Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pahandut, Kota Palangka Raya menyelenggarakan kajian Ahad Pagi (4/10/2026) di Aula SMA Muhammadiyah Satu Palangkaraya, jl. RTA. Milono KM. 1,5 menghadirkan Wakil ketua PWM Kalteng Ustaz H M Syari’i Abdullah, SPd. Kajian ini mempertegas, visi dan misi Muhammadiyah harus ajarkan, diamalkan dalam setiap aktivitas kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan tema utama “menjadikan hidup lebih bermakna dengan semangat menyebar-luaskan visi dan misi Muhammadiyah”, kajian Ahad pagi ini mengajak jamaah untuk merenungi arti dan makna tujuan Muhammadiyah yang sesungguhnya, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ustadz Syari’i Abdullah memulai kajiannya dengan merujuk kepada ayat suci Al-Qur’an, QS. Al Baqarah : 143, yang mengingatkan, Muhammadiyah sebagai konsep umat pertengahan (Ummatan Wasathan). “Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menolak ekstremisme liberal maupun radikal, serta menyeimbangkan antara dimensi spiritual dan rasional/sains,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, visi dan misi Muhammadiyah bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan perbuatan. Ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengamalkannya, mulai dari diri pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui pengajian PCM Pahandut yang istiqamah, ini mengingatkan, meneguhkan bahwa dalam Muhammadiyah tetap harus ada pengajian.
Pengajian sebagai ruh gerakan Muhammadiyah, maka sudah seyogyanya warga, lebih-lebih pimpinan di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah untuk menggembirakan pengajian Muhammadiyah. Selain untuk menggembirakan gerakan organisasi, menurut Syari’i Abdullah, pengajian juga untuk menyehatkan jiwa, termasuk kesehatan fisik, dan sosial warga Persyarikatan.
“Orang sekarang itu kan banyak resah, bingung dan kaya banyak bimbang dalam hidupnya, itu biasanya jarang datang ke pengajian Muhammadiyah,” ungkap Syari’i Abdullah.
Kajian Ahad pagi ini juga mengajak jamaah untuk merenungkan peran dalam menyebarkan kebaikan dan melakukan dakwah, terutama kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan komunitas-komunitas yang mungkin terpinggirkan atau terlupakan. “Hidup akan terasa bermakna, memiliki arti ketika bisa menyampaikan kebaikan pada sesama,” tuturnya.
Dalam konteks ini, dirinya juga menyoroti pentingnya dakwah di daerah-daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal, serta dalam komunitas-komunitas marginal seperti Muallaf dan kelompok-kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Kajian Ahad pagi PCM Pahandut menjadi momen untuk mendapatkan ilmu serta mendalamkan rasa syukur kepada Allah SWT dan memperkuat komitmen dalam menjalani hidup yang bermakna dan penuh dengan kebaikan. Diharapkan kajian ini menjadi pendorong bagi semua jamaah untuk terus meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi positif bagi masyarakat. (mf)
