Tahun 2025 Masehi hampir tuntas dilewati dengan beragam nikmat Allah, mulai dari umur, kesehatan, rezeki, hingga kesempatan beramal. Seluruh nikmat tersebut layak disambut dengan rasa syukur yang tulus, seraya berharap seluruh amal ibadah diterima dan dosa-dosa diampuni oleh Allah Swt.
“Kapan terakhir kali kita meneteskan air mata? Tangisan bukan semata tanda kesedihan, melainkan bahasa hati yang paling jujur saat kata-kata tak lagi sanggup mewakili doa,” kata Rofiul Wahyudi, Anggota Majelis Tabligh PWM Yogyakarta, dalam pengajian akhir tahun di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, akhir Ahad kemarin.
Ia membagikan pengalaman pribadi saat pulang pengajian dan membagikan makanan kepada seorang lelaki tua yang masih berjuang mencari nafkah di malam hari. Peristiwa tersebut membuat air mata jatuh bukan karena terharu, melainkan karena kesedihan melihat ketimpangan nikmat. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kenyamanan yang dirasakan banyak orang sering berjalan beriringan dengan penderitaan orang lain yang luput dari perhatian.
Rofiul kemudian mengaitkan refleksi tentang air mata dengan kisah Rasulullah Saw bersama istrinya, ‘Aisyah r.a. Diceritakan bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada Aisyah untuk beribadah pada malam hari saat giliran bermalam di rumahnya. Aisyah merelakan dengan penuh keikhlasan, bahkan merasa bahagia melihat Rasulullah mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam salat malam tersebut, Rasulullah menangis tersedu-sedu hingga air mata membasahi janggutnya. Tangisan itu berlangsung lama, bahkan hingga menjelang subuh. Ketika Bilal bertanya alasan tangisan tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa malam itu turun ayat Al-Qur’an yang mengandung lima doa “Rabbana” dalam Surah Ali Imran.
Ayat-ayat tersebut, jelas Rofiul, berisi permohonan agar dijauhkan dari siksa neraka, diampuni dosa besar dan kecil, diwafatkan bersama orang-orang saleh, ditepati janji-janji Allah, serta tidak dihinakan pada hari kiamat. Rasulullah menangis karena kandungan doa tersebut menggambarkan kelemahan manusia di hadapan Allah dan besarnya tanggung jawab sebagai hamba.
Jika Rasulullah saja menangis saat ayat-ayat itu turun, maka umatnya semestinya lebih sering bermuhasabah dan melantunkan doa-doa tersebut dengan penuh kesadaran. Ia mendorong jemaah untuk membiasakan membaca dan menghafalkan ayat-ayat Rabbana, terutama saat bangun malam dan di penghujung doa.
Ia menambahkan, kebanyakan orang jarang mengalami lapar karena ketiadaan bahan makanan. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan kehidupan Rasulullah saw, yang kerap menahan lapar karena seluruh harta yang dimiliki dibagikan kepada orang lain.
Ia mengisahkan pertemuan Rasulullah dengan Abu Bakar dan Umar yang keluar rumah karena lapar, lalu bertamu ke rumah seorang sahabat Anshar bernama Abu Haitam at-Taihan. Sahabat tersebut menyambut dengan penuh kegembiraan, menyuguhkan kurma terbaik, air segar, hingga menyembelih kambing untuk menjamu tamunya.
Usai makan hingga kenyang, Rasulullah menyampaikan pesan yang menjadi inti muhasabah akhir tahun. Setiap nikmat yang masuk ke dalam tubuh, baik makanan maupun minuman, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. “Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan modern yang serba berkecukupan,” jelas Rofiul. (*/tim)
