*)Oleh: Didik Hermawan, M.Pd
Ketua Ziswaf PC Dewan Masjid Indonesia Pakal
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau kebahagiaannya.” (Arbain An-Nawawi Hadits No. 4)
Berdasarkan potongan hadis diatas, bahwa dalam proses penciptaan manusia terdapat takdir dan ketetapan Allah diantaranya rezeki, ajal, amal, dan celaka atau bahagianya seseorang. Tentunya dalam meniti kehidupan di dunia tidak selalu mudah, banyak batu kerikil yang terkadang membuat manusia mengalami ketidak nyamanannya dalam hidup.
Kadang manusia tidak bisa menerima kondisi buruk yang menimpanya, tetapi manusia hanya bisa menerima kondisi baik saja, seharusnya manusia sadar baik atau buruk suatu hal yang menimpanya itu semua atas kehendak Allah Swt.
Titik terendah manusia dalam meniti kehidupan seperti ujian finansial, ujian dalam rumah tangga, kehilangan orang terkasih, kegagalan setelah usaha yang sangat keras, pengkhianatan, doa yang belum terkabul dan penyesalan atas dosa yang dilakukan, sehingga dunia disebut sebagai darul taklif tempat menjalankan perintah dan ujian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (Al-Anbiya’ ayat 35)
Tentang ayat ini, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan serta maksiat, petunjuk dan kesesatan.”
Ujian dan cobaan dalam hidup seringkali dianggap sebagai cara Allah untuk menguji keimanan dan kesabaran seseorang, serta sebagai sarana untuk menggugurkan dosa-dosa kecil. Islam juga melarang manusia berputus asa dari rahmat Allah, perlunya sikap optimis dan berprasangka baik kepada Allah, fokus pada suatu hal yang bisa diubah dan diusahakan serta berdamai dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT. (*)
