Setiap Hari Santri tiba, kita melihat beragam cara untuk merayakannya: upacara, kirab, perlombaan, pengajian, hingga unggahan ucapan di media sosial. Semua itu dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan santri. Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: apa kado terbaik yang bisa kita berikan untuk Hari Santri kado yang manfaatnya tidak berhenti ketika perayaan usai?
Salah satu jawabannya adalah menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya membacanya, melainkan juga berusaha memahami pesan-pesannya dan menjadikannya pedoman dalam berpikir, bersikap, serta bertindak. Dengan begitu, semangat Hari Santri tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan baik yang terus dirawat.
Dari Membaca Menuju Mengamalkan
Dalam Islam, orang yang dekat dengan Al-Qur’an dikenal dengan istilah Ahlul Qur’an. Mereka berusaha menjadikan kitab suci ini sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah menyebutkan keutamaan Ahlul Qur’an sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah dan termasuk golongan pilihan-Nya (HR. Ibnu Majah, no. 215).
Pesan ini mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Al-Qur’an perlu dibangun dengan sungguh-sungguh. Siapakah Ahlul Quran itu?
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ.
Dari Anas bin Malik Ra., dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Rasulullah, menjawab: “Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ibnu Majah No. 215)
Kedekatan itu tidak cukup diukur dari berapa banyak ayat yang dibaca atau dihafal. Al-Qur’an juga perlu hadir dalam keputusan sehari-hari: ketika kita memilih berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang lain, atau menolong mereka yang membutuhkan. Bacaan menjadi semakin bermakna ketika nilai-nilainya ikut membentuk karakter.
Setiap Orang Punya Perjalanan
Surah Fatir ayat 32 menggambarkan tiga kelompok manusia dalam menerima warisan Kitab Allah: mereka yang menzalimi diri sendiri, mereka yang berada di tengah-tengah, dan mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Gambaran ini dapat menjadi cermin untuk mengevaluasi perjalanan kita bersama Al-Qur’an.
Ada orang yang belum menjadikan petunjuk Al-Qur’an sebagai pedoman. Ada pula yang telah menjalankan sebagian ajarannya, tetapi belum konsisten. Sementara itu, ada yang terus berusaha berlomba dalam kebaikan dengan membaca, memahami, merenungkan, dan mengamalkan pesan-pesannya. Pengelompokan ini sebaiknya menjadi bahan introspeksi, bukan alasan untuk menghakimi orang lain. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dalam konteks Hari Santri, pesan ini mengajak kita melihat bahwa menjadi santri dan menghargai perjuangan para santri—bukan semata-mata soal pakaian, gelar, atau kemeriahan acara. Yang tak kalah penting adalah semangat belajar, kesungguhan memperbaiki diri, serta kesediaan membawa ilmu ke dalam tindakan nyata.
Tiga Kebiasaan yang Menghidupkan Semangat Santri
Pertama, segera melakukan amal saleh. Ketika melihat kesempatan berbuat baik, jangan hanya mengaguminya atau menundanya. Kisah Abu Bakar yang dikenal bersegera dalam amal saleh dapat menjadi inspirasi untuk mengambil peluang kebaikan.
Kedua, menghargai waktu. Kisah Umar bin Abdul Aziz yang diingatkan agar tidak menunda pekerjaan mengajarkan pentingnya menggunakan waktu dengan bijaksana. Kesempatan untuk belajar, membantu, dan memperbaiki diri tidak selalu datang dalam keadaan yang sama.
Ketiga, tergerak oleh kebaikan orang lain. Melihat seseorang menjaga amanah, membantu sesama, atau tekun beribadah seharusnya mendorong kita ikut melakukan kebaikan. Bukan untuk pamer atau merasa lebih unggul, melainkan untuk berlomba dengan niat yang tulus.
Langkah Kecil, Dampak yang Berarti
Menghidupkan Al-Qur’an tidak harus dimulai dengan target besar. Kita bisa memulainya dengan berdoa dan memohon pertolongan Allah, menyediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca, serta mempelajari terjemahan dan penjelasan dari sumber tepercaya. Setelah itu, renungkan satu pesan yang bisa diterapkan dalam kehidupan.
Pilihlah tindakan yang sederhana dan nyata. Jika ayat yang dipelajari mengingatkan tentang kejujuran, praktikkan dalam pekerjaan dan pergaulan. Jika pesannya tentang kepedulian, wujudkan dengan membantu keluarga, teman, atau tetangga. Kita juga dapat berbagi pengetahuan sesuai kemampuan, dengan rendah hati dan merujuk pada sumber yang dapat dipercaya.
Rasulullah saw. menjadi teladan utama dalam hal ini. Dalam hadis riwayat Muslim dari Aisyah ra., akhlak beliau digambarkan sebagai Al-Qur’an. Artinya, ajaran kitab suci tidak berhenti di lisan, tetapi tercermin dalam kepribadian dan tindakan. Semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengamalkannya.
Kado yang Tidak Berhenti pada Satu Hari
Hari Santri adalah momentum untuk menghargai peran dan perjuangan santri, sekaligus memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Kado terbaiknya bukan hanya ucapan atau acara meriah, melainkan tekad untuk terus belajar, memperbaiki akhlak, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Mari mulai dari langkah yang sederhana: membaca, memahami, merenungkan, lalu mengamalkan satu pesan kebaikan setiap hari. Kita tidak harus menunggu sempurna untuk memulai. Sebab, semangat Hari Santri akan terasa lebih hidup ketika nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam keputusan, perkataan, dan perbuatan kita hari ini dan seterusnya. (*)
Rujukan
1. Al-Qur’an, Surah Fatir (35): 32.
2. Ibnu Majah, hadis no. 215 tentang Ahlul Qur’an.
3. Muslim, hadis dari Aisyah ra. tentang akhlak Rasulullah saw.
