Dari isu keagamaan hingga persoalan ketersediaan air bersih, Muhammadiyah terus membuktikan perannya di tengah masyarakat melalui keterpaduan tiga pilar utamanya: gerakan Islam, dakwah, dan tajdid (pembaruan). Ketiga pilar yang dijalankan secara kolektif ini menjadi fondasi utama Persyarikatan dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian keagamaan di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Kamis (22/10/2026).
Talqis menjelaskan bahwa pilar pertama, yaitu gerakan Islam, menjadi pijakan utama seluruh aktivitas Muhammadiyah. Gerakan ini mengombinasikan sumber keagamaan autentik dengan pendekatan keilmuan yang komprehensif, yakni bayani (berbasis teks Al-Qur’an dan Hadis), burhani (penalaran rasional dan ilmu pengetahuan), serta irfani (dimensi batin dan penghayatan).
“Melalui gerakan Islam, Muhammadiyah berupaya membenahi akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah umat. Pembinaan dilakukan secara inklusif dan merangkul. Ketika seseorang bergabung dengan Muhammadiyah, tugas kita adalah membimbing, membina, dan mengajarinya dengan kasih sayang, bukan justru menjauhkannya,” ujar Talqis.
Pilar kedua adalah dakwah, yang diwujudkan melalui aksi nyata di bidang tabligh, pendidikan, advokasi, hingga pelayanan sosial yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Adapun pilar ketiga, tajdid, menjadi ruang bagi inovasi keagamaan dan keorganisasian. Salah satu bentuk konkrit tajdid Muhammadiyah adalah lahirnya porduk pemikiran kontemporer seperti Fikih Air dan Fikih Kebencanaan yang digagas Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
“Isu ketersediaan air bersih, misalnya, bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga keagamaan. Melalui Fikih Air, masyarakat diajak untuk lebih bijak, menghemat, dan bertanggung jawab dalam menggunakan air,” tambahnya.
Kunci Kerja Kolektif dan Pengabdian
Lebih lanjut, Talqis menekankan bahwa keberhasilan ketiga pilar tersebut membutuhkan kontribusi dari seluruh elemen Persyarikatan. Keragaman profesi anggota—mulai dari dokter, guru, petani, mubalig, hingga pengusaha—merupakan aset besar jika dioptimalkan sesuai keahlian masing-masing.
Ia mengibaratkan organisasi seperti bangunan rumah. Setiap komponen, sekecil apa pun, memiliki peran vital untuk saling menopang agar bangunan tetap berdiri kokoh.
“Di bagian mana pun posisi kita dalam ‘bangunan’ ini, jangan pernah meremehkan peran diri sendiri,” pesannya.
Prinsip kerja bersama ini juga menjadi penentu keberlanjutan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, maupun filantropi. Menurutnya, tata kelola kelembagaan dan pembagian peran yang terstruktur adalah kunci agar beban tidak menumpuk pada satu individu semata. (*/tim)
