Tiap insan memiliki ujiannya masing-masing.
Ada yang Allah uji dengan sakit—ia mampu menjalaninya, tetapi ia justru kalah dalam ujian karier pekerjaannya.
Ada yang Allah uji dengan kekurangan harta—ia tetap tegar, tetapi ia tumbang dalam menjaga lisannya.
Ada yang Allah uji dengan musibah dan bencana—ia sabar, tetapi ia lemah menghadapi ujian nafsu dan syahwatnya.
Ada pula yang Allah uji dengan karier dan jabatan—ia kuat menghadapinya, tetapi ia rapuh dalam ujian rumah tangganya.
Begitulah seterusnya.
Ujian demi ujian akan selalu hadir selama manusia hidup, sebab kehidupan itu sendiri adalah rangkaian ujian.
Karena itu, jangan pernah merasa diri telah sempurna dalam iman. Belum tentu kita benar-benar beriman bila belum melewati ujian yang menguji keteguhan hati, sebagaimana Allah menegaskan dalam firman-Nya:
اَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?. Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang berdusta.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: 2–3)
Banyak orang merasa cukup hanya dengan mengaku sebagai mukmin. Mereka menjalani hidup dengan biasa-biasa saja, seolah pengakuan iman tidak membawa konsekuensi apa pun.
Padahal, pengakuan iman harus dibuktikan dengan sikap dan tindakan, terutama ketika menghadapi ujian dan cobaan.
Ayat di atas menegaskan bahwa setiap orang yang mengaku beriman pasti diuji untuk membuktikan kebenaran imannya. Allah Maha Mengetahui siapa yang jujur dalam imannya dan siapa yang hanya berpura-pura.
Semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua, agar tetap istiqamah di jalan-Nya. Aamiin.
Semoga bermanfaat.
