Jangan Biarkan Waktu Mati Sebelum Kita Mati

Jangan Biarkan Waktu Mati Sebelum Kita Mati
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah Sidoarjo dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

#Renungan tentang Waktu yang Sering Kita Sia-siakan

Ada sesuatu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu kita: waktu. Ia tidak dapat disimpan untuk esok, tidak dapat dipanggil kembali ketika telah berlalu, dan tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu. Karena itu, sebagian waktu dihabiskan untuk hiburan tanpa batas, percakapan yang tidak perlu, scrolling tanpa tujuan, tidur berlebihan, atau sekadar larut dalam angan-angan. Kita berkata, “Nanti saja.” Padahal, “nanti” belum tentu menjadi milik kita.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah memberikan peringatan yang sangat dalam:
إِضَاعَةُ الوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ المَوْتِ، لِأَنَّ إِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ، وَالمَوْتُ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا.
*“Menyia-nyiakan waktu lebih berat daripada kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”*¹

Kalimat ini bukan ajakan untuk membenci kehidupan. Justru sebaliknya, ia mengingatkan bahwa nilai kehidupan terletak pada bagaimana waktu digunakan. Seseorang bisa hidup bertahun-tahun, tetapi hanya sedikit bagian dari hidupnya yang benar-benar menjadi amal.

Sebaliknya, seseorang mungkin hidup tidak terlalu panjang, tetapi waktunya dipenuhi ilmu, ibadah, pelayanan, kebaikan, dan manfaat bagi sesama.
Ibnul Qayyim juga menyebut bahwa di antara bentuk pemborosan adalah *waktu yang dibiarkan berlalu tanpa digunakan untuk memperbaiki kekurangan masa lalu atau meraih kebaikan dan kedekatan kepada Allah.*²

Betapa banyak waktu kita yang sebenarnya tidak benar-benar “hilang”, tetapi kita sendiri yang memberikannya kepada sesuatu yang tidak layak memilikinya. Satu jam yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an akan meninggalkan bekas. Satu jam untuk belajar akan menambah ilmu. Satu jam mendampingi anak akan menjadi kenangan. Satu jam membantu orang lain mungkin menjadi amal yang terus dikenang.

Tetapi satu jam yang berlalu dalam kelalaian, tidak akan pernah dapat dibeli kembali dengan seluruh harta yang kita miliki.

Karena itu, Ibnul Qayyim menyebut bahwa di antara pemborosan terbesar adalah menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu. Menurutnya, menyia-nyiakan waktu erat kaitannya dengan panjang angan-angan.³
Maka, jangan hanya bertanya, “Berapa lama lagi aku hidup?” Tetapi tanyakanlah:
“Untuk apa sisa waktu hidupku?”

Sebab, umur bukan sekadar angka yang bertambah setiap tahun. Umur adalah kesempatan yang berkurang setiap hari. Hari ini mungkin kita masih memiliki waktu untuk meminta maaf, belajar, memperbaiki diri, menghafal Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, mendidik anak, membantu sesama, dan mendekat kepada Allah.
Besok, belum tentu.
Maka jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai sebuah kesempatan.

Gunakan waktu sebelum waktu menggunakan kita.
Isi kehidupan sebelum kehidupan meninggalkan kita.

Dan jangan biarkan waktu kita “mati” dalam kelalaian sebelum kematian benar-benar datang.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَأَعِنَّا عَلَى اسْتِعْمَالِهَا فِي طَاعَتِكَ وَمَا يُرْضِيكَ.
“Ya Allah, berkahilah waktu-waktu kami dan bantulah kami menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu dan dalam perkara yang Engkau ridhai.”

Catatan Kaki
1. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1973), pembahasan tentang إضاعة الوقت.
2. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id, pembahasan tentang waktu yang tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki kekurangan dan meraih kebaikan.
3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id, bagian tentang dua bentuk pemborosan terbesar: إضاعة القلب وإضاعة الوقت.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search