Keikhlasan dan Kerelaan Orangtua: Fondasi Utama dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Keikhlasan dan Kerelaan Orangtua: Fondasi Utama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Kota Malang
www.majelistabligh.id -

Pendidikan anak usia dini merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan. Pendidikan anak usia dini merupakan tahap krusial dalam pembentukan karakter, kepribadian, dan akhlak seorang anak. Pada masa ini, peran orangtua sangat menentukan karena anak masih dalam tahap perkembangan fisik, emosional, dan spiritual yang sangat peka.

Pada usia 5 hingga 8 tahun, anak mulai mengenal dunia luar lebih luas, berinteraksi dengan teman sebaya, serta mengikuti berbagai kegiatan belajar-mengajar di lingkungan sekolah atau tempat pendidikan lainnya. Dalam proses ini, peran orangtua sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak, tidak hanya secara fisik dan intelektual, tetapi juga dari sisi spiritual dan psikologis. Salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh orangtua dalam mendidik anak sejak usia dini adalah keikhlasan dan kerelaan.

Salah satu tantangan yang sering dihadapi orangtua adalah saat harus melepas anaknya mengikuti kegiatan yang berlangsung beberapa hari, bahkan sampai bermalam di sekolah, jauh dari pelukan rumah dan orang tua. Ketidakpastian dan kekhawatiran menjadi hal wajar, terutama untuk anak yang masih kecil di rentang usia 5-8 tahun. Perasaan was-was dan takut sering muncul terkait dengan keselamatan dan kenyamanan anak.

Namun, keikhlasan dan kerelaan adalah kunci utama yang harus ditumbuhkan oleh orangtua agar proses pendidikan anak berjalan optimal. Ikhlas berarti rela melepaskan anak untuk berkembang mandiri, belajar bersosialisasi, dan menjalani pengalaman baru meski mungkin menimbulkan rasa khawatir sementara. Kerelaan memperkuat optimisme orangtua bahwa Allah SWT akan menjaga dan memelihara anak-anak-Nya yang sedang menapaki jalan pendidikan dan pengembangan diri.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286:

“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا… ”

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Ayat ini memberikan pengertian bahwa segala ujian dan tantangan dalam mendidik anak harus dihadapi dengan kesiapan mental dan keikhlasan, serta yakin bahwa Allah memberi setiap orang batas kemampuan yang mampu mereka tanggung.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:

“مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوْضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ”

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim)

Dalam konteks ini, ketika orangtua rela melepaskan anak untuk menuntut ilmu dan pengalaman, maka Allah akan memberikan ganjaran dan perlindungan yang lebih baik.

Mengapa Keikhlasan dan Kerelaan Itu Penting?

Keikhlasan berarti melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan imbalan duniawi, melainkan karena mengharap ridha Allah SWT. Sedangkan kerelaan menandakan kesungguhan hati dan kebebasan dari paksaan dalam proses mendidik anak. Ketika orangtua mendidik dengan keikhlasan dan kerelaan, maka pendidikan tersebut akan menghasilkan buah yang berkualitas dan berkah.

Orangtua yang ikhlas dan rela mendidik anaknya dengan penuh cinta akan mampu menghadapi segala tantangan, kesabaran dalam membimbing, serta keteguhan dalam menanamkan nilai-nilai Islami. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini biasanya berkembang menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5:

“وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ …”

“(Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan lurus)…”

Ayat ini menegaskan pentingnya niat yang murni (ikhlas) dalam setiap perbuatan yang dilakukan, termasuk dalam mendidik anak agar peribadatan dan amal menjadi berkah dan diterima Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ…” (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya segala amalan tergantung niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi landasan utama bahwa kualitas amal, termasuk mendidik anak, sangat bergantung pada niat yang benar dan ikhlas.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kasih sayang dan kelembutan dalam mendidik anak, yang hanya akan tercapai jika orangtua rela dan ikhlas berharap kebaikan bagi anaknya tanpa pamrih:

“رَفَقًا بالقَارِعَةِ أَوْ أخَفِّ” (رواه مسلم)

“Bersikap lembutlah kepada yang kecil di antara kalian…” (HR. Muslim)

Untuk menumbuhkan keikhlasan dan kerelaan, orangtua dapat mengambil beberapa langkah penting. Pertama, orangtua dianjurkan untuk berdoa dan memohon perlindungan Allah agar anak-anaknya selalu dijaga selama mengikuti berbagai kegiatan, diberikan keselamatan, serta kelancaran dalam setiap aktivitasnya. Doa ini menjadi bentuk keimanan sekaligus pengharapan agar segala sesuatu yang dilakukan anak mendapat ridha dan pertolongan dari Allah.

