Jejak Digital yang Positif, Beginilah Bukti Logis dan Historis Rasulullah

Jejak Digital yang Positif, Beginilah Bukti Logis dan Historis Rasulullah
*) Oleh : Muhammad Arief Rachman M., S.Tr.Kom
Guru SD Muhammadiyah 01 Tanggul, Jember
www.majelistabligh.id -

Nabi Muhammad SAW. Rasulullah dalam sejarah terkenal dengan Sayyidul Amin yakni pemimpin orang-orang yang terpercaya. Bukan sekadar orang terpercaya lagi namun pemimpinnya orang-orang terpercaya.

Itulah poin penting yang disampaikan dalam kegiatan pelatihan literasi digital dengan tema “Be a Digital Hero: Berani Baik di Dunia Maya” yang digelar SD Muhammadiyah 01 Tanggul (SD Muhita), Jember. Kegiatan yang berlangsung di aula kampus 3 SD Muhita, Jumat (9/1/2026) diikuti seluruh siswa-siswi kelas VI.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pedoman kepada siswa-siswi SD Muhita dalam berkarya, memberikan inspirasi, atau memberikan tanggapan yang positif di dunia maya sehingga memberikan jejak digital yang baik.

Dalam kitab Ummul Barahin karya Imam As-Sanusi, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad dan para nabi yang lain memiliki sifat Shiddiq yang berarti jujur atau benar. Yakni benar dalam dakwah kerasulan (risalah) yang dibawanya, benar dalam dalam hukum-hukum yang mereka sampaikan dari Allah, serta benar dalam ucapan yang berhubungan erat dengan masalah keduniaan (jujur ucapannya).

Imam As-Sanusi juga menjelaskan bukti logika bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang benar. Buktinya adalah, seandainya Nabi Muhammad dan para nabi yang lain tidak benar (dalam ucapan maupun tindakannya), maka pastilah berdusta (kidzb) akan khabar Allah, padahal Allah telah membenarkan mereka dengan penurunan mukjizat. Selaras dengan ayat 22 surat Al-Ahzab:

وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۖ وَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ

Artinya: “Ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu justru makin menambah keimanan dan keislaman mereka.”

Makna “mukjizat” sendiri adalah sesuatu yang keluar dari adat kebiasaan, bersamaan dengan tantangan dakwah risalah, tiada tertandingi. Mukjizat bertujuan memberikan bukti kenabian kepada kaumnya agar risalah dapat tersampaikan.

Buktinya dari waktu pertama turunnya Al-Quran hingga sekarang tidak ada bukti sejarah ataupun informasi yang valid seorangpun dapat menandingi satu surat dari Al-Quran, yang mana ayat-ayatnya menggunakan kaidah Bahasa Arab yang benar, serta bisa dihafalkan oleh banyak manusia di seluruh dunia, baik anak kecil, orang awam, orang buta, hingga para ulama. Seperti surat Al-Fatihah yang mampu kita lafalkan ketika shalat 5 waktu.

Karena Allah telah menjaganya dari pengubahan oleh tangan-tangan manusia seperti dalam ayat 9 surat Al-Hijr:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
Artinya: “Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Tantangan Allah juga memberikan bukti bahwa Al-Quran tak dapat tertandingi seperti yang dikabarkan Allah dalam surat Yunus ayat 37 dan 38:
وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِين . أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya: “Tidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.’”

Bahkan orang di luar Islam pun mengakui kejujuran Nabi Muhammad SAW. Thomas Carlyle, seorang filsuf asal Skotlandia, mengatakan bahwa beliau dalam masa hidupnya tak tergoda oleh harta, pangkat, dan jabatan hingga beliau diutus menjadi seorang rasul pada usia 40 tahun. Abu Jahal juga mengakui kejujuran beliau, namun Abu Jahal terbutakan oleh ambisi dan kekuasaan hingga tak jadi beriman.

Dengan adanya acara ini diharapkan siswa-siswi SD Muhita khususnya siswa-siswi kelas 6 dapat memberikan jejak digital yang baik dan menginsipirasi bagi orang lain. (*)

Tinggalkan Balasan

Search