Kembali kepada Al-Qur’an, Nafas Gerakan, Ruh Kader dan Cahaya Peradaban

Kembali kepada Al-Qur’an, Nafas Gerakan, Ruh Kader dan Cahaya Peradaban
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
www.majelistabligh.id -

Di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat, ketika dunia berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, satu pertanyaan mendasar perlu terus kita ajukan kepada diri sendiri sebagai kader Persyarikatan, dari mana kita mengambil arah?

Muhammadiyah lahir bukan dari kegelisahan kosong. Ia lahir dari kesadaran mendalam bahwa umat ini harus kembali kepada sumber asasi ajaran Islam, Al-Qur’an dan Sunnah. Tajdid yang dirintis oleh Kiai Ahmad Dahlan bukanlah sekadar pembaruan organisasi, melainkan pembaruan cara berpikir dan cara beragama—yang bertumpu pada wahyu sebagai fondasi.

Namun pertanyaan reflektifnya adalah, sejauh mana kita, sebagai kader hari ini, benar-benar hidup bersama Al-Qur’an?

Kita mungkin aktif di struktur. Kita mungkin sibuk mengelola amal usaha. Kita mungkin hadir di berbagai forum musyawarah dan pelatihan. Tetapi apakah Al-Qur’an masih menjadi poros kesadaran kita, atau ia perlahan bergeser menjadi simbol identitas semata?

Al-Qur’an bukan sekadar sumber legitimasi teologis gerakan. Ia adalah ruhnya. Tanpa interaksi yang hidup dengan Al-Qur’an, gerakan bisa tetap berjalan, tetapi kehilangan daya ruhaniah. Ia bisa tampak kuat secara struktural, tetapi rapuh secara spiritual.

Sebagai kader Persyarikatan, kita dituntut untuk berfikir jernih, rasional, sistematis. Tetapi kejernihan akal tanpa cahaya wahyu bisa berubah menjadi kecerdasan yang dingin. Kita mungkin mampu merumuskan strategi, tetapi kehilangan kepekaan batin. Kita mungkin mampu berbicara tentang kemajuan, tetapi lupa pada kedalaman iman.

Mengapa kita perlu berinteraksi dengan Al-Qur’an? Karena ia bukan hanya kitab hukum. Ia adalah pembentuk jiwa. Ia bukan hanya referensi dalil. Ia adalah pembimbing nurani.

Al-Qur’an hadir untuk menghidupkan hati. Dalam bahasa wahyu, ia menyeru kepada sesuatu yang “menghidupkan” manusia. Hidup di sini bukan sekadar bergerak dan berpikir. Hidup adalah kesadaran akan tujuan, kesadaran akan tanggung jawab, dan kesadaran akan pertanggungjawaban.

Kader Muhammadiyah tidak boleh hanya hidup secara organisatoris. Ia harus hidup secara ideologis dan spiritual. Dan kehidupan itu hanya mungkin jika Al-Qur’an menjadi bagian dari denyut hariannya.

Ada bahaya laten yang sering tidak disadari, ketika aktivitas dakwah justru menjauhkan kita dari keintiman dengan wahyu. Kita berbicara tentang Islam hampir setiap hari, tetapi jarang duduk tenang bersama Al-Qur’an tanpa agenda, tanpa mikrofon, tanpa forum. Kita menyampaikan ayat kepada orang lain, tetapi lupa membiarkan ayat itu menegur diri sendiri.

Padahal, pembaruan sejati selalu dimulai dari hati.

Kiai Ahmad Dahlan tidak memulai gerakan dengan pidato politik. Ia memulai dengan mengajarkan tafsir Surah Al-Ma’un berulang-ulang. Mengapa? Karena beliau ingin membentuk kesadaran. Beliau ingin Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjelma menjadi aksi sosial.

Di situlah letak keagungan interaksi dengan Al-Qur’an, ia mengubah orientasi hidup. Ia membuat seseorang tidak lagi beragama secara formal, tetapi fungsional. Ia melahirkan kepedulian, keberanian, dan kejujuran.

Namun transformasi itu tidak lahir dari hubungan yang dangkal.

Interaksi dengan Al-Qur’an berarti memberi ruang bagi ayat untuk mengoreksi kita. Ketika membaca tentang keadilan, kita bertanya, apakah keputusan kita sudah adil? Ketika membaca tentang amanah, kita bertanya, apakah jabatan yang kita emban sudah kita jalankan dengan jujur? Ketika membaca tentang kesombongan, kita bertanya, apakah hati kita benar-benar bersih dari rasa superioritas?

