Nabi dan rasul senantiasa menghadapi model manusia yang menolak risalah yang disampaikannya. Para penolak risalah itu ketika menempel kekafiran di dalam hatinya. Ketika kekafiran melekat, maka dakwah yang sampai kepadanya selalu ditolak. Mereka menolak kebenaran, meskipun berbagai argumen disampaikan dengan jelas. Al-Qur’an memberi ilustrasi bahwa meskipun dihadirkan malaikat hingga mayat yang bisa dihidupkan kembali, hati yang kafir sulit menerima. Dengan kata lain, kekafiran total bukan hanya memarginalisasi akal sehat, tetapi menutup celah apapun bagi hati untuk menerima risalah profetik.
Perintah Berdakwah
Para rasul mendapat tugas berat untuk menyampaikan risalah profetik, dan pada saat yang sama berhadapan dengan kaum yang gigih menolaknya. Dengan kata lain, merupakan sunnatullah bahwa dalam sejarah, para rasul menghadapi para penolak risalahnya.
Para utusan Allah datang dengan hujjah yang jelas dan jernih. Mereka menginginkan kaumnya mengikuti dakwah untuk hidup mulia di dunia dan akherat. Namun ketika kekafiran telah menempel pada hati mereka, maka akal sehat dan nurani pun terkunci. Oleh karenanya, apapun penjelasan disampaikan rasul, para penolak kebenaran dengan serta merta menolaknya.
Penolakan terhadap risalah profetik terus berlangsung meski bukti paling spektakuler dihadirkan. Al-Qur’an mengilustrasikan bahwa meskipun malaikat didatangkan, mayat dihidupkan dan bisa berbicara, untuk dihadirkan, niscaya akan ditolaknya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ
Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-An‘ām: 111)
Nabi Nūh berdakwah ratusan tahun, menyeru siang dan malam, secara terbuka dan rahasia, tetapi kaumnya menutup telinga, menutup baju mereka, dan tetap menyombongkan diri (QS. Nūḥ: 5–7). Ketika bahtera mulai dibangun di atas perintah Allah, mereka mengejeknya, padahal tanda-tanda azab kian dekat. Saat banjir besar datang, baru menyadari, namun sudah terlambat. Kesabaran Nūḥ bukan kesabaran pasif. Kesetiaan bertahun-tahun pada metode dakwah yang lembut, argumentatif, dan konsisten meski ditertawakan.
Nabi Hud menghadapi kaum ‘Ād yang merasa paling perkasa, menolak dakwahnya. Beliau mengingatkan mereka pada nikmat Allah dan bahaya kesombongan (QS. Hūd: 50–60), tetapi kesadaran tidak tumbuh dari berbagai bukti kebenaran. Hati yang congkak justru menafsirkan peringatan sebagai ancaman terhadap status quo. Azab angin yang sangat dingin dan kencang menjadi akhir tragis dari penolakan yang membatu. Mereka keras kepala, bukan karena ketidakjelasan argumen.
Lebih gamblang lagi pada kisah Nabi Ṣāliḥ dengan unta betinanya. Mu‘jizat unta betina tidak membuat kaum Tsamūd percaya tetapi justru sombong dan congkak. Bahkan mereka justru bersekongkol untuk menyembelihnya (QS. Al-A‘rāf: 73–77; Hūd: 61–68). Inilah pola “bukti-balas menolak”. Mu‘jizat tidak menggeser hati yang telah mengeras. Yang terjadi justru mengkriminalisasi kebenaran. Nabi Shalih tetap bersabar dengan memberi tempo tiga hari, memperingatkan tanpa dendam, sampai ketetapan Allah datang.
Kisah Nabi Musa jauh lebih jelas. Didatangkan ayat-ayat berlapis, mulai dari tongkat menjadi ular, tangan bercahaya, dan bencana-bencana yang diangkat setiap kali Fir‘aun berjanji lalu mengingkari (QS. Al-A‘rāf: 130–135). Bahkan setelah para ahli sihir beriman, Fir‘aun tetap mengeraskan hati. Bukannya tunduk, Fir’aun justru semakin membabi buta penolakannya hingga Allah menenggelamkannya.
Nabi Muḥammad juga berdakwah begitu sabar kepada kaum Quraisy. Mereka berkali-kali mengajukan tuntutan irrasional, “Jatuhkan langit berkeping-keping,” “Datangkan malaikat,” “Ubah bukit Ṣafa menjadi emas,” atau “naik ke langit lalu turunkan kitab yang kami baca” (lihat QS. Al-Isrā’: 90–93). Bahkan mereka meminta bulan dibelah” (QS. Al-Qamar: 1–2). Bahkan mereka berkata, “Sihir yang terus-menerus.” Namun Nabi Muhammad bersabar hingga nabi dimenangkan di berbagai peperangan, sehingga Quraisy pun ditaklukkan hingga masuk Islam tanpa kecuali.
Semua contoh di atas menjelaskan firman Allah bahwa bagi setiap nabi ada musuh dari kalangan jin dan manusia. Mereka membisikkan kata-kata manis untuk menipu, dan itu terjadi dengan izin Allah sebagai ujian, maka para nabi diperintahkan untuk meninggalkan apa yang mereka ada-adakan.
Kesabaran Profetik
Telah menjadi sunnatullah bahwa nabi diutus akan berhadapan dengan kelompok pendusta. Pendusta bukan sembarang pendusta tetapi pendusta yang tidak akan menerima apapun aladsan dan penjelasan. Al-Qur’an mengabadikan hal itu sebagaimana firman-Nya :
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗا ۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ
Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya; maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An‘ām: 112)
Maka, kesabaran profetik selalu berbentuk tiga hal. Pertama, kemapanan intelektual, dimana para rasul terus menerus menghadirkan hujjah meski ditolak. Kedua, keteguhan moral dimana tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ketiga, tawakkal strategis, dimana pindah fase dakwah saat diperlukan tanpa memupuk dendam. Penolakan kaum bukan tanda rapuhnya kebenaran, melainkan cermin kerasnya hati. Bila hati tertutup, bahkan kehadiran malaikat atau orang mati yang dihidupkan tidak akan memantik iman; tetapi bila hati terbuka, isyarat yang sederhana pun cukup untuk menerima kebenaran.
Surabaya, 22 September 2025
