Jadilah Golongan yang Mendapat Naungan Allah pada Hari Kiamat

Jadilah Golongan yang Mendapat Naungan Allah pada Hari Kiamat
www.majelistabligh.id -

Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk melalaikan kewajiban agama. Peringatan ini khususnya disoroti pada kebiasaan sebagian jemaah yang masih sering terlambat memenuhi panggilan salat Jumat, bahkan ketika khatib telah naik mimbar.

Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Khaidir Sulaiman, dalam Mimbar Jumat TVMu pada Jumat (23/10/2026). Menurutnya, kesadaran tentang hari akhir seharusnya mendorong umat Islam untuk segera memperbaiki ketaatan, salah satunya dengan menyegerakan diri memenuhi panggilan Allah.

Khaidir menyoroti ironi sikap sebagian orang yang sangat disiplin terhadap aturan duniawi—seperti takut terlambat ke kantor karena khawatir disanksi—tetapi justru kurang memberikan perhatian ketika Allah memanggil melalui ibadah. Padahal, kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan menuju masjid sebenarnya sudah terbuka, termasuk melalui pengaturan waktu istirahat di berbagai tempat kerja.

“Kalau kita tidak keluar menuju masjid, itu menandakan kita termasuk orang-orang yang lalai,” ujar Khaidir.

Meraih Naungan Allah di Hari Kiamat

Khaidir juga menekankan pentingnya mempersiapkan amal saleh demi mendapatkan perlindungan Allah Swt di hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Ia merujuk pada hadis tentang tujuh golongan yang kelak mendapat naungan tersebut:

  1. Pemimpin yang adil: Mencakup penguasa negara hingga pemimpin kebijakan yang menerapkan keadilan bagi diri sendiri, keluarga, dan rakyatnya.
  2. Pemuda yang taat: Seseorang yang mendedikasikan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah Swt.
  3. Orang yang hatinya terpaut pada masjid: Mereka yang menjadikan rumah ibadah sebagai bagian penting dalam kehidupan dan aktivitas keagamaannya.
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah: Hubungan yang dibangun atas dasar keimanan dan diwujudkan dalam kebaikan.
  5. Orang yang menolak maksiat karena takut kepada Allah: Seseorang yang mampu menjaga diri dari godaan terlarang demi mengagungkan Sang Pencipta.
  6. Orang yang bersedekah secara ikhlas: Menggunakan harta untuk membantu sesama, membahagiakan keluarga, serta mendukung dakwah dan lingkungan sekitar.
  7. Orang yang berzikir dalam kesendirian hingga meneteskan air mata: Mereka yang mengisi malam dengan tahajud dan doa penuh penghayatan.

Melalui paparan tersebut, Khaidir berharap umat Islam dapat menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk menyeimbangkan tanggung jawab duniawi dan meningkatkan ketaatan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search