Kemenag: Santri Bisa Jadi Polisi, TNI, atau Dokter

Kemenag: Santri Bisa Jadi Polisi, TNI, atau Dokter
www.majelistabligh.id -

Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa para santri memiliki hak dan peluang setara untuk meraih berbagai profesi strategis, mulai dari anggota Polri, prajurit TNI, hingga dokter. Pendidikan karakter dan keahlian soft skill di pesantren dinilai menjadi modal utama santri untuk bersaing di tingkat nasional sekaligus menjaga kebhinekaan.

Pesan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, saat menghadiri Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema “Bersatu dalam Doa, Bersinergi Menjaga Negeri” di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2026) malam.

“Anak-anakku semua tidak perlu berkecil hati atau rendah diri. Kalian sama dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya. Mau jadi polisi, insya Allah ada jalannya. Mau jadi tentara maupun dokter, tidak ada halangan. Mau jadi apa saja, santri pasti bisa!” ujar Basnang yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Pesantren MUI.

Basnang menjelaskan, keunggulan utama lulusan pesantren terletak pada kuatnya pembentukan karakter seperti kejujuran, kesederhanaan, dan ketangguhan mental. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting agar santri mampu bertahan dan beradaptasi dalam pelbagai situasi dunia kerja.

Selain menempa mentalitas tangguh, pesantren dipandang sebagai benteng pertahanan kebhinekaan. Lingkungan pondok yang mempertemukan para santri dari pelbagai penjuru daerah secara alami menanamkan sikap toleransi sejak dini.

“Di pesantren, kita tidak pernah mempermasalahkan perbedaan warna kulit, latar belakang, maupun daerah asal. Bagi santri, perbedaan adalah hal yang lumrah. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Nusantara harus terus kita jaga dan pertahankan,” tegasnya.

Peluncuran Program ‘Pesantren Aman’

Sebagai langkah konkret melindungi para santri, dalam kesempatan tersebut Kemenag bersama MUI resmi meluncurkan Program Pesantren Aman (Himayatuth Thullab bil Ma’ahid al-Islamiyyah). Program ini dirancang untuk menjamin lingkungan pesantren yang bebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun seksual.

“Pemerintah dan MUI berkomitmen menghadirkan ruang tinggal yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita, demi menjamin masa depan mereka,” tambah Basnang.

Simbolis peluncuran dilakukan oleh Ketua Panitia Istighotsah Kebangsaan HSN MUI sekaligus Wasekjen Bidang Pesantren, KH Choirul Sholeh Rasyid, melalui penabuhan hadrah bersama para tokoh yang hadir.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Sekda DKI Jakarta Uus Kuswanto, Kabaharkam Polri Komjen Herry Heryawan, Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah KH Mahrus Iskandar, serta Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search