Menjelang Lebaran, suasana selalu berubah menjadi semacam ‘zona sibuk nasional’. Mall penuh, jalan macet, grup WhatsApp tiba-tiba aktif seperti baru dapat kuota gratis. Tapi ada satu fenomena menarik—dan sedikit menggelitik—yang sering terjadi: justru mereka yang tidak berpuasa tampak lebih sibuk, lebih heboh, bahkan lebih repot dibanding yang berpuasa.
Yang berpuasa? Mereka cenderung lebih tenang. Ritmenya melambat, tapi dalam. Fokusnya bukan lagi sekadar dunia yang ramai di luar, melainkan perjalanan batin yang sunyi di dalam. Mereka sedang mengejar sesuatu yang tidak kasat mata: Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Jadi wajar kalau energi mereka tidak habis untuk diskon baju, tapi untuk diskon dosa.
Sementara itu, ‘tim tidak puasa’—entah karena uzur atau alasan lainnya—kadang justru tampil sebagai ‘Panitia Besar Lebaran’. Mereka yang paling rajin survei kue kering, paling update tren hampers, bahkan hafal jadwal buka toko dari yang buka subuh sampai yang tutup tengah malam. Kalau ada lomba ‘siapa paling siap Lebaran’, mereka sudah di garis finish sebelum yang lain mulai lari.
Lucunya, tingkat keribetan mereka bisa melebihi yang berpuasa. Dari drama memilih warna seragam keluarga (yang ujung-ujungnya tetap beda tone), sampai perdebatan sengit soal opor ayam atau rendang—semuanya dijalani dengan penuh dedikasi. Kadang sampai lupa, ini Lebaran atau event organizer tahunan?
Di sisi lain, mereka yang berpuasa justru sedang menjalani ‘kesibukan langit’. Qiyamul lail, tilawah, iktikaf, memperbanyak doa. Bukan berarti mereka tidak peduli Lebaran, tapi prioritasnya jelas: bukan sekadar tampil rapi di hari raya, tapi pulang dalam keadaan suci.
Di sinilah letak keindahannya. Dua dunia berjalan berdampingan: satu sibuk menyiapkan perayaan, satu lagi sibuk menyiapkan diri. Yang satu ribet di luar, yang satu khusyuk di dalam.
Bukan berarti yang tidak berpuasa salah, tentu tidak. Setiap orang punya kondisi dan perannya masing-masing. Hanya saja, fenomena ini seperti pengingat halus—bahwa jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan ‘hari H’, tapi lupa menyiapkan ‘makna H’-nya.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan soal siapa paling rapi bajunya, tapi siapa yang paling ringan hatinya. Dan bisa jadi, yang terlihat paling santai justru sedang bekerja paling keras—di hadapan Allah.
Jadi, kalau merasa lebih sibuk dari biasanya, boleh saja. Tapi jangan lupa: ada yang lebih penting dari sekadar kue nastar—yaitu kesempatan meraih malam yang luar biasa. Jangan sampai kita menang di dapur, tapi kalah di langit. (*)
