Ilmu berorientasi akhirat merupakan warisan terbaik bagi keberlanjutan generasi. Namun dalam kehidupan modern, warisan diidentikkan dengan rumah, tanah, tabungan, atau aset berharga lainnya. Bahkan parameter keberhasilan orang tua pun sering diidentikkan dengan seberapa besar kekayaan yang dapat ditinggalkan. Padahal, Islam sejak awal telah menempatkan warisan dalam makna yang jauh lebih luhur yakni ilmu. Dengan ilmu maka akan mengantarkan generasi kepada kemuliaan dunia dan keselamatan akhirat. Sebaliknya dengan harta dan kekayaan justru melahirkan generasi yang rusak karena disibukkan dengan aktivitas duniawi yang melalaikan akhiratnya.
Generasi Emas
Sejarah para nabi bisa menjadi contoh terbaik dalam memberikan warisan. Mereka melahirkan generasi terbaik yang bergulat dengan kekayaan ilmu dan keteguhan iman. Para nabi, ulama, dan orang-orang saleh mewariskan ilmu sebagai cahaya peradaban. Nabi Zakaria bisa diketengahkan sebagai contoh bagaimana mimpi besar agar diberikan anak dengan harapan akan mendapatkan warisan ilmu darinya. Belia berdoa di usia senjanya agar lahor seorang anak guna melanjutkan misi kenabiannya.
Misi kenabiannya adalah mentauhidkan Allah, sehingga sepeninggalnya bisa hidup tenang. Beliau berdoa penuh harap kepada Allah agar diberikan generasi yang akan mengokohkan tauhid. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ ۖ وَا جْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS. Maryam : 6)
Generasi yang mewarisi warisan terbaik akan mendapatkan kebahagiaan tertinggi yang di dalamnya diperuntukkan untuk orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka akan mendapatkan surga, sebagai tempat mulia. Nabi Ibrahim sebagai teladan berharap tentang hal ini. Beliau tidak pernah berdoa agar menjadi pewaris kekuasaan dunia, tetapi memohon warisan surga. Hal ini ditegaskan Al-Quran sebagaimana firman-Nya :
وَا جْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ
“dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan,” (QS. Asy-Syu’ara‘ : 85)
Nabi Ibrahim sangat sadar bahwa warisan terbaik bukanlah harta, melainkan keberlanjutan ilmu, iman, dan keridaan Allah. Oleh karenanya, para sahabat Nabi Muhammad pun menjadi generasi emas bukan karena harta. Banyak di antara mereka hidup sederhana, namun kaya ilmu dan amal. Abu Hurairah, misalnya, tidak dikenal sebagai saudagar besar, tetapi ia mewariskan ribuan hadis yang menjadi rujukan umat hingga hari ini.
Imam Syafi‘i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan ulama besar lainnya juga tidak mewariskan istana atau tanah luas, melainkan ilmu yang terus mengalir pahalanya lintas generasi. Dengan ilmunya, mereka berharap tempat termulia, mewarisi surga sebagai tempat paling mulia dan mengangkat derajatnya. Mereka menyadari bahwa surga merupakan tempat abadi bagi siapa pun berada di jalan takwa. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
تِلْكَ الْجَـنَّةُ الَّتِيْ نُوْرِثُ مِنْ عِبَا دِنَا مَنْ كَا نَ تَقِيًّا
“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam : 63)
Generasi Hamba Dunia
Sebaliknya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa generasi yang mengorientasikan diri pada warisan harta dan kekayaan, hanya akan menghancurkan dirinya. Dengan kata lain, warisan harta dan kemewahan hanya menciptakan generasi yang hancur moralitas dan etikabilitasnya. Dengan kekayaan yang tidak dibingkai ilmu dan iman justru melahirkan generasi yang rapuh. Peradaban runtuh bukan karena miskin, tetapi karena mabuk kemewahan dan melupakan Tuhan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَكَمْ اَهْلَـكْنَا مِنْ قَرْيَةٍۢ بَطِرَتْ مَعِيْشَتَهَا ۚ فَتِلْكَ مَسٰكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِّنْۢ بَعْدِهِمْ اِلَّا قَلِيْلًا ۗ وَكُنَّا نَحْنُ الْوٰرِثِيْنَ
“Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kamilah yang mewarisinya.“(QS. Al-Qasas : 58)
Generasi yang hanya mewarisi harta tanpa ilmu mudah terjebak dalam cinta dunia. Kekayaan menjadi alat untuk memperturutkan hawa nafsu, membuka pintu maksiat, dan menjauhkan diri dari ibadah. Mereka tidak lagi tunduk kepada Allah, tetapi menyembah “berhala modern”berupa kekuasaan, jabatan, nama besar, dan popularitas. Harta yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi sebab kerusakan moral dan sosial.
Oleh karenanya, Al-Qur’an telah menegaskan bahwa pewaris sejati bumi dan kehidupan bukanlah mereka yang berlimpah harta dan fasilitas, tetapi mereka yang memiliki ilmu yang berorientasi akhirat. dengan ilmu akhirat itu mereka adalah orang-orang saleh. Mereka memiliki ilmu yang mendorongnya menaikkan derajat dirinya di hadapan Allah. Mereka khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari perbuatan tak bermanfaat, menunaikan zakat, menjaga kemaluan, menjalankan amanah yang diembannya. Merekalah yang akan mewarisi bumi ini. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَـقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَ رْضَ يَرِثُهَا عِبَا دِيَ الصّٰلِحُوْنَ
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya : 105)
Mencintai generasi bukanlah menyiapkan warisan bernuansa dunia, tetapi mewariskan ilmu, nilai, dan keteladanan. Karena harta akan habis, jabatan dan kekuasaan hanya sekilas, dan popularitas bisa dilupakan. Sementara ilmu yang bermanfaat akan terus hidup, dan mengantarkan pewarisnya menuju kemuliaan dan surga yang penuh kenikmatan.
Surabaya, 26 Januari 2026