Selanjutnya, orangtua perlu membangun kepercayaan kepada guru dan lingkungan pendidikan. Memahami bahwa para pendidik dan pengelola kegiatan memikul tanggung jawab besar untuk menjaga dan membimbing anak-anak secara profesional dan penuh perhatian, dapat membantu meredakan rasa khawatir yang sering muncul.

Selain itu, membekali anak dengan pengetahuan dan sikap mandiri menjadi hal penting. Dengan kemampuan merawat diri, berkomunikasi, dan beradaptasi terhadap lingkungan baru, anak-anak akan lebih siap menghadapi tantangan, sekaligus mengurangi kecemasan tidak hanya pada anak tetapi juga pada orangtua.

Yang tak kalah penting adalah menguatkan mental orangtua dengan perilaku positif. Menghindari ungkapan pesimis dan menggantinya dengan kata-kata motivasi serta dorongan yang membangun kepercayaan diri anak akan menciptakan suasana yang harmonis. Dengan demikian, keikhlasan dan kerelaan tumbuh dalam hati orangtua, siap melepas anak mengikuti proses pendidikan yang berharga.

Dalam mendidik anak, orangtua hendaknya meniatkan seluruh proses pendidikan sebagai ibadah yang semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. Pendidikan anak bukanlah ajang pamer atau membandingkan kemampuan dengan orang lain, melainkan sebuah tanggung jawab suci yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.

Kesabaran dan keteguhan hati wajib dimiliki oleh orangtua dalam membimbing anaknya. Meskipun terkadang menemui berbagai kendala atau ketidaksempurnaan dalam perkembangan anak, orangtua harus tetap istiqamah menjalankan peran tersebut tanpa putus asa.

Memberikan kasih sayang dan perhatian adalah fondasi utama dalam menciptakan rasa aman dan percaya diri pada anak. Dengan cinta yang tulus dari orangtua, anak dapat tumbuh berkembang secara optimal dan merasa dihargai.

Orangtua juga disarankan menjauhi segala bentuk paksaan dan tekanan dalam proses pendidikan. Mengizinkan anak tumbuh dan belajar secara alami akan mendorong perkembangan yang sehat dan optimal sesuai potensi yang dimiliki.

Selain itu, doa yang dipanjatkan orangtua secara rutin bagi anak-anaknya adalah amalan yang sangat mustajab dan memiliki peranan penting. Dengan doa yang tulus, orangtua memohon agar anak-anak selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT dalam setiap langkah hidupnya.

Kerelaan dan keikhlasan orangtua dalam mendidik dan melepas anak mengikuti kegiatan adalah unsur penting untuk tumbuh kembang anak yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan niat yang tulus dan hati yang rela, orangtua bisa menanamkan nilai-nilai luhur dan akhlak mulia yang menjadi bekal anak dalam menempuh kehidupan. Pendidikan yang dimulai dengan ikhlas tidak hanya membentuk generasi cerdas, tetapi juga generasi yang bertakwa dan berbudi pekerti luhur. Dalil dari Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk ikhlas dalam setiap ujian dan menegaskan bahwa Allah terus menjaga setiap langkah proses pendidikan anak.

Dengan menanamkan kepercayaan yang kokoh kepada Allah, ditopang pembekalan yang baik, dan komunikasi terbuka antara anak, orangtua, dan pendidik, kekhawatiran dapat diminimalisasi. Sehingga, proses pembelajaran dan pengalaman baru akan menjadi media efektif untuk membentuk karakter anak yang mandiri, percaya diri, dan berakhlak mulia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search