Kenapa Ali Bin Abi Tholib Tidak Mampu Mengangkat Jenazah Istrinya?

Kenapa Ali Bin Abi Tholib Tidak Mampu Mengangkat Jenazah Istrinya?
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan.
www.majelistabligh.id -

Di balik ketegasan dan keberaniannya di medan perang, Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sosok suami yang sangat lembut dan penuh cinta. Beliau yang dijuluki Asadullah (Singa Allah) – sosok penakluk Benteng Khaibar yang begitu perkasa – pernah berada dalam momen paling rapuh dalam hidupnya: hari wafatnya sang istri tercinta, Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha.

Dikisahkan dalam berbagai riwayat riwayat sirah, ketika Fatimah az-Zahra wafat, Ali mengalami duka yang sangat mendalam. Saat hendak mengangkat jenazah kekasih hatinya untuk dimakamkan di malam hari secara sembunyi-sembunyi sesuai wasiat Fatimah, tubuh Ali bergetar hebat. Langkahnya terasa sangat berat, hingga seolah-olah kekuatan fisik sang Singa Allah sirna begitu saja.

Bukan karena fisiknya yang melemah secara biologis, melainkan karena beban duka dan cinta yang sedemikian besar di dalam dadanya.

1. Cinta Utuh yang Hilang dalam Sekejap

Fatimah bukan sekadar istri bagi Ali; ia adalah putri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, belahan jiwa Sang Nabi yang menjadi pengobat rindu Ali setelah wafatnya Rasulullah. Wafatnya Fatimah, yang hanya berselang beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah, seolah melipatgandakan duka yang ditanggung Ali. Mengangkat jenazah Fatimah berarti melepaskan sisa peninggalan Rasulullah yang paling mahal dalam hidupnya.

2. Ketegaran Seorang Suami Ada Batasnya

Kisah ini memberikan pelajaran dakwah yang begitu indah tentang sisi kemanusiaan sahabat Nabi. Agama Islam tidak menuntut seorang mukmin untuk menjadi seperti batu yang tanpa rasa sakit. Menangis, merasa lemah, dan bersedih karena kehilangan orang terkasih adalah sunnatullah dan bukti kelembutan hati.

Ali pernah meratapi kepergian Fatimah di samping makamnya dengan bait syair yang menyentuh hati:
“Setiap perpisahan dari dua orang yang saling mencintai pasti ada akhirnya, dan setiap musibah setelah perpisahan terasa ringan… Hilangnya Fatimah setelah wafatnya (Rasulullah) adalah bukti bahwa tidak ada persahabatan yang abadi di dunia ini.”

Hikmah untuk Kita Hari Ini

Kisah ketidakmampuan Ali mengangkat jenazah Fatimah mengajarkan kita beberapa hal mendasar dalam rumah tangga dan keimanan:

• Mencintai Karena Allah: Cinta Ali dan Fatimah adalah teladan terbaik. Cinta yang didasari ketakwaan akan menyisakan jejak kasih sayang yang begitu mendalam.

• Memuliakan Pasangan: Suami terbaik bukanlah yang paling dominan atau bersikap keras, melainkan yang paling lembut dan mampu memberikan perlindungan serta rasa aman bagi istrinya.

• Menerima Takdir dengan Ridha: Meski hatinya hancur dan tubuhnya lemah karena duka, Ali tetap melangkah menyelesaikan pemakaman dan melanjutkan amanah dakwah Islam.

Beban terberat di dunia ini bukanlah bobot benda yang kita angkat dengan tangan, melainkan bobot duka yang harus kita pikul di dalam hati. Dari kisah Ali, kita belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis, melainkan tetap berjalan menaati Allah meski hati sedang terluka. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search