Tanpa refleksi seperti itu, Al-Qur’an hanya menjadi teks. Dengan refleksi, ia menjadi cermin.

Sebagai kader Persyarikatan, kita sering berbicara tentang Islam Berkemajuan. Tetapi kemajuan yang sejati tidak mungkin lahir dari keterputusan dengan wahyu. Kemajuan tanpa Al-Qur’an bisa menghasilkan kecanggihan, tetapi belum tentu menghasilkan kebijaksanaan. Ia bisa melahirkan kemakmuran, tetapi belum tentu melahirkan ketenangan.

Al-Qur’an memberi kedalaman pada kemajuan. Ia memastikan bahwa modernitas tidak menggerus moralitas. Ia menjaga agar rasionalitas tidak menyingkirkan spiritualitas.

Di tengah arus informasi yang begitu deras, manusia mudah kehilangan fokus. Nilai menjadi relatif. Kebenaran menjadi opini. Dalam situasi seperti itu, kader Muhammadiyah harus memiliki jangkar yang kokoh. Dan jangkar itu adalah Al-Qur’an.

Interaksi dengan Al-Qur’an bukan hanya kebutuhan pribadi, tetapi kebutuhan gerakan. Gerakan yang tidak terus-menerus disegarkan oleh wahyu akan mudah terseret pragmatisme. Ia bisa tetap besar, tetapi kehilangan arah.

Kita perlu jujur bertanya, kapan terakhir kali kita membaca Al-Qur’an bukan untuk bahan ceramah, tetapi untuk perenungan pribadi? Kapan terakhir kali kita berhenti pada satu ayat karena merasa ia sedang berbicara langsung kepada kita?

Jika hati mulai terasa keras, mungkin ia sedang jauh dari Al-Qur’an. Jika semangat dakwah terasa kering, mungkin ruhnya perlu diisi kembali dengan wahyu. Jika perdebatan terasa lebih dominan daripada keteduhan, mungkin kita perlu kembali duduk tenang bersama firman Allah.

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang benar. Ia mengajarkan bagaimana menjadi benar. Ia membentuk karakter sebelum membentuk sistem. Ia menguatkan jiwa sebelum menguatkan struktur.

Sebagai kader Persyarikatan, kita memikul amanah sejarah. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Ia adalah gerakan tajdid. Dan tajdid bukan hanya pembaruan pemikiran, tetapi pembaruan jiwa.

Pembaharuan jiwa dimulai dari kedekatan dengan wahyu.

Bayangkan jika setiap kader menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian. Bukan hanya dibaca, tetapi direnungkan. Bukan hanya dihafal, tetapi dihidupkan. Maka keputusan-keputusan organisasi akan lebih jernih. Sikap-sikap personal akan lebih matang. Perbedaan akan disikapi dengan adab. Kritik akan disampaikan dengan hikmah.

Karena Al-Qur’an menumbuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, antara idealisme dan kebijaksanaan.

Akhirnya, interaksi dengan Al-Qur’an adalah tentang kembali kepada pusat. Di tengah kesibukan struktural dan dinamika sosial, kita perlu pusat gravitasi yang menenangkan. Al-Qur’an adalah pusat itu.

Ia mengingatkan bahwa semua jabatan akan selesai. Semua forum akan berakhir. Semua struktur bisa berubah. Tetapi hubungan kita dengan Allah adalah yang paling menentukan.

Sebagai kader Muhammadiyah, kita tidak hanya dituntut menjadi organisatoris yang rapi atau intelektual yang tajam. Kita dituntut menjadi pribadi yang tercerahkan oleh wahyu.

Dan pencerahan itu tidak datang dari luar. Ia lahir ketika kita membuka mushaf dengan hati yang rendah, membaca dengan kesadaran, dan membiarkan firman Allah membentuk kembali cara kita berpikir, bersikap, dan bergerak.

Karena pada akhirnya, kekuatan Persyarikatan bukan hanya pada amal usahanya, tetapi pada kedalaman ruh kadernya.

Dan ruh itu akan tetap hidup selama ia terhubung dengan Al-Qur’an.

Di sanalah nafas gerakan bermula.
Di sanalah kader menemukan arah.
Dan di sanalah peradaban berkemajuan menemukan cahayanya. Yuk kita mulai hari ini, di bulan penuh keberkahan ini. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search