Kemunafikan yang Tersembunyi di Balik Penampilan

Kemunafikan yang Tersembunyi di Balik Penampilan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan
www.majelistabligh.id -

Bahwa kebersihan lahir tidak selalu mencerminkan kejernihan batin.

Makna Reflektifnya:
* Pakaian bersih bisa melambangkan citra, status, atau kepatutan yang tampak di mata manusia.
* Kemunafikan adalah penyakit hati—berpura-pura baik, padahal menyembunyikan niat buruk atau ketidakjujuran.
* Kalimat ini mengajak kita untuk tidak tertipu oleh penampilan luar, dan lebih berani menyelami kedalaman  akhlak dan niat seseorang.

Dalam konteks spiritual Islam:
* Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Ini menegaskan bahwa kebersihan hati jauh lebih utama daripada kemilau penampilan.

Kemunafikan yang tersembunyi di balik penampilan bukan sekadar soal kepalsuan, tapi tentang ketidaksesuaian antara zhahir dan batin, antara citra yang ditampilkan dan realitas hati yang dijalani.

Dimensi Kemunafikan Tersembunyi
1. Spiritual dan Etis
* Dalam Islam, kemunafikan terbagi dua: nifaq i’tiqadi (keyakinan) dan nifaq ‘amali (perbuatan).
* Nifaq i’tiqadi sangat berbahaya karena menyembunyikan kekufuran di balik klaim keimanan.
* Nifaq ‘amali lebih halus: seseorang tampak saleh di depan umum, tetapi perilakunya bertentangan saat tak terlihat.

2. Psikologis dan Sosial
* Menurut psikolog sosial, kemunafikan sering muncul karena tekanan sosial untuk diterima atau menghindari     konflik.
* Individu bisa menciptakan citra positif demi reputasi, meski bertentangan dengan kepribadian sejatinya.
* Ini bisa merusak kepercayaan dalam hubungan dan menciptakan budaya ketidakpastian di organisasi.

Jalan Keluar: Kejujuran dan Keberanian
* Carl Rogers menyarankan pendekatan empatik dan keterbukaan untuk membangun keaslian.
* Dalam Islam, kejujuran adalah fondasi iman. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tanda munafik adalah: berdusta, ingkar janji, dan khianat amanah.

Penjelasan Al-Qur’an tentang kemunafikan yang tersembunyi di balik penampilan sangat mendalam dan tajam, Ia bukan hanya mengungkap perilaku, tapi juga membongkar motif hati yang bertentangan dengan citra luar. Ini sangat relevan dengan perjuangan dalam membangun kejujuran, spiritualitas, dan kepemimpinan yang otentik.

Ayat-ayat kunci tentang kemunafikan tersembunyi:
1. QS. Al.Baqoroh: 8-9
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ
Atinya:
8. Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang mukmin.
9. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Ini menunjukkan perbedaan antara ucapan dan keyakinan hati.

2. QS. Al-Baqoroh: 204-206
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya:
204. Di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia adalah penentang yang paling keras.
205. Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.
206. Apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongan yang menyebabkan dia berbuat dosa (lebih banyak lagi). Maka, cukuplah (balasan) baginya (neraka) Jahanam. Sungguh (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal.

Ada orang yang ucapannya memukau, bahkan bersumpah atas nama Allah, tapi tindakannya merusak bumi dan menolak nasihat dengan kesombongan.

3. QS. Al-Ma’un: 2-7
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ
Artinya:
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim
3. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.
4. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,
5. (yaitu) yang lalai terhadap salatnya,
6. yang berbuat riya,
7. dan enggan (memberi) bantuan.

Mereka tampak religius, tapi tidak peduli pada anak yatim, enggan memberi makan orang miskin, lalai dalam shalat, dan beribadah hanya untuk pamer (riya).

Ciri-Ciri Munafik Menurut Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanah, ia khianat.” (HR. Muslim)

Bahkan disebutkan bahwa tanda-tanda ini tetap berlaku meski seseorang mengaku muslim, rajin shalat dan puasa. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search