Suasana penuh khidmat menyelimuti Panti Asuhan Muhammadiyah Magetan pada Ahad pagi. Ratusan jemaah hadir untuk menyimak kajian mendalam dari Ustaz Drs. H. Yoyon Mujiono, M.Si. Ketua Divisi Kader Mubaligh Muda Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur.
Dalam momentum bulan Syawal ini, beliau mengajak jemaah untuk merefleksikan kembali hakikat ibadah sebagai sebuah investasi jangka panjang untuk kehidupan setelah dunia. Kajian lebih spesifik membahas QS Ali Imran 133 – 134
وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ ١٣٣
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (133)
الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَۚ ١٣٤
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (134)
Ustaz Yoyon menekankan, setiap manusia pasti memiliki noda dan dosa. “Sombong kalau ada orang yang merasa tidak punya dosa, ada iblis di hatinya,” tandas Ki Yoyon, panggilan akrabnya.
Oleh karena itu, istighfar bukan sekadar ucapan, melainkan kebutuhan mendesak. Beliau menjelaskan bahwa bersegera memohon ampunan adalah wadah atau jalan pintas yang disediakan Allah, karena tahu manusia lemah, sering khilaf. Namun dengan banyak istighfar Allah akan memberi ampunan dan menyediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
“Istighfar bisa dilakukan kapan saja, yang bakulan sambil jualan bisa tetap istighfar, sambil momong cucu bisa tetap istighfar,” jelasnya.
Menariknya, beliau memberikan sebuah perumpamaan yang mendalam mengenai perbedaan surga dan neraka:
“Surga itu memiliki kunci, yaitu kalimat Lailahaillallah. Namun, neraka tidak memerlukan kunci karena ia tidak memiliki pintu—tempat yang tidak menyediakan jalan keluar bagi yang lalai. Maka, jagalah kunci surga kita sejak sekarang,” kata Ustaz Yoyon.
Sedekah dalam Lapang dan Sempit
Sebagai investasi akhirat, infak dan sedekah menjadi poin utama dalam tausiyah ini. Ustaz Yoyon mengingatkan bahwa ciri orang bertakwa adalah mereka yang tetap memberi, baik di saat memiliki kelebihan harta maupun di saat sedang mengalami kesempitan.
“Di saat kita masih butuh, kepepet, masih sempat mengikhlaskan sebagian yang dimiliki, itu luar biasa,” jelasnya.
Sikap seperti itu cerminan keimanan. Orang-orang beriman sadar bahwa yang ada di kantongnya hanyalah titipan, bukan miliknya. “Kalau memberi di saat longgar, kan lumrah. Tapi memberi di saat sempit itu, karena di hatinya ada iman, yakin Allah SWT akan menjamin rezekinya, yakin Allah Maha Kaya,” tandasnya.
Karena istimewanya infak pula, QS Al Munafiqun: 10 lantas menyinggung lebih dalam.
َاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠
.. Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”
Ki Yoyon lantas menjabarkan, mengapa penyesalan orang yang telah meninggal dan minta dihidupkan kembali, bukan untuk umrah misalnya, tapi untuk bisa bersedekah. “Kalau umrah kan untuk kebaikan pribadi, tapi kalau bersedekah/berinfaq kebaikannya untuk orang banyak.” (*/tim)
