Kadang hati kita merasa galau, sedih, gundah gulana, hidup terasa sesak, sempit, dan “sumpek”. Padahal, pada saat itu kita sedang tidak ada masalah, kebutuhan sehari-hari tercukupi, dan tidak punya pinjaman (utang). Perasaan -perasaan semacam itu seringkali muncul karena memang hati kita yang sedang “bermasalah”.
Hati kita yang sedang sakit dan butuh obat. Ketika hati kita baik, maka insya Allah kondisi kita pun baik, tidak peduli apakah kita sedang sendiri, tidak ada teman di sekeliling kita, atau tidak ada orang yang memberikan apresiasi dan pujian atas apa yang kita lakukan.
Dalam kondisi hati semacam itu, kita tidak membutuhkan dan tidak peduli lagi dengan penilaian manusia. Karena dalam kondisi hati yang baik dan “hidup”, kita tahu bahwa kita tidak lagi membutuhkan penilaian manusia. Namun, fokus kita adalah bagaimanakah Allah Ta’ala melihat dan menilai atas apa yang telah kita perbuat.
Pada hari kiamat kelak, Allah Ta’ala akan menyingkap dan membongkar semua yang selama ini kita sembunyikan dalam hati kita. Allah Ta’ala berfirman,; “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thariq: 9)
Oleh karena itu, manusia yang cerdas adalah manusia yang fokus untuk memperbaiki kondisi hatinya. Karena amalan-amalan lahiriyah merupakan hasil dan cerminan dari apa yang tersembunyi di dalam hati. Mengapa ketika sendiri, manusia merasa butuh mencari teman?
Sebagian kita lebih senang di keramaian, butuh teman untuk jalan-jalan, nongkrong di cafe, mal, dan tempat-tempat ramai lainnya. Mengapa kita sedih saat tidak punya teman? Padahal Allah Ta’ala bisa dan mampu untuk membuat kita bahagia tanpa ada satu orangpun di sekitar kita.
Lihatlah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, beliau lebih memilih penjara daripada berzina. Padahal ketika di penjara, kemungkinan besar beliau akan sendirian, tidak punya teman. Hal ini karena Nabi Yusuf ‘AS, memiliki Allah Ta’ala, Dzat Yang Mahakuasa, yang akan memberikan kebahagiaan, meski di penjara, meski tanpa siapa pun, meski tanpa memiliki apapun.
Penjara bagi beliau (Nabi Yusuf ‘AS) adalah waktu terbaik untuk bisa menyendiri bersama Allah Ta’ala, memperbanyak ibadah, memperbanyak salat, dzikir, membaca Al-Quran, tafakur, tanpa ada siapapun yang mengganggu. Kalaupun beliau diasingkan, beliau menganggapnya sebagai rekreasi, bepergian ke tempat baru. Dan kalaupun beliau pada akhirnya dibunuh, maka itu adalah kematian yang beliau rindukan karena mati dalam keadaan syahid, meskipun tidak punya teman. Hal ini karena beliau telah menjadikan Allah Ta’ala sebagai teman dan kekasihnya.
Maka, kisah diatas adalah perwujudan dari perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Tsur kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).
Lalu, mengapa kita mudah bosan ketika duduk sendiri berdzikir, membaca Al-Quran, atau belajar ilmu syar’i? Al-Khattabi rahimahullah berkata, “Sebagian ahli hikmah mengatakan, ‘Seseorang merasa kesepian ketika dia sendirian karena hatinya kosong dan tidak memiliki keutamaan dari dirinya sendiri; maka ia merasa perlu bergaul dengan orang lain untuk mengusir rasa sepi itu dengan keberadaan mereka. Namun, jika dirinya memiliki keutamaan, maka ia justru akan mencari kesendirian untuk membantunya dalam berpikir dan fokus dalam menggali hikmah.’” (Arsyif Multaqa Ahl al-Ḥadits, 61: 263)
Lihatlah bagaimana keadaan para ulama, para penulis, pemikir atau cendekiawan, mengapa mereka tidak merasa bosan ketika sendirian? Bahkan para ulama dulu sangat kuat duduk sendiri di perpustakaan selama berjam-jam untuk menelaah kitab dan belajar, menulis kitab hingga berjilid-jilid yang kita pun mungkin tidak akan mampu selesai membacanya sampai kematian menjemput kita.
Hal ini karena hati mereka “terisi”, pikiran mereka “terus berjalan”, sehingga ketika sendiri, mereka tidak merasa kesepian. Sebaliknya, orang yang merasa kesepian saat sendiri, mereka adalah orang-orang yang hatinya kosong. Lalu dia pun mencari teman untuk ngobrol atau nongkrong.
Salah satu cara untuk mengisi hati yang kosong adalah dengan bertamasya ke rumah sakit. Di sana kita bisa menyaksikan bagaimana pasien berjuang mempertahankan nyawanya dari kematian.
Ketika hati kita kosong, tanpa kita sadar kita pun mencari teman. Padahal ketika nongkrong dengan teman-teman yang tidak baik, yang dibicarakan hanyalah pencapaian duniawi, pamer kesuksesan, menjatuhkan atau merendahkan orang lain, atau menggunjing dan membongkar aib (kejelekan) orang lain (ghibah).
Ya, itulah tanda hati yang miskin, hati yang kosong, yang selalu merasa butuh teman, dan tidak bisa merasa bahagia ketika sendirian. Jika memang demikian, maka isilah hati kita dengan dzikir kepada Allah, yang bisa kita temui kapan saja tanpa harus membuat janji meeting terlebih dahulu. Allah Ta’ala membuka pintu tobat kapan saja, selama kita mendatangi-Nya dalam salat dan sujud kita.
Selain itu, renungkanlah kondisi orang orang yang telah meninggal dunia (dialam kubur). Mereka sepi sendiri di sana, menunggu datangnya hari kiamat selama bertahun-tahun lamanya, tanpa teman satu pun. Maka, latihlah diri kita untuk merasakan nikmat dan lezatnya ibadah kepada Allah Ta’ala meskipun dalam kondisi sendirian.
Kita bangun malam, mengambil air wudu, lalu salat malam, berdoa, berdzikir mengingat Allah Ta’ala. Jika kita belum mampu merasakah lezatnya ibadah dikala sendirian seperti itu, maka itulah hati yang kosong, hati yang sakit, yang butuh segera diobati.
Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup, dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim no. 2965)
“Suka mengasingkan diri”, maksudnya adalah tidak menampakkan amalnya kepada orang lain. Dan inilah musibah kaum muslimin saat ini, ketika sebagian mereka senang memposting aktivitas ibadahnya di media sosial. Dia pun suka mengecek berapa yang sudah like, comment, dan share. Itulah kondisi hati yang kosong dari mengingat Allah Ta’ala. Sekali lagi, itulah tanda hati yang kosong dan butuh segera diobati sebelum menjadi hati yang mati. (*)
