Jangan Sekali-kali Mengecewakan Hati Orang

Jangan Sekali-kali Mengecewakan Hati Orang
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Mengecewakan hati orang bukan hanya soal etika sosial, tapi juga menyentuh dimensi rohani: hati adalah tempat rasa, harapan, dan kepercayaan. Ketika hati seseorang dikecewakan, yang terluka bukan hanya perasaan, tapi juga hubungan dan nilai-nilai yang menyatukan kita sebagai manusia.

Refleksi spiritual dan etis:
Dalam Islam, menjaga hati orang lain adalah bagian dari akhlak mulia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Maka, menyakiti hati orang lain berarti meretakkan cermin persaudaraan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengecewakan hati bisa terjadi lewat kata-kata yang tajam, janji yang diingkari, atau sikap yang tidak peduli. Tapi sebaliknya, menjaga hati orang lain adalah bentuk ibadah sosial.

Prinsip yang bisa kita pegang:
• Jujur tapi lembut: Kejujuran tidak harus menyakitkan. Kata-kata bisa dirangkai dengan kasih.
* Tepati janji: Janji adalah amanah. Menepatinya adalah bentuk penghormatan terhadap hati orang lain.
* Berempati: Rasakan dari sudut pandang mereka. Kadang yang dibutuhkan bukan solusi, tapi kehadiran yang tulus.

Hati adalah Amanah
Dalam Islam, hati adalah tempat iman, rasa, dan hubungan dengan Allah. Ketika kita mengecewakan hati orang lain, kita bukan hanya melukai perasaan, tapi juga merusak amanah yang Allah titipkan dalam hubungan antarmanusia.

QS Al-Hujurat:11-12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Makna mendalam:
. Ayat ini melarang meremehkan, mengejek, atau mempermalukan orang lain, karena hal itu bisa sangat mengecewakan hati dan merusak persaudaraan.
. Allah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak bisa diukur dari penampilan atau status, melainkan dari takwa dan akhlaknya.
‘ Mengingatkan kita untuk tidak merendahkan, mencela, atau berprasangka buruk, semua itu bisa mengecewakan hati dan merusak ukhuwah.

* Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang menjaga hati setiap orang, bahkan terhadap musuhnya. Beliau tidak pernah membalas dengan kebencian, melainkan dengan kasih dan hikmah.

Beberapa ayat Al-Qur’an menegaskan larangan menyakiti atau mengecewakan hati orang lain, terutama dalam konteks hubungan sosial, keadilan, dan akhlak. Salah satu yang paling kuat adalah QS Al-Ahzab:58.
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا ࣖ
Artinya: Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.

Makna mendalam:
* Ayat ini menegaskan bahwa menyakiti hati orang lain tanpa alasan yang benar adalah dosa besar.
* “Menyakiti” di sini mencakup kata-kata yang melukai, sikap yang merendahkan, atau tindakan yang mengecewakan harapan dan kepercayaan.
* Dalam tafsirnya, para ulama menjelaskan bahwa menyakiti hati orang mukmin bisa berupa celaan, fitnah, pengkhianatan, atau bahkan sikap acuh yang membuat orang merasa tidak dihargai.

QS At-Taubah: 79
اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗسَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Artinya: Orang-orang (munafik) yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela, (mencela) orang-orang yang tidak mendapatkan (untuk disedekahkan) selain kesanggupannya, lalu mereka mengejeknya. Maka, Allah mengejek mereka dan bagi mereka azab yang sangat pedih.

Makna mendalam:
* Ayat ini mencela mereka yang mengejek atau merendahkan niat baik orang lain, yang bisa sangat melukai hati dan memadamkan semangat kebaikan.

Kesimpulan Reflektif
Mengecewakan hati orang bukan hanya soal etika sosial, tapi juga pelanggaran terhadap nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk:
* Menjaga lisan dan sikap agar tidak melukai.
* Menghormati perasaan dan harapan orang lain.
* Menjadi sumber ketenangan dan kasih, bukan kekecewaan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search