Kesalehan kader Muhammadiyah dituntut tidak berhenti pada dimensi ibadah ritual maupun kepedulian sosial semata, melainkan harus bertransformasi menjadi kesalehan peradaban yang berdampak luas bagi masa depan bangsa.
Pesan kunci tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, saat memberikan amanat dalam pembukaan Darul Arqam Madya (DAM) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sleman di Tabligh Institute, Yogyakarta, Rabu (28/10/2026).
Fathurrahman mengulas secara mendalam makna filosofis dari kata umat. Menurutnya, akar kata umat saling bertaut dengan konsep amanah, aman, imam, dan makmum. Ia mencontohkan bagaimana Al-Qur’an menyebut Nabi Ibrahim as sebagai sebuah umat karena kualitas personal yang dimilikinya.
“IMM adalah sebuah gerakan kolektif. Namun, satu individu pun sejatinya mampu merepresentasikan sebuah komunitas besar apabila memiliki kualifikasi yang mumpuni,” ujar Fathurrahman.
Ia menjelaskan bahwa kata umat juga mengandung makna mengarahkan diri pada tujuan yang jelas. Karena itu, kader IMM dituntut memiliki orientasi kritis serta imajinasi kolektif mengenai arah masa depan bangsa.
“Anak IMM harus punya imajinasi masa depan. Mau dibawa ke mana arah Indonesia ini?” tuturnya.
Merujuk pada pemikiran cendekiawan Muslim Majid Irsan al-Kilani, Fathurrahman menegaskan bahwa predikat khaira ummah (umat terbaik) bukanlah status yang melekat secara otomatis, melainkan harus dibuktikan melalui rekam jejak sejarah. Umat yang tangguh perlu dididik, disusun, dan diorganisasikan secara matang, sebagaimana sejarah perjuangan berdirinya Muhammadiyah.
Sebagai bagian dari saksi peradaban, kader IMM dituntut menjadi teladan penuh (uswah) baik dalam menjalankan amar makruf maupun menegakkan nahi munkar. Hal ini membutuhkan sumber daya manusia yang berintegritas tinggi, yakni sosok yang satunya kata dengan perbuatan.
Dalam konteks integritas tersebut, Fathurrahman mengenang almarhum Buya Syafii Maarif sebagai teladan nyata sosok yang bersahaja, berintegritas, dan tidak silau oleh harta duniawi.
Lebih lanjut, ia mengajak kader meneladani tradisi Darul Arqam pada masa Rasulullah saw yang berhasil melahirkan para sahabat berkualitas unggul hingga mampu membentuk ekosistem sosial, politik, dan ekonomi di Madinah. Belajar dari sejarah tersebut, kader IMM masa kini harus berani merumuskan agenda peradabannya sendiri.
“Untuk apa kita hadir? Masalah apa yang ingin kita selesaikan? Nilai apa yang kita perjuangkan? Serta kontribusi apa yang ingin disumbangkan bagi kemanusiaan?” tanyanya retoris.
Fathurrahman mengingatkan bahwa kader IMM adalah calon pemegang estafet kepemimpinan Persyarikatan di masa depan. Ia mendorong seluruh kader untuk tidak ragu mengambil peran sebagai agen perubahan.
“Jangan takut menjadi manusia transformatif. Rezekinya mulia dan dijamin oleh Allah. Risalah dakwah ini harus terus ada yang meneruskan,” pungkasnya. (*/tim)
