#Weruh Sangkan Paraning Dumadi: Tahajud dan Kesadaran akan Hakikat Penciptaan
Dalam khazanah falsafah Jawa, dikenal ungkapan weruh sangkan paraning dumadi, yang secara sederhana berarti memahami asal-usul dan tujuan akhir kehidupan. Weruh berarti mengetahui, sangkan berarti asal, paran berarti tujuan atau arah akhir, sedangkan dumadi berarti sesuatu yang menjadi atau diciptakan.
Ungkapan ini mengandung pesan mendalam: manusia tidak cukup sekadar menjalani kehidupan, tetapi harus memahami dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan ke mana kelak ia kembali.
Filosofi ini dapat direnungkan melalui kisah Bima dalam Serat Dewa Ruci. Perjalanan Bima mencari hakikat pengetahuan bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol pencarian kebenaran dan pengenalan terhadap diri. Manusia tidak cukup mengenali dunia di luar dirinya; ia juga harus berani menyelami batinnya, menundukkan kesombongan, dan mempertanyakan kembali arah kehidupannya.
Dalam perspektif Islam, kesadaran tersebut menemukan pijakan yang tegas dalam firman Allah:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156).
Kita berasal dari Allah, hidup atas karunia-Nya, dan kelak kembali menghadap kepada-Nya. Namun, ironisnya, manusia sering begitu sibuk menjalani kehidupan hingga lupa tujuan kehidupannya sendiri. Kita sibuk mencari harta, mengejar jabatan, membangun reputasi, dan memenuhi keinginan, tetapi jarang bertanya: apakah semua itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya?
Kita pandai merencanakan masa depan, tetapi sering lupa mempersiapkan akhirat. Kita sibuk menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung amal. Kita takut kehilangan dunia, tetapi tidak selalu takut kehilangan arah menuju Allah.
Jangan sampai kita begitu sibuk mencari jalan menuju kesuksesan, tetapi lupa jalan menuju keselamatan. Di sinilah pentingnya weruh sangkan paraning dumadi: kesadaran untuk kembali memahami hakikat keberadaan manusia. Salah satu jalan untuk merawat kesadaran itu adalah tahajud.
Tahajud: Jalan Menyepi di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
Ketika siang, manusia disibukkan oleh pekerjaan, urusan keluarga, tuntutan ekonomi, dan berbagai kepentingan dunia. Pikiran dipenuhi persoalan, sementara hati sering kehilangan ruang untuk merenung. Bahkan ketika tubuh berhenti bekerja, pikiran masih berlari mengejar sesuatu yang belum dimiliki.
Malam menghadirkan kesempatan berbeda. Ketika kebanyakan manusia terlelap, seorang hamba bangkit, berwudu, lalu berdiri menghadap Allah. Ia meninggalkan kenyamanan tempat tidur bukan karena membenci dunia, melainkan karena tidak ingin diperbudak olehnya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 79 agar Rasulullah melaksanakan tahajud sebagai ibadah tambahan, dengan harapan memperoleh kedudukan terpuji di sisi-Nya.
Seruan yang lebih menggugah terdapat dalam QS. Al-Muzzammil ayat 1–2:
“Yā ayyuhal-muzzammil. Qumil-laila illā qalīlā.”
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk salat pada malam hari, kecuali sebagian kecil.”
Allah kemudian menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an pada malam hari lebih kuat pengaruhnya dan lebih mantap bacaannya (QS. Al-Muzzammil: 6). Pada ayat 8, Allah memerintahkan:
“Ważkurisma rabbika wa tabattal ilaihi tabtīlā.”
“Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”
Seruan “Wahai orang yang berselimut, bangunlah!” bukan sekadar panggilan untuk meninggalkan tempat tidur. Ia mengingatkan manusia agar bangkit dari selimut kelalaian, kesombongan, keserakahan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.
Tahajud mengajarkan bahwa ada saatnya manusia berhenti mengejar dunia untuk memeriksa kembali arah hidupnya. Bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan agar ketika kembali menjalani kehidupan, ia melangkah dengan kesadaran yang lebih jernih.
