lebih dalam, Ramadan adalah proses penyucian jiwa (تزكية النفس). Selama sebulan penuh seorang mukmin dilatih untuk:
mengendalikan hawa nafsu
memperbanyak ibadah
memperkuat hubungan dengan Allah
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih manusia untuk menundukkan keinginan jasmani demi ketaatan kepada Allah.
Ketika Ramadan berakhir, seorang mukmin diharapkan keluar dari madrasah spiritual tersebut dengan kondisi iman yang lebih kuat. Dalam konteks inilah Idul Fitri dipahami sebagai kembalinya manusia kepada fitrah tauhid.
Dengan kata lain, perjalanan Ramadan membawa manusia dari:
pengendalian jasmani → penyucian jiwa → pemurnian tauhid.
Kesimpulan
Kajian bahasa dan teologi menunjukkan bahwa istilah عيد الفطر memiliki makna yang bertingkat. Pada tingkat lughowi, ia berarti hari berbuka setelah puasa. Namun pada tingkat filosofis dan teologis, makna tersebut berkembang menjadi kembalinya manusia kepada fitrah tauhid.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah, fitrah manusia adalah fitrah Islam, yaitu kecenderungan alami untuk mengakui keesaan Allah. Ramadan menjadi proses penyucian jiwa yang mengembalikan manusia kepada orientasi tauhid tersebut.
Dengan demikian, makna عيد الفطر tidak berhenti pada kembalinya manusia kepada makan setelah puasa, tetapi lebih jauh lagi merupakan kembalinya manusia kepada tauhid, yaitu tujuan hakiki dari seluruh ibadah dalam Islam. (*)
Footnote
1. Ibn Faris, Maqayis al-Lughah (Beirut: Dar al-Fikr), kata “فطر”.
2. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-‘Idain, Bab al-Akl Qabla al-Khuruj ila al-‘Id.
3. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Qadar.
4. Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa, Juz 4 (Riyadh: Dar al-Wafa), 246.
5. Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa, Juz 7, 284.
