”The hand that gives is more noble than the one that receives; be a light in the darkness of others so that Allah will illuminate your path.”
“(Tangan yang memberi lebih mulia daripada yang menerima; jadilah cahaya bagi kegelapan orang lain agar Allah menerangi jalanmu).”
Manusia hakikatnya adalah makhluk sosial yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan dan saling melengkapi. Dalam pandangan Islam, sifat saling menolong bukan sekadar etika pergaulan, melainkan manifestasi nyata dari kemurnian iman.
Allah SWT memberikan tuntunan yang jelas dalam Al-Qur’an agar setiap hamba-Nya membangun sinergi dalam kebaikan, sebagaimana firman-Nya:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ
“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…”(QS. Al-Ma’idah: 2).
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah tegas bagi setiap mukmin untuk saling bahu-membahu dalam kebajikan demi menggapai rida Allah serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Ketulusan seorang hamba dalam meringankan beban sesama akan mengundang rahmat-Nya yang tak terhingga. Rasulullah SAW menegaskan janji langit ini dalam sebuah hadis, Dari bu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.”(HR. Muslim no. 2699).
Hadis di atas menegaskan hukum “balasan setimpal” (Al-jaza’ min jinsil ‘amal). Siapa pun yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan melapangkan kesulitannya, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kemanfaatan bagi orang lain merupakan standar derajat kemuliaan seseorang di mata Sang Khalik.
Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini masjid Nabawi. selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani No.13280).
Pesan ini menyadarkan kita bahwa menolong sesama tidaklah selalu identik dengan materi. Senyuman yang tulus, bantuan tenaga, hingga kesediaan menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang sedang berduka adalah bentuk kesalehan sosial yang sangat berharga.
Mari kita jadikan perilaku tolong-menolong sebagai gaya hidup dan karakter utama, agar kita tidak hanya menjadi pribadi yang baik secara ritual, tetapi juga menjadi pribadi yang dicintai oleh Sang Pencipta karena manfaat yang kita tebar di muka bumi.
Semoga bermanfaat.
